Jumat, 23 September 2011

Pensiun Profesor Suad

Pada suatu hari kerja di minggu pertama bulan Desember, Profesor Doktor Ing. Suad Msc. meneliti dinding ruang kerja pribadinya yang dihiasi berbagai jenis piagam penghargaan dan foto dirinya bersama orang-orang penting, dari mulai para pejabat negara hingga presiden.  Pandangannya kemudian dialihkan ke lemari kaca yang dipenuhi beragam piala kelas satu dari mulai mulai kalpataru, bintang maha putra sampai hadiah nobel.  Ia tertawa-tawa sendirian, lalu berdiri di depan cermin gantung di sebelah lemari. Lama ia mengamati-amati bayangan dirinya di cermin.  Ditepuk-tepuki dadanya dengan telapak tangan kanan sambil memuji-muji diri dalam hati; ‘Aku memang luar biasa brilian dan tidak ada duanya.  Walau rambut sudah memutih semua, tapi masih kelihatan gagah perkasa.  Buktinya belum ada wanita yang menolak diajak kencan.  Ha..ha..ha, aku memang istimewa.’
Profesor itu tambah keras tertawa lepas; tambah kencang menepuk-nepuki dada hingga terbatuk-batuk.  Anehnya malah ia semakin bersemangat lagi terbahak-bahak hingga menggetarkan kaca lemari piala.
‘Ah, aku berhasil menjadi orang.  Temuan-temuanku sangat istimewa dan menyodorkan kekayaan beruntutan yang tak putus-putusnya mengalir.  Rumah tinggal pribadi sudah seperti istana.  Aku punya laboratorium sendiri. Uangku di bank melimpah.  Deposito?  Bunga bulanannya saja mengalahkan gaji bupati bahkan gubernur sekalipun.  Belum lagi saham di beberapa perusahaan raksasa.  Tak akan habis dihamburkan tujuh turunan.’  “Eh..turunan?” Lelaki tua itu menyuarakan kembali kata terakhir setengah berteriak.
Profesor Suad berhenti membanggakan diri di depan cermin ketika sampai pada kata turunan,  seperti mobil direm mendadak saat melaju kencang.  Tawa lepasnya menderit seperti suara ban; dadanya sesak dan sakit.   Lelaki tua yang masih merasa gagah itu kemudian menghempaskan diri di kursi, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa lunglai. Segera ia keluarkan foto keluarga ukuran kecil dari dompetnya.
Hanya ada gambar tiga orang diatas kertas foto yang digenggamnya; dia sendiri, almarhum istrinya serta anak lelaki satu-satunya yang telah hijrah ke Amerika sejak belasan tahun lalu dan tinggal di apartmen mewah milik sendiri.
Terkenanglah ia akan anak lelaki satu-satunya yang terus mengobarkan api permusuhan antara mereka berdua.  Perseteruan dimulai dengan lontaran celaan terhadap sang ayah yang dinilai lebih mencintai ilmu kimia, sementara keluarga selalu dinomor belakangkan.  Nyonya Suad kemudian menderita tekanan jiwa karena merasa tidak lagi disayang suami.  Penderitaannya kian parah ketika dia memergoki sang profesor kenamaan itu sedang bermesraan di ruang laboratorium dengan asistennya yang bertubuh sintal.  Kali lain sang profesor juga ketahuan sedang main gila dengan mahasiswi bahenol fakultas kedokteran yang sedang melaksanakan KKN ditempat kerjanya.
Mulanya Nyonya Suad tutup mulut, demi menjaga nama baik suami dan keluarganya.  Namun akhirnya sang istri merasa tidak tahan lagi dan bunuh diri dengan cara mereguk racun hasil ramuan suaminya sendiri.  Kematiannya begitu tragis.  Sejak saat itulah Suad junior memberi ayahnya label “pembunuh berdarah dingin” dan lebih memilih pergi dari rumah untuk berhijrah ke negeri paman Sam.
Profesor Suad tidak mau begitu saja disalahkan atas kematian istrinya.  Ia punya alasan bantahan:
‘Dia yang salah.  Kenapa selalu sibuk melulu arisan disana-sini sampai  ke luar kota segala dengan ibu-ibu pejabat dan para istri konglomerat.  Tak pernah lagi mengurusi suami, apalagi memberi kehangatan.  Tubuhnya malah dibiarkan membengkak tak terurus bahkan kulitnya tega dibiarkan keriput semua.  Bagaimana aku akan tertarik?  Padahal aku masih gagah.’
Sepeninggal anaknya, Profesor Suad tinggal sendirian. Selang beberapa tahun kemudian ia pindah dari rumah lama ke istana barunya kini.  Yang tetap setia menemaninya hingga saat ini hanyalah seorang pembantu baru, janda kembang dari kampung yang belakangan rela ditiduri sang ilmuwan dengan bayaran tambahan beberapa puluh ribu rupiah sekali kencan saat profesor menderita kesepian dan butuh elusan.
Ada rahasia pribadi yang tidak diketahui mendiang istri dan anaknya hingga kini.  Apabila ketegangan memuncak karena bergelut panjang dengan formula kimia yang sedang ia garap, libidonya kerap tidak terkendali.  Saat bermesraan dan mencapai puncak asmara itulah persoalan pelik yang sedang melingkupinya bertemu jawaban dan pemecahan.  Maka tak heran bila Profesor Suad selalu memperkerjakan asisten wanita untuk membantunya saat diminta saja.  Seberapa pun gaji yang mereka minta ia akan kabulkan asal mau menyediakan layanan tambahan semisal memadamkan api birahinya disaat-saat genting seperti itu.
Lamunan Profesor Suad sontak buyar saat pembantunya masuk tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi seperti kertas.  Nada suaranya gugup penuh ketakutan.
“Tuan, diluar ada beberapa orang polisi mencari tuan.”
Mendengar laporan demikian lelaki tua itu terkejut.
“Polisi...?!!”  irama kalimat tanya yang keluar dari mulutnya agak bergetar menandakan ketidak tenangan.  Namun cepat ia menguasai diri dan berusaha tersenyum kepada pembantunya.
“Ya, sudah, biar saya temui.”  Ia pun berdiri dan melangkah menuju ruang tamu.
“Selamat siang, Pak!” sapa komandan sambil berdiri dan memberi hormat ketika melihat sang profesor tiba di ruang tamu.  Dua orang polisi lain yang duduk menemani turut pula berdiri.
“Selamat siang. Silakan duduk.  Ada apa ini?”
“Bapak diminta datang ke kantor polisi sekarang juga untuk pemeriksaan.  Ini surat panggilannya,”  komandan tadi berkata dengan tegas dan berwibawa sambil menyerahkan sepucuk surat bersampul lambang kepolisian negara.
Sang profesor lansung mengambil surat itu dan membaca isinya.  Tangannya terlihat gemetaran.  Seusai membaca, matanya terlihat liar memancarkan kemarahan.
“Keluar kalian dari rumahku!  Apa kalian tidak tahu siapa aku?!”  bentak sang profesor dengan congkaknya.
Kemudian ia menjejakkan kaki meninggalkan para tamu tak diundang dan langsung menuju laboratorium pribadinya.  Ia cepat-cepat mengunci pintu ruang kerjanya tersebut.  Tak hanya itu saja, sederetan meja dan lemari ia rapatkan ke pintu agar tidak bisa dibuka dari luar.  Orang-orang berseragam polisi tadi menyusul namun tidak bisa masuk ke ruangan.  Jadi mereka hanya bisa berdiri didepan pintu meminta Profesor Suad keluar dan menyerah baik-baik.  Kalau tidak, mereka mengancam akan mendobrak pintu dan menyeretnya keluar dengan paksa.
Di halaman rumah itu para tetangga sudah berkerumun ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi.  Wajah mereka membiaskan keheranan.  Mereka tahu persis kalau yang biasanya datang bertandang kerumah ilmuwan kawakan itu orang-orang berdasi dengan mengendarai mobil mewah sekelas pengusaha kaya.  Sesekali ada juga pejabat negara bersilaturrahmi.  Lain waktu lagi yang datang adalah wartawan dan juru foto yang hendak mewawancarai.  Tapi kali ini yang menyatroni adalah sekelompok polisi, lengkap dengan mobil tahanan juga para wartawan dan juru foto. 
Dari sejak kepindahannya ke lingkungan itu sepuluh tahun yang  lalu para tetangga hanya mengetahui Profesor genius itu orang penting.  Wajahnya sering muncul di layar televisi memberikan ulasan ilmiah dalam beragam acara, terutama mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.  Belum pernah mereka dengar Profesor Suad terlibat kriminal apa pun.  Apa ia terlibat terorisme dengan kemampuan memformulasikan zat-zat kimia yang begitu dikuasainya serta turut merancang bom seperti belakangan marak diberitakan.  Begitu bisik-bisik yang keluar dari mulut para tetangga.
 “Kalian hanya orang suruhan yang buta.  Tidak melihat dulu dengan siapa kalian berhadapan.  Pimpinan kalian pun kenal baik denganku, bahkan sampai hakim agung dan menteri pertahanan pun teman-temanku,” teriak si genius dari dalam ruang laboratorium.  Suaranya demikian tinggi melengking hingga menerobos lolos ke halaman.
Mendapat perlakuan demikian abdi negara pelindung dan pelayan masyarakat itu seketika bergerak, berupaya mendobrak pintu.  Upaya tenaga tidak berhasil, salah seorang mengeluarkan pistol dan menembak bagian kunci pintu.  Kemudian mereka serempak mendorong dengan sekuat tenaga dibantu para wartawan yang menyertai.  Profesor Suad akhirnya berhasil mereka borgol, lalu dibawa keluar menuju mobil tahanan.  Yang terdengar kemudian hanyalah suara raungan sirine mobil polisi.
***
Dua minggu kemudian.
“Saudara terdakwa, Anda dengan tegas menolak didampingi seorang pengacara untuk membela saudara. Kenapa?” tanya hakim yang memimpin persidangan pada minggu terakhir bulan Desember. 
Pak hakim terkenal paling kere, namun jujur dan anti suap; santun tetapi tegas dalam masalah penegakkan keadilan dan tidak pandang bulu.
“Pak hakim, saya tidak butuh didampingi orang dungu yang tidak memahami perubahan kimia dalam tubuh manusia.  Lebih baik saya membela diri sendiri.  Mohon Pak hakim mengizinkan,”  kilah sang genius dengan segala kepongahan ilmiahnya.
“Baiklah kalau demikian.  Mari kita mulai.  Silakan saudara jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya.”
“Terima kasih.  Bapak Hakim yang mulia... Sidang yang terhormat...” Jaksa penuntut umun memulai, tingkah lakunya tampak dibuat-buat dan nada suaranya diberat-beratkan seperti berkhotbah atau berkampanye.
“Bebepa bulan yang lalu kami mendapat laporan dari seorang pemilik rumah yang secara tidak sengaja menemukan tulang belulang manusia saat tukang bangunan menggali tanah untuk pondasi perluasan rumah.  Rumah yang ditempati pemilik sekarang dibelinya dari terdakwa sebelas tahun yang lalu. Kami pun mengadakan otopsi dan kedapatan tulang yang ditemukan ternyata milik dua orang.  Yang satu perempuan berumur dua puluhan dan yang lain milik seorang bayi tujuh bulan.  Kuat dugaan bahwa perempuan ini sedang mengandung.  Hasil otopsi menujukkan bahwa korban meninggal karena minum racun.  Jenis racun mematikan yang sangat kuat.  Belakangan kami ketahui bahwa racun jenis ini diramu berdasarkan formula hasil temuan terdakwa yang merupakan hak patennya,  meskipun kemudian formulanya dibeli oleh negara tetangga untuk keperluan senjata kimia.  Kuat dugaan bahwa korban mati dibunuh lalu dipendam untuk menghilangkan jejak, karena terlihat posisi tulang tidak seperti tulang mayat yang dikuburkan secara layak. Idenntitas korban pun sudah kami ketahui.  Ia bernama Maharani yang dulu pernah bekerja kepada terdakwa sebagai asisten paruh waktu.  Menurut pengakuan terdakwa sendiri Maharani telah dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan study mengingat bakatnya yang begitu menonjol dalam bidang kimia. Hal ini kami ketahui dari surat yang dikirim terdakwa kepada keluarga korban tiga belas tahun yang lalu.  Barang bukti yang berupa surat ini akan kami perlihatkan kepada hakim.” 
Jaksa penuntut umum melangkah mendekati hakim dan menyerahkan barang bukti.  Pimpinan sidang membaca surat tersebut baris demi baris dan terlihat mengangguk-anggukan kepala.  Lalu terdakwa diminta maju untuk melihat sendiri surat itu dan ditanya kalau itu darinya.  Terdakwa mendadak terlihat pucat, tidak bisa mengelak karena ia melihat goresan tangannya sendiri di atas kertas itu.  Jaksa penuntut lalu melanjutkan.
“Dari surat tersebut kami ketahui bahwa Maharani sang korban sebenarnya tidak dikirim ke luar negeri, melainkan keluar dunia, alias ke akhirat.  Karena jasad korban, berdasarkan hasil otopsi lagi, telah terpendam selama hampir tiga belas tahun.”
Para hadirin yang menyaksikan sidang mengeluarkan suara riuh rendah demi mendengar penuturan jaksa penuntut umum.  Terdakwa semakin pucat pasi dan gemetaran.  Namun seketika ia menegakan badan kembali dan berusaha terlihat tidak bersalah serta tetap angkuh.
“Bagaimana pembelaan saudara terdakwa?”  tanya hakim.
“Oh, salah besar,  Pak hakim.  Saya tidak meracuninya.  Dia yang menenggaknya sendiri.  Kenapa dia minum teh yang saya tuangi sedikit racun.  Saya tidak menyuruhnya minum.  Lalu setelah meregang nyawa, saya menguburkannya.  Sebab dia sudah tidak bisa menggali kubur sendiri,”  kilah sang profesor dengan bangganya.  Lalu ia melanjutkan pembelaannya.
“Kalaupun perbuatan saya dahulu itu dianggap salah, saya tidak bisa dihukum sekarang, sebab saya sudah berbeda.”
Semua hadirin melongo keheranan, tidak menyangka sang profesor genius itu bisa sedemikian dungu dan linglung, kebelinger.
“Lantas kenapa saudara terdakwa berbohong dengan menyurati keluarga korban bahwa dia pergi ke luar negeri untuk belajar lagi.  Apa pula yang saudara maksudkan dengan sekarang sudah berbeda?”
“Saya tidak berbohong, Pak hakim.  Maharani memang sudah keluar negeri, tetapi kembali lagi untuk menuntut saya menikahinya karena dia sedang hamil.  Dia tidak mau kembali ke rumahnya karena malu.  Kami tidak memiliki kesepakatan untuk menikah.  Toh dia dibayar memang untuk membantu dan melayani saya.  Begitu perjanjiannya.  Maka sudah tentu saya tidak bersedia menikahinya.”
“Dan yang Saudara maksudkan sekarang sudah berbeda?”
“Oh iya, itu.  Begini, pak hakim,”  Sang profesor langsung nyerocos memberi ceramah ilmiah.
“Pada dasarnya tubuh kita senantiasa mengalami perubahan kimia dan pergantian sel-sel.  Umpamanya kepala saya kini telah beruban semua, padahal sepuluh tahun  yang lalu masih hitam.  Luka ditangan saya kini telah mengering dan berganti dengan daging baru.  Kalau saya tanya, Suad yang sebenarnya itu yang mana.  Suad waktu bayi, waktu kanak-kanak, remaja, sepuluh tahun yang lalu atau yang sekarang.  Padahal semua susunan kimianya tidak sama dari waktu ke waktu.  Jadi saya tidak bisa dihukum sekarang.  Kalau pun saya harus dihukum juga akibat kesalahan dimasa lalu, kenapa uban saya dan daging baru ditangan saya harus turut dihukum?  Padahal ia belum ada tiga belas tahun yang lalu.  Kalau Pak hakim mengambil pendapat para spiritualis bahwa hakekat manusia adalah roh dan jiwa yang tidak mengalami perubahan fisik, umpamanya, silakan hukum roh dan jiwa saya kalau memang bersalah.  Tetapi apa ada terali besi untuk roh dan jiwa?  Ha..ha..ha.  Tentu tidak ada.  Jadi saya tidak bisa dihukum dengan jasad saya yang sekarang, karena jasad tua ini tidak bersalah.  Yang salah itu jasad yang lalu.  Disini saya lihat ada Doktor Farid, ahli kimia juga.  Beliau pasti akan bisa memberikan kesaksian ilmiah dan sependapat dengan saya.”
Para hadirin tambah melongo, terkagum-kagum dengan penjelasan ilmiah Profesor Suad.  Mereka tambah kebingungan, tidak sanggup menilai apakah terdakwa orang gila atau kelewat pinter.   Hanya Doktor Farid yang kelihatan tersenyum-senyum.
Hakim yang tetap tenang itu kemudian meminta kesediaan Doktor Farid untuk tampil memberi penjelasan.  Doktor Farid langsung maju dan mengulas masalah organis tubuh manusia, tentang kandungan kimia dalam anatomi yang menurut data mengandung berbagai macam asam amino dan lebih lanjut dia menyebut nyebut beragam nama zat yang terdapat dalam tubuh semacam oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor, kalsium, ferum, sulfur, yodium, magnesium dan lain lain.  Dia mengatakan bahwa unsur-unsur diatas terus menerus mengalami proses pergantian.  Kemudian Dokter Farid menutup urainnya dengan ungkapan; 
“Saya hanya menuturkan fakta dan sama sekali tidak bermaksud membela terdakwa.  Tetapi yang Profesor Suad katakan memang benar menurut ilmu pengetahuan modern.  Terserah hukum mau mengakuinya atau tidak, itu berada diluar otoritas saya.”
Jaksa penuntut umum tampak merah padam, tidak bisa mendebat fakta ilmiah yang barusan dipaparkan karena memang berada diluar disiplin ilmunya, namun dia tidak bisa menerima secara hukum.  Aturan hukum yang berlaku sama sekali tidak melihat sejauh itu.  Ia dibuat kelimpungan, tidak bisa membantah uraian yang sedemikian masuk akal.  Seketika rontoklah harapannya untuk bisa populer karena mampu menjebloskan orang besar itu ke penjara. 
Hadirin tidak kalah heboh.  Mereka membuat kegaduhan sendiri. Mereka terbelah kedalam kerangkeng pro dan kontra ditambah kelompok sisa yang tidak mengerti sama sekali apa yang sedang berlangsung, namun tetap memaksakan diri berkomentar.  Akhirnya hakim mengketuk-ketukan palu dan mengumumkan bahwa sidang ditunda hingga minggu depan.
Seminggu kemudian pada hari yang telah ditentukan, hadirin telah berjejal-jejal ingin menyaksikan nasib yang akan diterima ilmuwan pesakitan itu.  Jumlah mereka kian bertambah karena didorong oleh pemberitaan media massa yang marak melaporkan kasus ini.  Bahkan ada salah satu stasiun televisi yang ingin meliputnya secara langsung.
Sidang tampak telah dimulai.
“Selama seminggu penuh saya benar-benar mengerahkan segala daya untuk menyelidiki kasus ini. Saya mempelajari sendiri hasil otopsi juga meminta sampel jenis racun yang digunakan.  Pada kesempatan lain saya juga mengkaji buku-buku yang mengulas masalah organis tubuh manusia.  Saat ini seolah olah hukum berhadapan dengan fakta ilmiah yang jelas-jelas kebenarannya bersifat universal.  Alangkah salah kalau hukum pidana hanya mengakui kebenaran sendiri tanpa mempertimbangkan kebenaran dari sudut lain yang lebih luas sifatnya.  Saya sebagai hakim tidak bisa membantah kebenaran yang dipaparkan oleh saudara terdakwa dan juga diulas dan dipertegas oleh Doktor Farid.  Jadi saya cenderung mengatakan bahwa jasad terdakwa yang sekarang tidak terlibat dalam perkara pembunuhan korban yang bernama Maharani.”
“Tetapi yang mulia, terdakwa ini jelas-jelas...,” potong jaksa penuntut umum sambil berdiri mengangkat tangan.
“Diam kamu, apa saya tidak cukup memberikan kesempatan berbicara.  Waktu kamu berbicara saya tidak menyela sama sekali!  Saya juga menyelidiki motif kamu sebenarnya dalam sidang ini, termasuk permainan kotor dibalik meja yang kamu lakukan bersama saingan terdakwa dari kalangan ilmuwan!” bentak hakim sambil memandang tajam ke arah jaksa penuntut umum.
“Kalau kamu tidak senang dengan sidang saya, silakan keluar!” lanjutnya lagi.
Dibentak demikian keras jaksa penuntut umum tertunduk malu kehilangan muka.  Untuk pertama kali dalam kehidupan karirnya ada yang terang-terangan membuka kedoknya.  Ia merasa seperti ditelanjangi.  Para hadirin pun terpaku melongo seperti dihipnotis, tidak sanggup menatap hakim yang begitu tegas dan berwibawa.
“Saudara terdakwa jelas telah memiliki niat menghabisi korban juga janin yang sedang dikandungnya untuk menghindari tanggung jawab.  Kemudian merencanakan pembunuhan dengan cara meracuni.  Korban boleh jadi tidak disuruh minum.  Tetapi menuangkan racun kedalam minuman pasti mengandung unsur kesengajaan.  Buktinya kenapa teh itu tidak diminum oleh terdakwa sendiri.  Jasad terdakwa yang sekarang boleh jadi tidak terlibat pembunuhan itu.  Tetapi ia tetap bersalah karena membiarkan jasad yang lama musnah.  Dengan kata lain terdakwa melingdungi penjahat dalam dirinya.  Satu hal lagi.  Polisi belum mengadakan reka ulang, maka saya minta terdakwa mengulang peristiwa minum racun tersebut.  Ini saya bawakan dua buah gelas,  satu kosong dan satu lagi berisi teh.  Saya minta terdakwa menunjukkan cara korban mereguk minuman bercampur racun yang tidak diketahuinya itu.”
Seorang petugas mendekati hakim dan mengambil kedua buah gelas untuk disodorkan kepada terdakwa.  Terdakwa tanpa pikir panjang langsung mengambil gelas berisi teh, berdiri dipojok agar dapat dilihat oleh semua yang hadir dan langsung menenggak teh yang digenggamnya.  Kemudian ia berjalan menuju tempat duduknya.  Namun belum sampai duduk ia sudah roboh lebih dulu dengan mulut berbusa.  Beberapa saat kemudian ia meregang nyawa.
Para hadirin seketika ribut. Para juru foto langsung mengambil kamera dan mengabadikan gambar terdakwa yang telah jadi mayat.  Petugas pengadilan yang sedang berjaga segera membopong mayat ke luar persidangan dibantu dua orang polisi.  Jaksa penuntut umum terlihat bengong tidak mengerti.  Hakim mengketuk-ketukan palu meminta hadirin tenang.  Setelah mereka duduk kembali dengan tenang, pimpinan sidang melanjutkan.
“Saudara-saudara sekalian pasti kebingungan dan kurang memahami apa yang terjadi.  Izinkan saya menjelaskan.  Banyak orang besar yang berbuat kesalahan terbebas dari jeratan hukum karena kelihaian mereka berkilah dan mencari-cari alasan yang dipaksakan bisa diterima akal.  Hebatnya lagi terkadang mereka mengetahui kelemahan aturan hukum.  Kalau sudah demikian biasanya kita tidak menemukan terali besi yang sanggup memenjarakan.  Bagi saya,  mereka boleh saja lolos dari terali besi tetapi tidak bisa lolos dari keadilan.  Lihat orang tua korban yang harus kehilangan seorang anak harapannya.  Bisakah kita meraba kekecewaan mereka bila penjahat tersebut terbebas dari tanggung jawab hukum yang harus dipikulnya.  Kita semua tahu Profesor Suad bersalah.  Cara saya memberi hukuman bisa jadi keliru dan tidak disetujui aturan hukum yang berlaku.  Namun saya tegaskan bahwa saya diangkat dan dipekerjakan terutama sebagai penegak “keadilan”, bukan sekedar penegak hukum.  Saya yang menuangkan racun hasil ramuan terdakwa sendiri kedalam teh yang diminumnya tadi.  Padahal saya tidak meminta dia meminumnya.  Saudara-saudara semuanya tadi mendengar saya meminta terdakwa untuk menunjukkan cara korban mereguk minuman yang telah dibubuhi racun.  Sebenarnya ia bisa menunjukkannya dengan gelas kosong yang sama saya sediakan.  Namun dia lebih memilih gelas yang berisi teh.  Senjata makan tuan tampaknya.  Terpaksalah ia dipensiunkan dari masa kecongkakannya. Nyawa dibayar dengan nyawa.  Biarkan nyawanya masuk penjara alam barzakh.  Itulah keadilan.  Demikianlah kejadiannya.”  Dan Pak hakim mengetuk palu tanda sidang telah ditutup.
“Hidup pak hakim...!  Hidup pak hakim...!” para hadirin mengelu-elukan pimpinan sidang.
***

Rabu, 14 September 2011

Penjual Batu Bertuah

Melewati jalur Pantura bukanlah merupakan hal yang menyenangkan bagi siapa pun.  Asap kendaraan membekap udara bersih di langit ini.  Suara bising klason menggetarkan ether, juga jantung.  Sopir-sopir bis dari Jawa kebelet ingin buang air kecil, air sedang dan air besar tiap kali melintasi daerah ini.  Entah kenapa.  Yang jelas bila sampai di tujuan, barulah perasaan itu mendadak hilang.  Namun bila kembali lagi ke lintasan itu, keinginan untuk buang air mendadak muncul lagi, baik saat pergi maupun saat balik.  Aneh memang.
Namun Karma tidak perduli dengan keadaan ini.  Ia terus saja berjalan kaki dari mulai jantung kota Cirebon hingga ke ibu kota melintasi jalan Pantura.  Baginya bau yang campur aduk di sepanjang jalanan itu menjanjikan keberhasilan.  Suara bising klanson menjelma petuah Bapak Proklamasi, maju terus dan pantang mundur.  Ia begitu yakin kali ini usahanya menjual batu-batu bertuah di Jakarta akan membuatnya kaya raya.
Sebelum melakoni kebiasaan orang baduy pedalaman seperti ini,  Karma sudah melakukan tapa barata selama empat puluh hari empat puluh malam, ditambah tujuh hari puasa pati geni.  Belum lagi berendam di air sungai dan telaga, masing-masing selama dua puluh satu hari berturut-turut.  Tujuannya hanya satu, ingin mendapatkan batu-batu mustika yang konon mengandung kesaktian.  Berhasillah akhirnya dia menarik semuanya dari alam gaib.  Tekadnya pun sudah bulat.  Bila mustika itu sudah didapatkan ia akan menjualnya di ibu kota yang kepadatan penduduk itu.
Setiba di Jakarta Karma melihat orang-orang berkerumun di sebuah pasar.  Ia keheranan, ia ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.  Segeralah ia berjalan mendekat.  Seseorang terdengar berteriak-teriak lantang.  Kagetlah Karma ketika bergabung dengan kerumunan orang-orang itu.  Ternyata pesaingnya sudah lebih dulu tiba dan sekarang sedang mengobral batu-batu cincin.
“Kesaktian apa yang ingin saudara-saudara miliki, semuanya sudah tersedia disini!  Jauh-jauh saya bawa dari Banten!  Silakan, tinggal menyebutkan saja.  Harganya pun terjangkau!”  teriak si pengobral batu mustika.
“Ah, hanya orang bodoh yang tidak tahu pangsa pasar menjanjikan,” bisik hati Karma.
“Eh, apa kau bilang?!  Kau pikir aku ini orang bodoh yang tidak tahu pasaran heh?!!” bentak si tukang obral batu kepada Karma.
Karma tidak merasa heran.  Di Cirebon sana sering ia temui orang-orang yang sanggup membaca kata hati.  Makanya ia cuma garuk-garuk kepala dan meminta maaf, kemudian segera berlalu dari hadapan tukang obral itu.
Kembali menelusuri jalan raya membuat cita-cita di hati tambah menyala-nyala.  Karma ingin juga memiliki mobil-mobil bagus seperti yang dilihatnya.  Ingin juga ia menghuni rumah-rumah mewah seperti yang berdiri di pinggir jalan yang dilaluinya.  Bertambahlah semangatnya.  Semakin dipercepat langkahnya agar segera sampai di tempat orang-orang yang dianggapnya sangat membutuhkan batu-batu bertuah.
Tibalah ia di sebuah departemen pemerintah.  Karma hendak langsung menerobos masuk lewat pintu gerbang, namun keburu dicegat satpam.
“Heh, mau apa kamu?” bentak satpam.
“Ada keperluan penting dengan pejabat.  Mau menawarkan batu-batu bertuah ini,” jawab Karma dengan tenang sambil mengeluarkan batu-batu jualannya.
“Apa khasiatnya, Mang?” suara satpam tiba-tiba melembut dan ramah.
“Kalau untuk orang-orang di departemen ini saya pilihkan yang khusus.  Siapa pun yang memiliki batu ini pasti akan segera naik jabatan dan menjadi kaya raya.”
Mendengar keterangan Karma, si satpam langsung tertawa terbahak-bahak.  Karma mengernyitkan dahi, melongo keheranan.
“Kenapa?  Apa ada yang lucu?” tanya Karma tidak mengerti.
“Kalau cuma sampai disana manfaat batu itu, pasti disini tidak akan laku.”
“Kenapa?  Apa mereka tidak mau naik jabatan dan kaya raya dengan segera?”  Semakin kencanglah tawa si satpam, bahkan matanya sampai berair.
“Disini cukup dengan kepandaian manjilat kalau kepingin segera naik pangkat dan kaya raya.  Sudah, sekarang enyah dari sini!” usir satpam dengan tertawa-tawa.
Karma serta-merta berlalu sambil geleng-geleng kepala.  Baru kali ini didengarnya hal yang demikian mengagumkan.  Di kampung halamannya sana ia tidak pernah menemui khabar berita tentang kedigjayaan dengan jilatan.
“Sakti benar berarti orang departemen itu.  Hanya dengan menjilat, bisa cepat naik jabatan dan kaya raya?!  Lidahnya pasti keramat dan bertuah.  Hebat, hebat, sungguh hebat,” Karma mendecak kagum di hati dan pikirannya.
Karma sampai di sebuah gedung pengadilan.  Dilihatnya orang-orang berlalu lalang.  Tampang mereka bersih.  Pakaian mereka rapi dan necis.  Gembiralah hati Karma melihat target pasarnya.
“Mereka pasti orang-orang kaya,” kata Karma di hatinya.  Segeralah ia dekati orang-orang itu dengan penuh harap.
“Bapak, Ibu, saya membawa batu-batu bertuah dari Cirebon, hasil tirakat saya sendiri,”  Karma menawarkan jualannya.  Orang-orang pun segera mengerumuni Karma.
“Apa khasiatnya, Mang?” tanya salah seorang.
“Kalau untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, saya pikir batu-batu yang menjadikan kebal ini pasti cocok untuk melindungi nyawa dan harta.  Ini bisa menjadikan seseorang kebal senjata.”
Karma meyakinkan mereka dengan sedikit unjuk kesaktian.  Ia pegangi salah satu batunya, dikeluarkannya sebilah golok tajam, dibacok-bacokannya golok itu ke bagian-bagian tubuhnya.  Si penjual batu bertuah dari Cirebon ini benar-benar kebal.  Demikian pula lidahnya saat dijulurkan dan disayat dengan senjata itu.  Rambutnya pun begitu, tidak selembar pun yang bisa diputuskan.  Namun anehnya orang-orang yang berkerumun itu malah tersenyum-senyum dan tertawa-tawa.
“Mang..., Mang...,” seseorang mengomentari pertunjukan gratis dari Karma sambil tetap tertawa, “kalau cuma kebal begitu sih disini juga banyak yang lebih sakti.  Tuh, Emang lihat sendiri orang-orang yang sedang disidang itu.  Mereka semuanya orang-orang kebal, kebal hukum dan kebal penjara, juga kebal muka.  Padahal mereka bersalah, telah merugikan negara dan bangsa ini.”
“Sehebat itu kesaktian mereka?!  Sampai hukum yang katanya berkuasa pun bisa jadi tumpul saat dibacokkan kepada mereka?!”  tanya Karma, ingin meyakinkan diri.
“Betul, bahkan tiada terali besi yang sanggup mengekang mereka.  Emang saksikanlah sendiri kalau tidak percaya.”
Karma pun kemudian menyaksikan jalannya sidang sampai selesai.  Ia berdecak dengan penuh kekaguman terhadap kesaktian para pesakitan itu.  Jelas-jelas mereka bersalah.  Tegas-tegas mereka sudah di kepung dari berbagai jurusan, oleh masyarakat, oleh media massa, tetapi tetap saja mereka bisa lolos dan kebal terhadap mata pedang hukum yang tajam berkilat itu.
Dengan hati sedih Karma segera berlalu dari gedung pengadilan.  Batu-batu mustika hasil tirakat panjangnya belum satu pun yang terjual.  Padahal ia telah bersusah payah berjalan kaki selama berhari-hari.  Tirakat panjangnya sebelum ini pun demikian khusyu pula.  Tapi jelas belum berarti apa-apa.
“Ya, Tuhan, berilah hamba-Mu setetes rezeki.  Perut hamba terasa panas menahan lapar dan haus berkepanjangan...” jerit hati Karma di muka gerbang langit.
Langit mendung, awan tebal dan hitam pekat berarak membentengi kemilau sinar matahari.  Karma berjalan sempoyongan.  Terasa penat benar tubuhnya.  Betisnya pun terasa menebal dan kaku.  Namun ia paksakan juga berjalan hingga tiba di sebuah gedung mewah.  Didapatinya sekelompok fakir miskin dari berbagai jenis berkumpul di depan gerbang gedung mewah itu.  Karma pun segera mendekati mereka.
“Gedung apa ini?” tanya Karma.
“Gedung DPR – MPR.  Kamu baru pertama kali kemari?”
“Iya.  Jadi disini toh tempat wakil-wakil rakyat bermufakat?”
“Tidak salah.”
“Ngomong-ngomong, ada diantara kalian yang mau membeli batu-batu saktiku?”
“Dari mana kami punya uang?  Pasti mahal harganya?”
“Tidak.  Kali ini aku obral murah, asal bisa dapat uang buat makan dan minum hari ini.  Itu sudah cukup.”
“Apa khasiatnya?”
“Banyak.  Ada untuk kemudahan karir dan jabatan.  Ada juga untuk kekebalan dan pengasihan.  Pokoknya apa saja ada, lengkap.”
“Dari mana kamu dapatkan batu-batu ini?”
“Hasil tirakatku sendiri.”
“Coba kamu tawarkan saja kepada orang-orang di gedung itu.”
“Apa boleh masuk kesana?”
“Tentu.  Ini kan gedung milik wakil kita.”
Karma pun kemudian melangkah masuk mendekati gedung itu.  Baru saja sampai di halaman, ia sudah diberhentikan oleh seorang petugas kebersihan di gedung itu.  Si petugas masih memegangi sapu lidi.  Tampaknya baru hendak menyapu halaman.
“Mau apa, Mang?”
“Mau menjual batu-batu sakti dan bertuah ini kepada wakil-wakil kita di dalam sana.  Boleh tidak?” 
Serta merta si penjaga gedung itu tertawa terpingkal-pingkal demi mendengar ucapan Karma yang polos.  Bahkan saking gelinya ia sampai bergulingan di halaman dengan kaki kelojotan.  Karma tentu saja melongo keheranan.
“Kenapa?”
“Kamu salah alamat, Mang.  Justru disinilah pusatnya orang-orang sakti dan bertuah.”
“Maksudmu?” tanya Karma tidak mengerti.
“Kamu ingin menjual batu bertuah agar mereka kebal?”
“Benar.”
“Kamu juga ingin agar mereka memiliki batu wulung supaya bisa berpindah kesana kemari dengan cepat dan selamat?”
“Betul.”  Karma tambah keheranan.
“Juga batu untuk pesugihan, untuk pengasihan, untuk jabatan dan lain-lain?”
“Dari mana kamu tahu semuanya?”
“Aku bekerja disini.  Berbagai manusia sakti mandraguna semuanya ada dalam gedung itu.  Jadi pasti mereka tidak akan butuh batu-batu sakti murahan yang kamu tawarkan.”
“Aku tidak mengerti,” kata Karma sambil terus bengong dan melongo.
“Sobat, disinilah tempatnya kekebalan, kebal hukum dan kebal pendengaran terhadap lolongan penderitaan rakyat.  Kamu lihat orang-orang fakir miskin di luar sana?”
“Iya betul.”
“Nah mereka sudah berhari-hari berteriak-teriak, bahkan sampai berbulan dan bertahun.  Namun tidak satu pun orang-orang di dalam sana yang tersentuh jeritan tajam menikam dari mulut pendemo itu.”  Karma manggut-manggut dan tambah melongo.
“Kamu sudah menawarkan batu-batu ini kepada orang-orang di gedung-gedung departemen dan pengadilan?”
“Sudah.”
“Orang-orang seperti mereka disini banyak juga.  Sudah terkepung masih juga bisa lolos.  Kebal betul orang-orang di dalam sana.  Lidahnya, tubuhnya, kupingnya, matanya, mukanya, termasuk harta kotor dan kedudukan mereka.  Aku mengenali betul kesaktian mereka.  Penghuninya memang ganti-berganti, tapi masih tetap orang-orang sakti semacam itu-itu juga.”  Karma tambah manggut-manggut.
“Sudahlah, sebaiknya kamu pulang saja.”
“Boleh aku tanya sesuatu dulu?”
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Batu keramat apa sebetulnya yang mereka pakai?”
Penjaga gedung itu tersenyum lebar mendengar keingin-tahuan Karma.
“Mereka tidak pakai batu-batu bertuah dari luar, Mang.  Batu andalan mereka sudah terpasang secara otomatis di tubuh.  Kami pun disini sedang menunggu kematian mereka, agar hatinya yang sudah menjadi batu sakti, batu keramat dan bertuah itu bisa kami ambil untuk kami pakai sendiri.  Siapa tahu kami bisa jadi sakti mandraguna dan kaya raya seperti mereka yang di dalam gedung itu.”
Tidak bisa tidak, Karma segera hengkang dari situ.  Hatinya tak henti-hentinya berkata-kata dengan lirih.
“Ternyata bohong belaka yang dikatakan mereka bahwa di Jakarta mudah sekali mencari uang.  Di ibu kota ini ternyata orang-orang sakti jumlahnya seabreg-abreg.  Pasti tidak hanya di tiga tempat yang aku datangi itu saja, di tempat-tempat lain pun tentulah tidak terhitung lagi jumlahnya.  Ya, Tuhan, ternyata kesaktian yang Engkau anugerahkan padaku tidak seberapa dibanding kedigjayaan mereka...”
Karma kemudian bertekad akan mencoba menjual batu-batu bertuahnya di kota-kota lain.  Bila masih gagal juga, ia berniat akan melakukan tapa barata lagi, puasa pati geni lagi dan juga berendam diri lagi, sampai dapat mengalahkan kesaktian mereka.  Ia berjalan terhuyung-huyung meninggalkan halaman gedung DPR-MPR.   Perutnya terasa disengat bara, merasakan lapar dan haus yang tiada terhingga.  Pandangannya pun berkunang-kunang.  Sesaat kemudian Karma si penjual batu bertuah itu pun roboh pingsan, tepat di ambang pintu gerbang.***

Jakarta, 7 Januari 2004
Penulis;        

Jumat, 09 September 2011

Dongeng Pengantar Tidur Untuk Si Buah Hati

Putra Pembesar Berbudi Luhur


Suatu hari seorang khalifah dari dinasti Abbasiyyah mengunjungi salah seorang menteri kepercayaannya.  Tuan mentri memiliki seorang anak lelaki yang cerdas dan berbudi luhur.  Ketika sang khalifah dipersilahkan duduk, ia mengajak anak menteri tersebut duduk di sebelahnya.
“Mana yang lebih baik, rumah ayahmu atau rumah khalifah?”  tanya kahlifah kepada si anak.
“Bila khalifah berada di rumah ayah, tentu rumah ayahlah yang lebih baik,”  jawab si anak tanpa pikir panjang.
Kemudian sang khalifah memperlihatkan sebuah cincin yang menghiasi jari manisnya.  Cincin tersebut terbuat dari emas putih bertahtakan permata indah.
“Pernahkah kamu lihat yang lebih indah dari cincin ini?”
“Tentu saja.  Jari manis yang diberi cincin ini lebih indah dari cincinnya sendiri.” 
Betapa takjubnya sang khalifah mendengar jawaban yang diberikan anak menteri tadi.  Lalu ia mempersiapkan pertanyaan terakhir untuk menguji budi pekerti anak lelaki yang duduk di sampingnya.
“Maukah kamu diangkat khalifah sepeninggalku, nak?  Untuk menjadi penggantiku?”
“Yang Mulia.  Putra khalifahlah yang lebih utama dari hamba, karena beliau yang paling berhak sebagai putra mahkota.  Saya dilahirkan oleh ibu dan dididik oleh ayah bukan untuk menjadi seorang penghianat.”
Bertambahlah kekaguman khalifah terhadap anak menterinya yang mampu menjawab berbagai pertanyaan dengan cerdas dan santun.  Lalu khalifah itu berpaling kepada ayahnya.
“Anakmu pasti akan menjadi orang besar dan terpercaya bila kelak telah dewasa.”



Keburukan dibalas Keburukan


Seorang pengemis kecil sedang duduk-duduk santai diatas bangku dan asyik melahap roti yang didapatkannya dari sedekah seorang kaya raya.  Tengah asyik menyantap roti, pengemis itu melihat seekor anjing yang sedang tidur lelap.  Timbul keisengan dalam diri sang anak.  Maka ia segera memanggil-manggil anjing itu sambil menyodorkan sepotong roti dari tangannya.
Si anjing mengira akan diberi roti.  Maka ia pun segera berdiri mendekati hendak mengambil roti dari tangan pengemis itu.  Ketika anjing sudah dekat, anak itu langsung mengayunkan tongkat dan mengahantamkannya ke kepala si anjing dengan keras.  Anjing malang itu melolong kesakitan dan langsung berlari meninggalkan anak yang telah menggebuknya.
Tanpa disadari oleh pengemis tadi, seorang lelaki tua menyaksikan semua kejadian saat ia menjulurkan kepalanya dari jendela.  Saksi mata ini merasa benar-benar teriris hatinya demi melihat kekejaman yang dilakukan sang pengemis.  Timbul dalam benaknya keinginan memberi pelajaran berharga untuk anak ini.  Maka ia pun segera keluar.  Ditangannya ada segenggam uang receh dan dibalik punggunggnya ia menyembunyikan sebuah tongkat.
Setiba di depan pintu, orang itu langsung memanggil-manggil si pengemis sambil menyodorkan tangan yang menggenggam uang receh.  Pengemis itu tentu saja mengira akan diberi uang.  Maka tanpa pikir panjang ia segera datang mendekat.
Ketika tangan pengemis itu siap menadah uang pemberian, orang tua itu langsung memukulkan tongkat ke telapak tangan si pengemis yang kontan menjerit kesakitan.  Lalu tangannya ditiup-tiup sambil berkata;
“Kenapa Bapak memukul tangan saya, padahal saya belum mendapat apa-apa dari Bapak?”
“Lantas kenapa kamu menghajar anjing tadi, padahal ia juga belum mendapat apa-apa?”
Seketika sadarlah si pengemis nakal bahwa bila ia melakukan kejahatan, ia akan dijahati pula.



Pengembala Kambing dan Srigala


Syahdan seorang anak laki-laki bekerja sebagai pengembala.  Setiap hari ia keluar kampung mengembalakan kambing di padang rumput sekitar kampungnya.  Karena merasa bosan dengan pekerjaan rutinnya, si pengembala tergoda untuk mempermainkan penduduk kampung.  Maka ia pun berteriak-teriak sekuat tenaganya.
“Tolong...!  Tolong...!  Ada serigala!”
Penduduk kampung yang mendengar teriakan itu segera berdatangan dengan bersenjatakan tongkat dan golok.  Mereka merasa harus menyelematkan si pengembala.  Tidak hanya kambing yang mungkin menjadi korban, si pengembala pun terancam nyawanya.
Ketika tiba di padang rumput, para penduduk tidak melihat srigala.  Mereka hanya mendapati si pengembala kambing sedang duduk-duduk di bawah pohon sambil tersenyum-senyum simpul.  Tentu saja orang-orang menggerutu karena merasa dipermainkan.  Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa minggu kemudian si pengembala kambing berniat mempermaikan penduduk kampung lagi karena merasa iseng lagi.  Ia pun kembali melakukan hal yang sama seperti dulu.  Kali ini ia lakukan sambil berlari-lari kian kemari seolah-olah sedang ketakutan.  Penduduk yang mendengar kembali berlarian dengan berbagai senjata di tangan.  Namun sayang mereka tertipu lagi dan kali ini secara terang-terangan si pengembala mentertawakan mereka.  Keberhasilan usahanya benar-benar membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.  Para penduduk benar-benar berang diperlakukan demikian.  Tetapi mereka tidak berkata apa-apa.  Mereka pikir tidak ada gunanya marah-marah dan membentak anak nakal semacam dia.
Minggu berikutnya si pengembala kambing benar-benar didatangi sekelompok srigala.  Ia begitu ketakutan hingga tidak bisa bergerak sama sekali dari tempat duduknya.  Setelah menguasai diri segera berteriak-teriak meminta tolong.  Ia terus berteriak hingga suaranya serak.  Namun tidak ada seorang pun dari penduduk kampung yang datang menolong.
Penduduk kampung tentu saja menganggap teriakan si pengembal kambing main-main seperti dilakukannya dahulu.  Mereka tidak ingin menjadi bahan olok-olokan si anak nakal yang telah dua kali menipu mereka.
Sesal kemudian tiada berguna.  Si pengembala nakal kehilangan sebahagian besar kambing gembalaannya.  Rombongan srigala hanya menyisakan satu dua ekor yang hidup.  Sisanya yang berjumlah belasan dilahap habis dan dibawa pergi.
Si pengembala kambing tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi ia juga kehilangan nama baik dan kepercayaan penduduk kampung.  Tidak hanya sampai disitu, ia juga diwajibkan mengganti kerugian oleh majikannya.  Itulah akibat yang harus diterima si pengembala kambing karena kebohongan dan penipuan yang ia lakukan.

Minggu, 04 September 2011

http://id.shvoong.com/how-to/money-and-business/2208327-nasihat-rasulullah-saw-agar-anda/

http://id.shvoong.com/how-to/money-and-business/2208327-nasihat-rasulullah-saw-agar-anda/

Customer Service: The Least Understood Concept

Customer service is the least understood concept in the world of business. Too many companies associate it with the job of a particular person or a division and no more. You might have seen receptionists in small businesses such as travel agencies, language schools, small hotels, etc. handle everything relating to customers. Other business practitioners regard it as a responsibility of PR Department alone. This, unfortunately, is only tiny part of the picture.

It is well known to all of us that customer service is any tangible or intangible service to satisfy customers, its purpose being are to attract new customers, to maintain existing customers, to build company image and in the long run, to keep the company in business.

You may now ask when customer satisfaction happens. Most books on customer service answer it this way, “customer satisfaction occurs when our product or service meets a customer’s expectation.” They further explain that when a product – either goods or services – is beyond the expectation, customers are usually very satisfied. On the contrary, customers tend to be very unsatisfied if the product they have bought is less than expected.

However, the above theory was challenged by a survey conducted in America quite a long time ago. This survey tried to find out why customers left the company they used to do business with. The findings showed that:

  • 3% of respondents left because they either moved to another place or passed away
  • 5 % of them left because of the influence of new acquaintances
  • 9% left because competitors made better offers
  • 14% left because they were not satisfied with the company products or services
  • 68% left because they did not feel the company cared enough about them

The data clearly states that only 14% of all respondents left because of poor products, whereas, almost five times refused to do any more business with the same company because they felt they had not been treated well. From the customers’ point of view then, customer service is all about taking good care of customers.

Customer is the next process of one’s job. With this insight, everyone has his own customer, both external and internal, who is entitled to the best service he can get. The boss deserves it, so do subordinates, fellow workers and target customers.

In general customer needs include physical needs such as company layout, cleanness, lights, etc; practical needs attached to products such as price, quality and utility; and emotional needs which pertain to services given by others.

As discussed above, the utmost purpose of customer service is to keep a company in business. So any company should always bear in mind that:

  • Customers are the first priority of all company activities
  • Customers do not depend on the company; on the contrary, the company depends on them
  • Customers do not disturb company activities; they are the main cores of the company
  • Customers help a company when telephoning and writing to the company
  • Customers are parts of the business, not the outsiders
  • Customers are human beings like company staff who also have the hearts and emotional needs
  • Customers are not to be embarrassed nor are targets to compete with
  • Customers express their needs and wants and the company must satisfy them
  • Customers deserve honest and friendly treatment from the company
  • Customers are sources of income for any business

A good business not only starts with clear view of their customers, but also focuses their efforts on servicing them.

Jumat, 02 September 2011

Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa (1): Mimpi di Siang Bolong

Akhir-akhir ini tema pendidikan karakter bangsa menghangat, terutama sejak peringatan hari pendidikan nasional 20 Mei 2011. Beragam ungkapan bersahut-sahutan melukiskan keprihatinan atas ketidakterpujian tindakan kekerasan keseharian. Kalangan akademisi merespons dengan ramai-ramai berdiskusi, menguras isi benak untuk merajut konsep dan mengusulkan masukan rumusan ulang sistem pendidikan nasional. Masyarakat perduli turut memberi kontribusi pekerti, baik pada forum tatap muka maupun lewat tulisan. Namun sayang, yang dibahas lebih banyak terpusat pada pendidikan formal. Inti dan kupasan perbicaraan hanya ditekankan pada pendidikan di taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Entah karena lupa atau sengaja tidak mengindahkan, pakar-pakar atau yang mengaku-ngaku maha guru amat sangat sedikit sekali mengulas dua lingkungan pendidikan lainnya, yakni pendidikan rumah dan masyarakat. Kita mengenali dengan persis bahwa lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat berkait-berkelindan mewarnai kepribadian dan karakter peserta didik, dan bahkan mantan peserta didik serta pendidiknya sendiri.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan dan mempercayakan pembentukan karakter peserta didik hanya kepada lembaga pendidikan formal. Andai saja zamannya seperti waktu tahun tujuh-puluhan kebelakang setelah masa kemerdekaan atau para pendidiknya seperti guru dan kepala sekolah di novel ’Laskar Pelangi’, mungkin pemberian mandat penuh bisa dilakukan. Namun masa sudah tidak sama, apalagi nama baik sekolah sudah banyak yang tercoreng dan terkoyak.

Bukankah praktek ’jual bangku’ masih terus berlaku? Akankah kita pungkiri bahwa prilaku memark-up nilai terus menerus menari dengan gemulai pada pentas panggung terbuka? Ada pula rutinitas tahunan dalam perniagaan jual-beli kunci jawaban UAN. Juga praktek contek masal atas prakarsa dan dukungan pendidik sendiri demi ’reputasi’ institusi. Di beberapa perguruan tinggi pun masih ada sisipan angpaw buat sang dosen pembimbing atau paling tidak hadiah buku yang harganya melejit selangit demi lulusnya sebuah karya tulis akademis sang calon sarjana.

Gambaran buruk sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya sampai di sana. Program sertifikasi menjadi duri tersendiri bagi keutuhan dan totalitas pelaksanaan pembelajaran sehari-hari. Bukankan dewasa ini guru lebih banyak bergelut dan bergulat dengan pemenuhan prasyarat administrasi (semacam penyusunan RPP dan portfolio yang menjelimet dan bikin keder si awam itu) tinimbang mengurusi dan memperhatikan perkembangan peserta didik secara individual? Belum lagi OSPEK dan kegiatan perpeloncoan yang tidak pernah sepi dan terbebas sama sekali dari tradisi kekerasan.

Saya tidak memungkiri masih terdapatnya institusi-institusi pendidikan terpercaya, seperti lembaga-lembaga swasta terkemuka yang mematok biaya di atas kemampuan rakyat jelata. Sekolah berstandar internasional dan nasional banyak yang layak dinilai normal, sekalipun sistem penerimaannya selalu menjegal calon murid berotak bebal versi nilai standar kompetensi nasional yang sepenggal-sepenggal.

Bagaimana dengan dukungan pendidikan lingkungan rumah dan masyarakat?

Di rumah sulit ditemukan ayah-bunda yang sudi menghabiskan waktu untuk membuat perencanaan pendidikan yang sistematis dan matang bagi putra-putri mereka, baik karena ketidaktahuan maupun ketidakperdulian. Yang umum dipikirkan berkisar mengenai biaya serta sesekali anjuran dan perintah kepada si anak untuk belajar di rumah. Tapi sayang, pengertiannya terbatas pada membaca, menghafal atau mengerjakan PR.

Memang ada orang tua yang kebetulan berkemampuan memasukkan anak mereka ke tempat bimbel demi perbaikan nilai mata pelajaran sekolah. Jika kesadaran keagamaan hidup, dikirimkannya dia ke TKA, TPA atau madrasah dan tempat memperdalam ilmu agama sejenisnya. Orang tua yang cukup mengerti dan bijaksana adakalanya mendorong anak mereka mengikuti latihan pengembangan bakat dan kreativitas di sanggar seni atau klub olah raga. Namun yang kurang faham malah mengharuskan putra-putrinya kursus bahasa asing dan matematika yang umumnya mengedepankan pembinaan otak kiri semata.

Sisi yang paling menyedihkan adalah pembiaran yang membahayakan. Anak-anak diizinkan bermain bebas tak terarah sekehendak hati selama yang mereka mau. Online games dan video games memperbudak. Acara-acara televisi yang miskin unsur-unsur edukatif sering menjadi alternatif suguhan pendidikan keseharian. Termasuk diantaranya sinetron-sinetron yang menyiratkan persaamaan antara keshalihan dengan kedunguan, kelemahan, kecengengan dan kelabilan karakter tokoh-tokoh protagonisnya; juga kegaduhan politik yang tercermin dari debat kusir para politisi kampungan dan murahan. Sesekali acara hiburan dilengkapi dengan lagu-lagu serta tarian yang mengungkapkan gelora birahi dibungkus dengan nama cinta. Hasilnya bisa kita lihat, anak-anak seumur jagung pun sudah pandai mendendangkan lagu-lagu asmara.

Lingkungan masyarakat luas tidak kurang ikut menyayat. Unjuk keangkuhan, pamer kekayaan, tontonan kekerasan, ancaman keselamatan, keculasan, kecabulan terang-terangan, kenakalan, penipuan dan prilaku tak terpuji lainnya menjadi hiasan sehari-hari. Sampai-sampai kita sering mempertanyakan, separah itukah kehidupan kebangsaan. Di manakah perlindungan yang dinyatakan dalam undang-undang?

Merujuk kepada undang-undang sistem pendidikan nasional sendiri, outcomes pendidikan sebenarnya sudah jelas dinyatakan, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab.

Dari sini tampak jelas bahwa antara cita-cita pendidikan dalam membentuk karakter bangsa dalam jiwa peserta didik dan upaya menggapainya amatlah kontras bertolak belakang. Seperti panggang jauh dari api atau mimpi di siang bolong. Apalagi jika pelaksanaannya hanya dipasrahkan pada lingkungan pendidikan sekolah dan perguruan tinggi yang cuma beberapa jam saja dihabiskan peserta didik di sana.