Kertas kerja IAS Siregar
Banyak orang yang memiliki kemampuan berbahasa
Inggris berminat terjun ke dunia pengajaran. Hal ini tentu saja sangat
menggembirakan karena dengan demikian tenaga kependidikan menjadi semakin
banyak dan kekurangan akan tenaga guru serta dosen sedikit demi sedikit dapat
tertutupi. Namun terdapat hal-hal gompal yang menyesakkan dada, di antaranya
adalah kenyataan bahwa mereka kurang terlatih sebagai pengajar. Yang berbakat
mengajar memang terlihat cukup mampu menjalankan fungsinya. Tetapi sisanya yang
lebih banyak sering kedapatan tertatih-tatih dan terseok-seok dalam menangani
kelas.
Untuk mengajar bahasa Inggris dengan baik
tidaklah cukup hanya bermodalkan keterampilan berbahasa itu saja. Ada keterampilan
lain yang menuntut, yaitu ilmu mengajarkannya yang biasa dikenal dengan applied
linguistics. Ini berlaku pula untuk native speaker. Tanpa mengenal disiplin
ini, teaching English yang biasa dimaknai sebagai ‘enabling learners to use the
language’ bisa menjelma menjadi ‘telling about English’ yang tidak akan pernah
melahirkan pengguna-pengguna bahasa yang kompeten.
Mengharapkan institusi tempat kita bekerja
untuk memberi pelatihan mengajar lebih sering seperti burung punguk merindukan
bulan. Sedikit sekali lembaga yang benar-benar perduli dengan pre-service dan
in-service training bagi pegawainya. Dalam kegiatan perekrutan, umpamanya,
calon guru hanya cukup diwawancarai, menjalani TOEFL yang materinya banyak
menyebar di pasaran lalu diminta teaching demo. Bagi yang beruntung pernah
mempelajari buku yang sama, tentu nilai TOEFL-nya bisa tinggi. Sekiranya secara
subyektif sang calon dianggap oke, ia langsung diterjunbebaskan menangani
kelas. Maka tidaklah mengherankan jika cara mengajarnya begitu-begitu saja dari
tahun ke tahun, alias mengulang pengalaman yang sama dari waktu ke waktu.
Mandeg, seperti robot yang diprogram.
Lucunya dalam keadaan seperti itu pun,
banyak lembaga kursus yang berani menggembar-gemborkan guru-gurunya berpengalaman.
Jika pengalaman yang dimaksudkannya seperti di atas, sebaiknya dipaparkan
dengan jujur, tidak usah membohongi masyarakat pengguna jasa dengan jargon
murahan.
Di lapangan banyak sekali ditemukan, guru
bahasa Inggris yang nilai TOEFL-nya masih di bawah 500, mengajar kelas
intermediate, upper-intermediate dan bahkan advanced. Ironi sekali, masakan
warga belajar yang tingkat kompetensinya lebih tinggi diajar oleh guru yang
berkemampuan di bawahnya?
Guru bahasa Inggris yang benar-benar sadar
akan pengembangan diri dan karirnya jumlahnya dapat dihitung dengan jari.
Umumnya mereka mencari-cari bahan dan menempa diri sendiri sekuat tenaga,
memungut teknik dan metode mengajar secara acak dari sana-sini tanpa mengetahui
latar belakang filosofisnya. Kadang mereka berhasil, ada kalanya gagal juga.
Teman sejawatnya tak kurang yang makin linglung, tidak tahu harus mencari
kemana dan berbuat apa (menjadi pengikut setia Ayu Tingting).
Berangkat dari keprihatinan ini, penulis
sajikan seri bimbingan mengajar bahasa Inggris bagi guru pemula. Mudah-mudahan
dapat mencerahkan dan mempermudah tugas-tugas mengajar. Tulisan ini dapat juga
dimanfaatkan oleh orang tua yang ingin mengajar anak-anak mereka berkomunikasi dalam
bahasa Inggris di rumah. Dan tentu saja guru-guru berpengalaman boleh juga
mengkajinya untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan keterampilan yang
dimiliki.
Sebelumnya penulis memohon maaf karena seri
ini menggunakan bahasa yang campur aduk antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Ilmu Mengajar Bahasa Inggris
Berbicara mengenai program pembelajaran
bahasa Inggris, ada tiga hal pokok yang sama sekali tidak boleh dilewatkan,
yaitu:
- bahasa Inggris itu sendiri, sedikitnya mengenai sounds, forms dan structure; mahir dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris tidaklah selalu menyiratkan cakap pula dalam hal menganalisa dan menyajikannya bagi warga belajar. Kita membutuhkan pencerahan dan bimbingan dari ahlinya.
- tantangan andragogis (mengajar orang dewasa) dan pedagogis agar pembelajar bisa mempelajari bahasa ini dengan efektif dan efisien;
- tujuan pembelajaran; apa yang pembelajar inginkan dengan mempelajari bahasa Inggris ini, terutama mengenai skill yang mesti mendapat tekanan atau prioritas serta ranah bahasa yang dibutuhkannya.
Refleksi Sebagai Native Speaker
Sebagai penutur asli bahasa Indonesia (bagi
mayoritas bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua, second language) kita;
- bisa dengan tepat mengucapakan perbedaan ‘e’ dalam kata-kata ember dan pekerjaan (e ‘pepet dan taling);
- tidak akan pernah mengucapakan pesandang cacat, tetapi penyandang cacat yang tentu tidak sama dengan sandang pangan;
- bisa dengan mahir mengucapkan kata ‘apa’ dalam intonasi marah, bertanya, kaget, meremehkan, menantang, dst.;
- memilih kata sebutir untuk telur atau kelereng, seekor untuk hewan dan tidak akan pernah menggunakan seorang untuk surat, tetapi sepucuk surat;
- membedakan maksud ungkapan idiomatic ‘rendah hati dan rendah diri’;
- sekalipun kalimat ‘mari kita bekerja sekeras-kerasnya’ benar secara bahasa, cukup mengatakan ‘mari kita bekerja keras’;
- mampu menggunakan kata-kata turunan dalam contoh berikut: “Telah (jadi) (bakar) di pasar Tanah Abang yang (hangus) (ratus) rumah (duduk)”.
Pengetahuan dan kecakapan serupa tentu saja
dimiliki oleh native speaker bahasa Inggris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar