Senin, 02 Januari 2012

Bag. 3 BIMBINGAN MENGAJAR BAHASA INGGRIS

Pada bagian pertama kita sudah membahas mengenai pokok pengajaran bahasa Inggris dan kompetensi berbahasa yang umum dimiliki oleh native speaker. Pada bagian kedua, pembelajaran dan pengajaran mengenai pronunciation mendapat sorotan secara singkat. Pada bagian ketiga ini, penulis akan mendiskusikan hal-hal lain yang perlu diajarkan kepada murid, pelajar, siswa dan mahasiswa serta masyarakat pembelajar umum.


Vocabulary

Warga belajar perlu diajari kosa kata dan dikembangkan terus perbendaharaannya. Bagian ini selalu saja menjadi perdebatan sengit, terutama mengenai yang mana dulu harus diajarkan atau perlu mendapat prioritas utama. Walau demikian semua ahli sepakat bahwa yang pertama adalah kosa-kata yang paling sering digunakan oleh penutur asli. Michael West pernah membuat daftar kata itu dalam karyanya yang terkenal ‘General Service List’ yang jumlahnya lebih kurang 2000 kata. Ada juga vocabulary list yang diterbitkan oleh University of Cambridge, terutama yang berkaitan dengan persiapan ujiannya.

Penulis memiliki pandangan pelengkap mengenai pembelajaran kosa-kata bagi rekan se bangsa kita. Pada dasarnya bangsa kita sudah banyak mengenal kata dan ungkapan bahasa Inggris. Hanya saja keterampilan ini terhalang oleh kendala mental yang bahagian besarnya diakibatkan oleh pengalaman belajar masa lalu. Kendala mental ini perlu dirobohkan terlebih dahulu dan menggantinya dengan kegiatan pembelajaran yang membangkitkan dan memupuk rasa pecaya diri. Oleh karena itulah hypnocative series penulis ciptakan, yaitu metode dan teknik yang memanfaatkan technology hypnosis dan NLP (Neuro-Linguistic Programming) dalam pembelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Inggris.

Pengajaran dengan hypnocative series sudah divalidasi berkali-kali dan hasilnya menjanjikan (www.hypnocativespeech.com). Sayangnya kemudian malah hypnosisnya yang leibh ditonjolkan tinimbang pemanfaatannya untuk pembelajaran bahasa asing. MuJika ingin mempelajari hypnosis lebih mendalam ya sebaiknya di IBH saja. Mudah-mudahan cepat disadari oleh para trainer yang kadung mengatasnamakan pelatihan hypnocative dan dikembalikan ke konsep awalnya, sehingga bisa dimanfaatkan oleh bangsa ini sebagai terobosan dalam pembelajaran bahasa asing.

Mau tidak mau, penulis memperbaiki dan mengganti hypnocative dengan hypnoticulative yang bertujuan mendidik pembelajar bahasa asing menjadi pengguna bahasa yang artikulatif.  Dalam HYPNOTICULATIVE, hypnosis yang dimanfaatkan dan dipupuk dalam diri pembelajar adalah covert hypnosis yang dikawinkan dengan ilmu komunikasi plus natural language acquisition.

Seperti sudah dikatakan di atas bahwa bangsa kita banyak mengenal kata-kata bahasa Inggris. Dengan demikian ada baiknya teman-teman guru tidak putus-putusnya memberi motivasi bahwa bahasa Inggris sebenarnya sudah tertanam dalam benak mereka. Pembelajaran cognates (kosa kata yang mirip atau serupa dalam bahasa Inggris dan bahasa ibu para siswa) akan sangat membantu bila dimunculkan pada awal-awal tatap muka. Yang perlu mendapat perhatian adalah pengucapan dan tulisannya (spelling) serta latihan menggunakan kata-kata atau ungkapan tersebut dalam beragam konteks.

Contoh kata-kata bahasa Indonesia yang memiliki kemiripan dengan bahasa Inggris.


Telefon
telephone
teve / tv
television / tv
Komputer
computer
Pensil
pencil
Gelas
glass
Buku
book
credit card
credit card
Atm
atm
Bank
bank
Dokter
doctor
Informasi
information
resep masakan
recipe
bed cover
bed cover
bola voli
volley ball
Telekomunikasi
telecommunication
Bisnis
business
Seluler
cellular
Satelit
satellite
Antene
antenna
Manajemen
management
Marketing
marketing
vas bunga
vase
Listrik
electricity
Mesin
machine
Mekanik
mechanic
Laptop
laptop
Gitar
guitar
Gitaris
guitarist
Vokalis
vocalist
Drum
drum
Atletik
athletic
Atlit
athlete
Aktor
actor
Aktris
actress
Artis
artist
Presiden
president
Profesional
professional
Profesor
professor
Sekertaris
secretary
Shopping
shopping
Mall
mall
Tiket
ticket
Kabel
cable
Olimpiade
olympic games
Modem
modem
Modul
module
Kelas
class
Tip
tip
Kaset
cassette
Cd
cd
Vcd
vcd
Film
film
Vitamin
vitamin
Botol
bottle
Universitas
university
Sekolah
school
Whiteboard
whiteboard
Radio
radio
Piano
piano
Video
video
Refill
refill
Artikel
article
Kamera
camera
Keyboard
keyboard
Bass
bass
Volume
volume
Kualitas
quality
Kuantitas
quantity
Total
total
Dosis
dosage
Konser
concert
Drama
drama
Komedi
comedy
Melodi
melody
Harmoni
harmony
Amplop
envelop
Target
target
es krim
ice-cream
Musik
music
Mikrofon
microphone
Parlemen
parliament
Bis
bus
Profil
profile
Fotokopi
photocopy
Kopi
copy
Kuesioner
questionnaire
Kuis
quiz
Teater
theatre
Menu
menu
Agenda
agenda
Presentasi
presentation
Argument
argument
Ekspektasi
expectation
Klien
client
Servis
service
Tubles
tubeless
Agen
agent
Proyektor
projector
Bir
beer
Wiski
whiskey
Pil
pill
Tablet
tablet
Table
table
Diagram
diagram
Paragraph
paragraph
Normal
normal
Kandidat
candidate
Moderen
modern
Simpati
sympathy
Simpatik
sympathetic
Sinis
cynical
Resepsionis
receptionist
Moneter
monetary
Krisis
crisis
Skala
scale
Program
programme
Hostes
hostess
Kalender
calendar
Nama
name
Popular
popular
Nomer
number
Pilot
pilot
mesti/musti
must
Parker
parking
Polisi
police, policeman, policewoman
Komik
comic
Zodiac
zodiac sign
Bonus
bonus
Sertifikat
certificate
Klinis
clinic
Medis
medical
Debat
debate
Dialog
dialogue
Furniture
furniture
Reuni
reunion
Komandan
commander
Kopral
corporal
Sersan
sergeant
Kapten
captain
Bom
bomb
Investigasi
investigation
Supervisor
supervisor
Supervise
supervision
Ekonomi
economy, economics
Sains
science
Rotan
rattan
Kuli
coolie
Jendral
general
Colonel
colonel
Granat
grenade
Keramik
ceramics

Silakan tambah sendiri list-nya. Dalam catatan penulis, terdapat tidak kurang dari 500 kata. Cukup besar kan?

Berikut adalah istilah dan ungkapan yang akrab di telinga bangsa kita dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran.

I love you.
Don’t forget me.
I miss you.
On the way
Happy birthday
Happy New Year
I don’t know.
Of course
Never mind
What’s your name?
Congratulations
Life style
Breaking news
Football League
Miss Universe
Miss Indonesia, dst.


Grammar

Para ahli pendidikan berpolemik mengenai pembelajaran grammar ini. Ada yang amat anti dan yang kelewatan pro. Pro dan kontra biasa terjadi dalam memandang sesuatu dan kita tidak akan ikut-ikutan berpolemik. Ada ungkapan dalam ilmu ushululfiqh ‘al khruuju min-alkhilaafi mustahabbun’ yang maksudnya keluar atau tidak ikut-ikutan berikhtilaf dianjurkan atau disukai.

Yang kita pentingkan dan utamakan adalah memfasilitasi murid-murid kita. Jadi demi mereka grammar perlu diajarkan karena pembelajar mesti mengetahui dan cakap dalam membangun forms of sentences, memahami implikasi makna atau maksud yang disampaikannya serta terampil dalam menggunakannya (use and usage).

Mari kita perhatikan contoh kalimat-kalimat berikut yang sekali pun mengandung kata-kata yang sama namun menyatakan maksud yang berbeda.

The hunter killed the tiger.
The tiger killed the hunter.

She’s been to Danau Toba (Lake Toba).
She’s gone to Danau Toba.
She went to Danau Toba.

I watch OVJ.
I’m watching OVJ.

He lives in Bandung.
He’s living with his grandma.

It’s going to rain.
Italy’s going to come second.
We’re going on holiday tomorrow.

I read a lot.
I’ve read that book.
I read that book last year.

My girlfriend is stubborn.
My girlfriend is being stubborn.

She is bored.
She is boring.


Berikut adalah pre-test dari International House, London sebelum seseorang mengikuti pelatihan guru bahasa Inggris di sana. Apa yang salah dalam kalimat-kalimat tersebut? Coba temukan dan cari tahu mengapa kira-kira pembelajar bahasa Inggris membuat kesalahan seperti itu.

“I’ve seen that film two weeks ago.”

“She’s getting up at seven o’clock every day.”

Maria  “Why don’t you join us for dinner this evening?” 
Ingrid  “I’d love to but I’ll see ‘Hamlet’ at the National Theatre.”

Maria  “What does he look like?”
Ingrid  “He looks like friendly.”

Maria  “Why don’t you give up smoking?”
Ingrid  “I can’t give up it.”


Dengan uraian ini penulis berharap teman-teman mau mulai memperhatikan pembelajaran grammar / structure yang nyata-nyata tidak bisa diremehkan. Walau demikian perlu diingat bahwa grammar hanyalah merupakan satu bagian saja yang perlu didalami. Tidak akan pernah ada orang yang trampil berbahasa Inggris hanya dengan mempelajari grammar-nya saja. Bukankah sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia sudah berpuluh-puluh tahun menekankan pembelajaran grammar saja dan gagal mencetak pengguna-pengguna bahasa Inggris yang mumpuni?


Other Elements

Keterampilan berbahasa menyiratkan kompetensi sosial. Maka Language functions dan discourse harus juga diajarkan. Speaking Skills, Listening Skills, Reading Skills, Writing Skills dan Communication Skills amat mendesak untuk diasah dalam diri warga belajar Indonesia.

Kiranya cukup sekian urain singkat mengenai unsur bahasa dan keterampilan mikro berbahasa.

Tulisan selanjutnya akan membahas mengenai guru, pendekatan, metode dan teknik mengajar bahasa Inggris. Insyaa Allah.

Jumat, 30 Desember 2011

Bag. 2 BIMBINGAN MENGAJAR BAHASA INGGRIS

Bahasa Inggris
Menilik bahasa Inggris lebih mendalam, kita akan menemukan unsur-unsur seperti berikut;

  1. Bunyi ujaran yang digunakan dalam speaking termasuk di dalamnya stress, rhythm dan intonation (phonology)
  2. Kosa-kata (lexis)
  3. Kata dasar dan kata bentukan (morphology)
  4. Kombinasi kata yang membentuk significant patterns (syntax)
  5. Kombinasi patterns seperti kalimat yang membentuk ujaran yang panjang (cohesion)
  6. Asosiasi kata dan ungkapan dengan makna atau maksud (semantics)

Di samping itu terdapat pula variasi penggunaan bahasa seperti;

  1. Dialect yang merupakan ciri kelompok sosial atau geografis tertentu
  2. Register yang umum diasosiasikan dengan fungsi atau ranah suatu profesi
  3. Collocation yang mencerminkan kecenderungan penggunaan kata atau ungkapan dengan asosiasinya. Biasanya asosiasi ini konsisten dan cukup umum sifatnya
  4. Style seperti pemanfaatan bahasa untuk memberi tekanan atau efek khusus. Adakalanya style keluar dari kaidah atau bentuk penggunaan normal


Tampak rumit dan berbau akademis ya? Tapi tidak perlu membuat kecil hati dan ciut nyali serta surut langkah. Prakteknya jauh lebih mudah tinimbang teorinya. Saya yakin teman-teman baik secara sadar atau tidak sudah mempraktekkannya.


Siswa atau pembelajar Indonesia perlu diajari dan dilatih dalam hal:

  • Pronunciation (the English sounds, stress, rhythm and intonation)
Pelafalan (pronunciation) merupakan salah satu soko guru (pokok) dalam bahasa mana pun, tentunya termasuk bahasa Inggris. Oleh karena itu, mempelajarinya merupakan suatu keharusan jika ingin memahami bahasa lisan serta memupuk keterampilan berbicara.

Mari kita perhatikan contoh-contoh berikut.

BUNYI

Kata-kata berikut semuanya mengandung huruf ‘a’, tetapi mengucapkannya amat berlain-lainan.
cat, car, talk, said, pale

d / ed dalam regular verbs ada yang diucapkan dengan bunyi ‘t’, ‘d’, dan ‘id’, contoh: liked, loved, ended

s / es dalam regular plural dan simple present orang ketiga ada yang diucapkan dengan bunyi ‘s’, ‘z’, dan ‘iz’, contoh: books, beds, houses, works, lives, brushes

‘th’ dalam kata this, that, tooth juga bebeda pengucapannya

‘s’ dalam kata sea, sugar, pleasure diucapkan belainan

‘c’ dalam kata cat, comic, cell, certainly juga tidak sama

‘oo’ dalam kata foot, soon, door, blood berlainan pula pengucapannya

dan banyak lagi contoh yang bisa dihadirkan, bahkan ada huruf yang ditulis tetapi tidak pernah diucapkan, seperti doubt, debt, hour, dst.

Jika tidak diajari atau mempelajari dengan sungguh-sungguh, pembelajar tidak akan pernah mampu mengucapkan dengan benar. Pengajarannya tidak bisa tidak hanya dengan melalui listening, kecuali jika sudah mahir membaca lambang phonetic. Maka mulai dari saat ini teman-teman guru sepatutnya berlatih pelafalan ini dengan benar sebelum mengajarkannya kepada murid-murid.

STRESS

Bagaimana dengan stress?

Ada kata-kata yang beralih ‘stress’nya dalam kata turunan, contohnya;
eCOnomy – ecoNOmics, eCOnomize boleh juga ditulis ‘economise’
PHOtograph, phoTOgraphy
MUsic, muSIcian

Terdapat pula kata-kata tertentu yang sama bentuknya tetapi maknanya berubah jika stress-nya dialihkan, contoh;
OBject dan obJECT, EXport dan exPORT

Kita mengenal juga ‘significant stress’ dalam kalimat yang sama namun menyatakan maksud yang sama sekali berlain-lainan lantaran tekanannya dipindahkan, contoh;

I don’t teach Spanish.
I DON’T teach Spanish.
I don’t TEACH Spanish.
I don’t teach SPANISH.

A:         Hullo, mate. How ARE you?
B:         Hi, I’m good. How are YOU?

RHYTHM

Bahasa Inggris terkenal dengan aneka rhythm-nya, karenanya kata yang dianggap ‘tidak penting’ sering terdengan seperti ditelan mentah-mentah oleh native speaker!

Umpamanya pola rhythm ‘di DA di di di’

A long time ago
I’ve written to them.
I gave it to her.
We had to do it.
A beautiful one


Pola rhythm ‘DA di di di di DA’

Show him up to his room.
Throw it into the fire.
That’s to be left alone.
Why did you run away.


INTONATION

Lagu kalimat ini bermacam-macam. Nadanya atau pitch-nya bisa naik, turun dan makna yang dibawanya bisa beraneka ragam.

Do you like apples? (umumnya diucapkan dengan pitch naik)
Where do you come from? (umumnya diucapkan dengan pitch menurun)

‘Sorry’ jika diucapkan menurun menjadi permohonan maaf, tetapi jika diucapkan naik jadi meminta pengulangan.

‘excuse me’ bisa berarti permisi, bisa berarti marah, bisa meminta pengulangan, malah bisa juga menantang dan menyatakan ketersinggungan. Tergantung cara mengucapkannya.

‘Peter’ mengucapkan nama bisa bernada memanggil biasa, bertanya-tanya atau keheranana, mengancam, juga putus asa.

Intonasi naik dan turun dalam question tag bisa berarti meminta konfirmasi dan bisa juga sekedar bumbu agar percakapan berlanjut terus.

Demikian bahasan singkat mengenai pronunciation. Mudah-mudahan menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri khususnya dan bagi rekan-rekan guru dan calon guru bahasa Inggris.

Penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di negara kita adalah hampanya pembelajaran dan pengajaran mengenai pronunciation ini. Kita tentunya tidak ingin mengulang kegagalan yang sama. Maka ajarkanlah pronunciation.

Kamis, 29 Desember 2011

BIMBINGAN MENGAJAR BAHASA INGGRIS UNTUK GURU PEMULA

Kertas kerja IAS Siregar


Banyak orang yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris berminat terjun ke dunia pengajaran. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan karena dengan demikian tenaga kependidikan menjadi semakin banyak dan kekurangan akan tenaga guru serta dosen sedikit demi sedikit dapat tertutupi. Namun terdapat hal-hal gompal yang menyesakkan dada, di antaranya adalah kenyataan bahwa mereka kurang terlatih sebagai pengajar. Yang berbakat mengajar memang terlihat cukup mampu menjalankan fungsinya. Tetapi sisanya yang lebih banyak sering kedapatan tertatih-tatih dan terseok-seok dalam menangani kelas.

Untuk mengajar bahasa Inggris dengan baik tidaklah cukup hanya bermodalkan keterampilan berbahasa itu saja. Ada keterampilan lain yang menuntut, yaitu ilmu mengajarkannya yang biasa dikenal dengan applied linguistics. Ini berlaku pula untuk native speaker. Tanpa mengenal disiplin ini, teaching English yang biasa dimaknai sebagai ‘enabling learners to use the language’ bisa menjelma menjadi ‘telling about English’ yang tidak akan pernah melahirkan pengguna-pengguna bahasa yang kompeten.

Mengharapkan institusi tempat kita bekerja untuk memberi pelatihan mengajar lebih sering seperti burung punguk merindukan bulan. Sedikit sekali lembaga yang benar-benar perduli dengan pre-service dan in-service training bagi pegawainya. Dalam kegiatan perekrutan, umpamanya, calon guru hanya cukup diwawancarai, menjalani TOEFL yang materinya banyak menyebar di pasaran lalu diminta teaching demo. Bagi yang beruntung pernah mempelajari buku yang sama, tentu nilai TOEFL-nya bisa tinggi. Sekiranya secara subyektif sang calon dianggap oke, ia langsung diterjunbebaskan menangani kelas. Maka tidaklah mengherankan jika cara mengajarnya begitu-begitu saja dari tahun ke tahun, alias mengulang pengalaman yang sama dari waktu ke waktu. Mandeg, seperti robot yang diprogram.

Lucunya dalam keadaan seperti itu pun, banyak lembaga kursus yang berani menggembar-gemborkan guru-gurunya berpengalaman. Jika pengalaman yang dimaksudkannya seperti di atas, sebaiknya dipaparkan dengan jujur, tidak usah membohongi masyarakat pengguna jasa dengan jargon murahan.

Di lapangan banyak sekali ditemukan, guru bahasa Inggris yang nilai TOEFL-nya masih di bawah 500, mengajar kelas intermediate, upper-intermediate dan bahkan advanced. Ironi sekali, masakan warga belajar yang tingkat kompetensinya lebih tinggi diajar oleh guru yang berkemampuan di bawahnya?

Guru bahasa Inggris yang benar-benar sadar akan pengembangan diri dan karirnya jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Umumnya mereka mencari-cari bahan dan menempa diri sendiri sekuat tenaga, memungut teknik dan metode mengajar secara acak dari sana-sini tanpa mengetahui latar belakang filosofisnya. Kadang mereka berhasil, ada kalanya gagal juga. Teman sejawatnya tak kurang yang makin linglung, tidak tahu harus mencari kemana dan berbuat apa (menjadi pengikut setia Ayu Tingting).

Berangkat dari keprihatinan ini, penulis sajikan seri bimbingan mengajar bahasa Inggris bagi guru pemula. Mudah-mudahan dapat mencerahkan dan mempermudah tugas-tugas mengajar. Tulisan ini dapat juga dimanfaatkan oleh orang tua yang ingin mengajar anak-anak mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah. Dan tentu saja guru-guru berpengalaman boleh juga mengkajinya untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

Sebelumnya penulis memohon maaf karena seri ini menggunakan bahasa yang campur aduk antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Ilmu Mengajar Bahasa Inggris
Berbicara mengenai program pembelajaran bahasa Inggris, ada tiga hal pokok yang sama sekali tidak boleh dilewatkan, yaitu:

  1. bahasa Inggris itu sendiri, sedikitnya mengenai sounds, forms dan structure; mahir dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris tidaklah selalu menyiratkan cakap pula dalam hal menganalisa dan menyajikannya bagi warga belajar. Kita membutuhkan pencerahan dan bimbingan dari ahlinya.
  2. tantangan andragogis (mengajar orang dewasa) dan pedagogis agar pembelajar bisa mempelajari bahasa ini dengan efektif dan efisien;
  3. tujuan pembelajaran; apa yang pembelajar inginkan dengan mempelajari bahasa Inggris ini, terutama mengenai skill yang mesti mendapat tekanan atau prioritas serta ranah bahasa yang dibutuhkannya.


Refleksi Sebagai Native Speaker
Sebagai penutur asli bahasa Indonesia (bagi mayoritas bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua, second language) kita;

  1. bisa dengan tepat mengucapakan perbedaan ‘e’ dalam kata-kata ember dan pekerjaan (e ‘pepet dan taling);
  2. tidak akan pernah mengucapakan pesandang cacat, tetapi penyandang cacat yang tentu tidak sama dengan sandang pangan;
  3. bisa dengan mahir mengucapkan kata ‘apa’ dalam intonasi marah, bertanya, kaget, meremehkan, menantang, dst.;
  4. memilih kata sebutir untuk telur atau kelereng, seekor untuk hewan dan tidak akan pernah menggunakan seorang untuk surat, tetapi sepucuk surat;
  5. membedakan maksud ungkapan idiomatic ‘rendah hati dan rendah diri’;
  6. sekalipun kalimat ‘mari kita bekerja sekeras-kerasnya’ benar secara bahasa, cukup mengatakan ‘mari kita bekerja keras’;
  7. mampu menggunakan kata-kata turunan dalam contoh berikut: “Telah (jadi) (bakar) di pasar Tanah Abang yang (hangus) (ratus) rumah (duduk)”.

Pengetahuan dan kecakapan serupa tentu saja dimiliki oleh native speaker bahasa Inggris.

Bagian ke-5 KIAT-KIAT MUJARRAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING

Prinsip Kelima:
DAPATKAN BIMBINGAN ATAU IKUTI LANGUAGE GYM/CLUB

Riset mutakhir menyatakan bahwa orang yang hanya menyerap bahasa lisan tanpa dukungan pembelajaran yang memadai akan lebih cepat dan lebih mudah menderita fosilisasi. Kegiatan pembelajaran tidak mesti di ruang kelas atau hanya dengan mengikuti kursus/les saja. Bimbingan dapat diperoleh dari buku-buku self-study, online learning di internet atau langsung dari seseorang yang lebih mengerti mengenai bahasa yang sedang kita pelajari.

Mengenai buku-buku self-study dan online learning di internet dapat pembaca cari sendiri. Yang ingin penulis jelaskan dalam bagian ini adalah cara-cara menilik dan menilai kemudian memilih orang yang layak menjadi pembimbing dalam mempelajari bahasa, terutama yang mengelola klub atau forum kebahasaan, semacam conversational leader atau captain dalam forum debat dan diskusi.

Kriteria paling minimal yang bisa ditunjukkan oleh conversational leader (termasuk guru atau trainer, baik pada pendidikan formal maupun informal dan non-formal) adalah sebagai berikut:

  • Menunjukkan pemahaman yang utuh saat mendengarkan penutur asli (native speaker) berbicara mengenai tema yang sifatnya umum (tema keseharian) dengan menggunakan ragam bahasa yang baku atau standar (seperti yang digunakan kaum terpelajar). Percakapannya bisa didengar secara langsung atau melalui rekaman kaset, cd, video dan perangkat audio-visual lainnya.
  • Mampu secara spontan mengungkapkan buah pikiran dan perasaannya dalam bahasa asing bersangkutan dengan pengucapan dan pelafalan yang dapat difahami oleh penutur asli serta tidak akan menimbulkan kesalahfahaman. Ungkapan dan kosakata yang dipergunakannya bersifat idiomatis (bukan terjemahan kata per kata dari bahasa ibu ke bahasa asing: seperti ‘it’s already night’ (ini sudah larut malam) atau ‘My body is not delicious’ (saya tidak enak badan). Lebih baik lagi jika pengucapannya (intonasi, ritme, penekanan, dan pelafalah) mendekati penutur asli. Ia mampu melakukan monolog secara berkesinambungan selama paling tidak 2 menit (seperti menuturkan cerita atau menjelaskan sesuatu umpamanya)
  • Mampu secara langsung dan utuh memahami bahasa tulis non-teknis tanpa menterjemahkan terlebih dahulu, kecuali hanya beberapa kata saja yang tidak umum digunakan.
  • Mampu menulis kalimat efektif serta membentuk paragraf pendek dalam bahasa asing bersangkutan dengan sistematika menurut tata tulis bahasa tersebut, seperti menulis surat pribadi atau menuliskan pengalaman dan pelukisan sederhana.
  • Menguasai pengetahuan terapan yang memadai mengenai tata bunyi dan tata bahasa dari bahasa asing dimaksud.
  • Sedikit banyak mengenal kultur, tradisi serta budaya penutur bahasa asing dimaksud.

Jika sebuah klub atau forum bahasa dipandu oleh orang berkemampuan seperti itu, pembaca bisa dengan aman bergabung dalam klub tersebut untuk mempraktekkan dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing yang diinginkan.

Untuk menutup uraian mengenai kiat-kiat mujarab ini, penulis ingin mengingatkan pembaca dengan beberapa kalimat bijak.

  • Where there is a will, there is a way. (Dimana ada kemauan, disitu ada jalan)
  • Man jadda wajada. (Siapa yang bersungguh-sungguh mencari, pasti dia akan menemukan)
  • You can if you think you can. (Jika yakin mampu melakukan, pastilah Anda bisa)
  • Kesabaran itu seperti buah shabir yang pahit getir, namun hasil yang didapat terasa lebih manis dibandingkan dengan madu sekali pun.