Pada suatu hari
kerja di minggu pertama bulan Desember, Profesor Doktor Ing. Suad Msc. meneliti
dinding ruang kerja pribadinya yang dihiasi berbagai jenis piagam penghargaan
dan foto dirinya bersama orang-orang penting, dari mulai para pejabat negara
hingga presiden. Pandangannya kemudian
dialihkan ke lemari kaca yang dipenuhi beragam piala kelas satu dari mulai
mulai kalpataru, bintang maha putra sampai hadiah nobel. Ia tertawa-tawa sendirian, lalu berdiri di
depan cermin gantung di sebelah lemari. Lama ia mengamati-amati bayangan
dirinya di cermin. Ditepuk-tepuki
dadanya dengan telapak tangan kanan sambil memuji-muji diri dalam hati; ‘Aku
memang luar biasa brilian dan tidak ada duanya.
Walau rambut sudah memutih semua, tapi masih kelihatan gagah
perkasa. Buktinya belum ada wanita yang
menolak diajak kencan. Ha..ha..ha, aku
memang istimewa.’
Profesor itu
tambah keras tertawa lepas; tambah kencang menepuk-nepuki dada hingga
terbatuk-batuk. Anehnya malah ia semakin
bersemangat lagi terbahak-bahak hingga menggetarkan kaca lemari piala.
‘Ah, aku
berhasil menjadi orang. Temuan-temuanku
sangat istimewa dan menyodorkan kekayaan beruntutan yang tak putus-putusnya
mengalir. Rumah tinggal pribadi sudah
seperti istana. Aku punya laboratorium
sendiri. Uangku di bank melimpah.
Deposito? Bunga bulanannya saja
mengalahkan gaji bupati bahkan gubernur sekalipun. Belum lagi saham di beberapa perusahaan
raksasa. Tak akan habis dihamburkan
tujuh turunan.’ “Eh..turunan?” Lelaki
tua itu menyuarakan kembali kata terakhir setengah berteriak.
Profesor Suad
berhenti membanggakan diri di depan cermin ketika sampai pada kata
turunan, seperti mobil direm mendadak
saat melaju kencang. Tawa lepasnya
menderit seperti suara ban; dadanya sesak dan sakit. Lelaki tua yang masih merasa gagah itu
kemudian menghempaskan diri di kursi, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa
lunglai. Segera ia keluarkan foto keluarga ukuran kecil dari dompetnya.
Hanya ada gambar
tiga orang diatas kertas foto yang digenggamnya; dia sendiri, almarhum istrinya
serta anak lelaki satu-satunya yang telah hijrah ke Amerika sejak belasan tahun
lalu dan tinggal di apartmen mewah milik sendiri.
Terkenanglah ia
akan anak lelaki satu-satunya yang terus mengobarkan api permusuhan antara
mereka berdua. Perseteruan dimulai
dengan lontaran celaan terhadap sang ayah yang dinilai lebih mencintai ilmu
kimia, sementara keluarga selalu dinomor belakangkan. Nyonya Suad kemudian menderita tekanan jiwa
karena merasa tidak lagi disayang suami.
Penderitaannya kian parah ketika dia memergoki sang profesor kenamaan
itu sedang bermesraan di ruang laboratorium dengan asistennya yang bertubuh
sintal. Kali lain sang profesor juga
ketahuan sedang main gila dengan mahasiswi bahenol fakultas kedokteran yang
sedang melaksanakan KKN ditempat kerjanya.
Mulanya Nyonya
Suad tutup mulut, demi menjaga nama baik suami dan keluarganya. Namun akhirnya sang istri merasa tidak tahan
lagi dan bunuh diri dengan cara mereguk racun hasil ramuan suaminya sendiri. Kematiannya begitu tragis. Sejak saat itulah Suad junior memberi ayahnya
label “pembunuh berdarah dingin” dan lebih memilih pergi dari rumah untuk
berhijrah ke negeri paman Sam.
Profesor Suad
tidak mau begitu saja disalahkan atas kematian istrinya. Ia punya alasan bantahan:
‘Dia yang
salah. Kenapa selalu sibuk melulu arisan
disana-sini sampai ke luar kota segala
dengan ibu-ibu pejabat dan para istri konglomerat. Tak pernah lagi mengurusi suami, apalagi
memberi kehangatan. Tubuhnya malah dibiarkan
membengkak tak terurus bahkan kulitnya tega dibiarkan keriput semua. Bagaimana aku akan tertarik? Padahal aku masih gagah.’
Sepeninggal
anaknya, Profesor Suad tinggal sendirian. Selang beberapa tahun kemudian ia
pindah dari rumah lama ke istana barunya kini.
Yang tetap setia menemaninya hingga saat ini hanyalah seorang pembantu
baru, janda kembang dari kampung yang belakangan rela ditiduri sang ilmuwan
dengan bayaran tambahan beberapa puluh ribu rupiah sekali kencan saat profesor
menderita kesepian dan butuh elusan.
Ada rahasia
pribadi yang tidak diketahui mendiang istri dan anaknya hingga kini. Apabila ketegangan memuncak karena bergelut
panjang dengan formula kimia yang sedang ia garap, libidonya kerap tidak
terkendali. Saat bermesraan dan mencapai
puncak asmara itulah persoalan pelik yang sedang melingkupinya bertemu jawaban
dan pemecahan. Maka tak heran bila
Profesor Suad selalu memperkerjakan asisten wanita untuk membantunya saat
diminta saja. Seberapa pun gaji yang
mereka minta ia akan kabulkan asal mau menyediakan layanan tambahan semisal
memadamkan api birahinya disaat-saat genting seperti itu.
Lamunan Profesor
Suad sontak buyar saat pembantunya masuk tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi
seperti kertas. Nada suaranya gugup
penuh ketakutan.
“Tuan, diluar
ada beberapa orang polisi mencari tuan.”
Mendengar
laporan demikian lelaki tua itu terkejut.
“Polisi...?!!” irama kalimat tanya yang keluar dari mulutnya
agak bergetar menandakan ketidak tenangan.
Namun cepat ia menguasai diri dan berusaha tersenyum kepada pembantunya.
“Ya, sudah, biar
saya temui.” Ia pun berdiri dan
melangkah menuju ruang tamu.
“Selamat siang,
Pak!” sapa komandan sambil berdiri dan memberi hormat ketika melihat sang
profesor tiba di ruang tamu. Dua orang
polisi lain yang duduk menemani turut pula berdiri.
“Selamat siang.
Silakan duduk. Ada apa ini?”
“Bapak diminta datang ke kantor polisi sekarang juga untuk
pemeriksaan. Ini surat
panggilannya,” komandan tadi berkata
dengan tegas dan berwibawa sambil menyerahkan sepucuk surat bersampul lambang
kepolisian negara.
Sang profesor
lansung mengambil surat itu dan membaca isinya.
Tangannya terlihat gemetaran.
Seusai membaca, matanya terlihat liar memancarkan kemarahan.
“Keluar kalian dari rumahku! Apa
kalian tidak tahu siapa aku?!” bentak
sang profesor dengan congkaknya.
Kemudian ia menjejakkan kaki meninggalkan para tamu tak diundang dan
langsung menuju laboratorium pribadinya.
Ia cepat-cepat mengunci pintu ruang kerjanya tersebut. Tak hanya itu saja, sederetan meja dan lemari
ia rapatkan ke pintu agar tidak bisa dibuka dari luar. Orang-orang berseragam polisi tadi menyusul
namun tidak bisa masuk ke ruangan. Jadi
mereka hanya bisa berdiri didepan pintu meminta Profesor Suad keluar dan
menyerah baik-baik. Kalau tidak, mereka
mengancam akan mendobrak pintu dan menyeretnya keluar dengan paksa.
Di halaman rumah itu para tetangga sudah berkerumun ingin menyaksikan
apa yang sedang terjadi. Wajah mereka
membiaskan keheranan. Mereka tahu persis
kalau yang biasanya datang bertandang kerumah ilmuwan kawakan itu orang-orang
berdasi dengan mengendarai mobil mewah sekelas pengusaha kaya. Sesekali ada juga pejabat negara
bersilaturrahmi. Lain waktu lagi yang
datang adalah wartawan dan juru foto yang hendak mewawancarai. Tapi kali ini yang menyatroni adalah
sekelompok polisi, lengkap dengan mobil tahanan juga para wartawan dan juru
foto.
Dari sejak kepindahannya ke lingkungan itu sepuluh tahun yang lalu para tetangga hanya mengetahui Profesor
genius itu orang penting. Wajahnya
sering muncul di layar televisi memberikan ulasan ilmiah dalam beragam acara,
terutama mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Belum pernah mereka dengar Profesor Suad
terlibat kriminal apa pun. Apa ia
terlibat terorisme dengan kemampuan memformulasikan zat-zat kimia yang begitu
dikuasainya serta turut merancang bom seperti belakangan marak
diberitakan. Begitu bisik-bisik yang
keluar dari mulut para tetangga.
“Kalian hanya orang suruhan yang
buta. Tidak melihat dulu dengan siapa
kalian berhadapan. Pimpinan kalian pun
kenal baik denganku, bahkan sampai hakim agung dan menteri pertahanan pun
teman-temanku,” teriak si genius dari dalam ruang laboratorium. Suaranya demikian tinggi melengking hingga
menerobos lolos ke halaman.
Mendapat
perlakuan demikian abdi negara pelindung dan pelayan masyarakat itu seketika
bergerak, berupaya mendobrak pintu.
Upaya tenaga tidak berhasil, salah seorang mengeluarkan pistol dan
menembak bagian kunci pintu. Kemudian
mereka serempak mendorong dengan sekuat tenaga dibantu para wartawan yang
menyertai. Profesor Suad akhirnya
berhasil mereka borgol, lalu dibawa keluar menuju mobil tahanan. Yang terdengar kemudian hanyalah suara
raungan sirine mobil polisi.
***
Dua minggu kemudian.
“Saudara terdakwa, Anda dengan tegas menolak didampingi seorang
pengacara untuk membela saudara. Kenapa?” tanya hakim yang memimpin persidangan
pada minggu terakhir bulan Desember.
Pak hakim terkenal paling kere, namun jujur dan anti suap; santun
tetapi tegas dalam masalah penegakkan keadilan dan tidak pandang bulu.
“Pak hakim, saya tidak butuh didampingi orang dungu yang tidak memahami
perubahan kimia dalam tubuh manusia.
Lebih baik saya membela diri sendiri.
Mohon Pak hakim mengizinkan,”
kilah sang genius dengan segala kepongahan ilmiahnya.
“Baiklah kalau demikian. Mari
kita mulai. Silakan saudara jaksa
penuntut umum membacakan tuntutannya.”
“Terima kasih. Bapak Hakim yang
mulia... Sidang yang terhormat...” Jaksa penuntut umun memulai, tingkah lakunya
tampak dibuat-buat dan nada suaranya diberat-beratkan seperti berkhotbah atau
berkampanye.
“Bebepa bulan yang lalu kami mendapat laporan dari seorang pemilik
rumah yang secara tidak sengaja menemukan tulang belulang manusia saat tukang
bangunan menggali tanah untuk pondasi perluasan rumah. Rumah yang ditempati pemilik sekarang
dibelinya dari terdakwa sebelas tahun yang lalu. Kami pun mengadakan otopsi dan
kedapatan tulang yang ditemukan ternyata milik dua orang. Yang satu perempuan berumur dua puluhan dan
yang lain milik seorang bayi tujuh bulan.
Kuat dugaan bahwa perempuan ini sedang mengandung. Hasil otopsi menujukkan bahwa korban
meninggal karena minum racun. Jenis
racun mematikan yang sangat kuat.
Belakangan kami ketahui bahwa racun jenis ini diramu berdasarkan formula
hasil temuan terdakwa yang merupakan hak patennya, meskipun kemudian formulanya dibeli oleh
negara tetangga untuk keperluan senjata kimia.
Kuat dugaan bahwa korban mati dibunuh lalu dipendam untuk menghilangkan
jejak, karena terlihat posisi tulang tidak seperti tulang mayat yang dikuburkan
secara layak. Idenntitas korban pun sudah kami ketahui. Ia bernama Maharani yang dulu pernah bekerja
kepada terdakwa sebagai asisten paruh waktu.
Menurut pengakuan terdakwa sendiri Maharani telah dikirim ke luar negeri
untuk melanjutkan study mengingat bakatnya yang begitu menonjol dalam bidang
kimia. Hal ini kami ketahui dari surat yang dikirim terdakwa kepada keluarga
korban tiga belas tahun yang lalu.
Barang bukti yang berupa surat ini akan kami perlihatkan kepada
hakim.”
Jaksa penuntut umum melangkah mendekati hakim dan menyerahkan barang
bukti. Pimpinan sidang membaca surat
tersebut baris demi baris dan terlihat mengangguk-anggukan kepala. Lalu terdakwa diminta maju untuk melihat
sendiri surat itu dan ditanya kalau itu darinya. Terdakwa mendadak terlihat pucat, tidak bisa
mengelak karena ia melihat goresan tangannya sendiri di atas kertas itu. Jaksa penuntut lalu melanjutkan.
“Dari surat tersebut kami ketahui bahwa Maharani sang korban sebenarnya
tidak dikirim ke luar negeri, melainkan keluar dunia, alias ke akhirat. Karena jasad korban, berdasarkan hasil otopsi
lagi, telah terpendam selama hampir tiga belas tahun.”
Para hadirin yang menyaksikan sidang mengeluarkan suara riuh rendah
demi mendengar penuturan jaksa penuntut umum.
Terdakwa semakin pucat pasi dan gemetaran. Namun seketika ia menegakan badan kembali dan
berusaha terlihat tidak bersalah serta tetap angkuh.
“Bagaimana pembelaan saudara terdakwa?”
tanya hakim.
“Oh, salah besar, Pak
hakim. Saya tidak meracuninya. Dia yang menenggaknya sendiri. Kenapa dia minum teh yang saya tuangi sedikit
racun. Saya tidak menyuruhnya minum. Lalu setelah meregang nyawa, saya
menguburkannya. Sebab dia sudah tidak
bisa menggali kubur sendiri,” kilah sang
profesor dengan bangganya. Lalu ia
melanjutkan pembelaannya.
“Kalaupun perbuatan saya dahulu itu dianggap salah, saya tidak bisa
dihukum sekarang, sebab saya sudah berbeda.”
Semua hadirin melongo keheranan, tidak menyangka sang profesor genius
itu bisa sedemikian dungu dan linglung, kebelinger.
“Lantas kenapa
saudara terdakwa berbohong dengan menyurati keluarga korban bahwa dia pergi ke
luar negeri untuk belajar lagi. Apa pula
yang saudara maksudkan dengan sekarang sudah berbeda?”
“Saya tidak berbohong, Pak hakim.
Maharani memang sudah keluar negeri, tetapi kembali lagi untuk menuntut
saya menikahinya karena dia sedang hamil.
Dia tidak mau kembali ke rumahnya karena malu. Kami tidak memiliki kesepakatan untuk
menikah. Toh dia dibayar memang untuk
membantu dan melayani saya. Begitu
perjanjiannya. Maka sudah tentu saya
tidak bersedia menikahinya.”
“Dan yang Saudara maksudkan sekarang sudah berbeda?”
“Oh iya, itu. Begini, pak
hakim,” Sang profesor langsung nyerocos
memberi ceramah ilmiah.
“Pada dasarnya tubuh kita senantiasa mengalami perubahan kimia dan
pergantian sel-sel. Umpamanya kepala
saya kini telah beruban semua, padahal sepuluh tahun yang lalu masih hitam. Luka ditangan saya kini telah mengering dan
berganti dengan daging baru. Kalau saya
tanya, Suad yang sebenarnya itu yang mana.
Suad waktu bayi, waktu kanak-kanak, remaja, sepuluh tahun yang lalu atau
yang sekarang. Padahal semua susunan
kimianya tidak sama dari waktu ke waktu.
Jadi saya tidak bisa dihukum sekarang.
Kalau pun saya harus dihukum juga akibat kesalahan dimasa lalu, kenapa
uban saya dan daging baru ditangan saya harus turut dihukum? Padahal ia belum ada tiga belas tahun yang
lalu. Kalau Pak hakim mengambil pendapat
para spiritualis bahwa hakekat manusia adalah roh dan jiwa yang tidak mengalami
perubahan fisik, umpamanya, silakan hukum roh dan jiwa saya kalau memang
bersalah. Tetapi apa ada terali besi
untuk roh dan jiwa? Ha..ha..ha. Tentu tidak ada. Jadi saya tidak bisa dihukum dengan jasad
saya yang sekarang, karena jasad tua ini tidak bersalah. Yang salah itu jasad yang lalu. Disini saya lihat ada Doktor Farid, ahli
kimia juga. Beliau pasti akan bisa
memberikan kesaksian ilmiah dan sependapat dengan saya.”
Para hadirin tambah melongo, terkagum-kagum dengan penjelasan ilmiah
Profesor Suad. Mereka tambah
kebingungan, tidak sanggup menilai apakah terdakwa orang gila atau kelewat
pinter. Hanya Doktor Farid yang
kelihatan tersenyum-senyum.
Hakim yang tetap tenang itu kemudian meminta kesediaan Doktor Farid
untuk tampil memberi penjelasan. Doktor
Farid langsung maju dan mengulas masalah organis tubuh manusia, tentang
kandungan kimia dalam anatomi yang menurut data mengandung berbagai macam asam
amino dan lebih lanjut dia menyebut nyebut beragam nama zat yang terdapat dalam
tubuh semacam oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor, kalsium, ferum,
sulfur, yodium, magnesium dan lain lain.
Dia mengatakan bahwa unsur-unsur diatas terus menerus mengalami proses
pergantian. Kemudian Dokter Farid
menutup urainnya dengan ungkapan;
“Saya hanya menuturkan fakta dan sama sekali tidak bermaksud membela
terdakwa. Tetapi yang Profesor Suad
katakan memang benar menurut ilmu pengetahuan modern. Terserah hukum mau mengakuinya atau tidak,
itu berada diluar otoritas saya.”
Jaksa penuntut umum tampak merah padam, tidak bisa mendebat fakta
ilmiah yang barusan dipaparkan karena memang berada diluar disiplin ilmunya,
namun dia tidak bisa menerima secara hukum.
Aturan hukum yang berlaku sama sekali tidak melihat sejauh itu. Ia dibuat kelimpungan, tidak bisa membantah
uraian yang sedemikian masuk akal.
Seketika rontoklah harapannya untuk bisa populer karena mampu
menjebloskan orang besar itu ke penjara.
Hadirin tidak kalah heboh.
Mereka membuat kegaduhan sendiri. Mereka terbelah kedalam kerangkeng pro
dan kontra ditambah kelompok sisa yang tidak mengerti sama sekali apa yang
sedang berlangsung, namun tetap memaksakan diri berkomentar. Akhirnya hakim mengketuk-ketukan palu dan
mengumumkan bahwa sidang ditunda hingga minggu depan.
Seminggu kemudian pada hari yang telah ditentukan, hadirin telah
berjejal-jejal ingin menyaksikan nasib yang akan diterima ilmuwan pesakitan
itu. Jumlah mereka kian bertambah karena
didorong oleh pemberitaan media massa yang marak melaporkan kasus ini. Bahkan ada salah satu stasiun televisi yang
ingin meliputnya secara langsung.
Sidang tampak telah dimulai.
“Selama seminggu penuh saya benar-benar mengerahkan segala daya untuk
menyelidiki kasus ini. Saya mempelajari sendiri hasil otopsi juga meminta
sampel jenis racun yang digunakan. Pada
kesempatan lain saya juga mengkaji buku-buku yang mengulas masalah organis
tubuh manusia. Saat ini seolah olah
hukum berhadapan dengan fakta ilmiah yang jelas-jelas kebenarannya bersifat
universal. Alangkah salah kalau hukum
pidana hanya mengakui kebenaran sendiri tanpa mempertimbangkan kebenaran dari
sudut lain yang lebih luas sifatnya.
Saya sebagai hakim tidak bisa membantah kebenaran yang dipaparkan oleh
saudara terdakwa dan juga diulas dan dipertegas oleh Doktor Farid. Jadi saya cenderung mengatakan bahwa jasad
terdakwa yang sekarang tidak terlibat dalam perkara pembunuhan korban yang
bernama Maharani.”
“Tetapi yang mulia, terdakwa ini jelas-jelas...,” potong jaksa penuntut
umum sambil berdiri mengangkat tangan.
“Diam kamu, apa saya tidak cukup memberikan kesempatan berbicara. Waktu kamu berbicara saya tidak menyela sama
sekali! Saya juga menyelidiki motif kamu
sebenarnya dalam sidang ini, termasuk permainan kotor dibalik meja yang kamu
lakukan bersama saingan terdakwa dari kalangan ilmuwan!” bentak hakim sambil
memandang tajam ke arah jaksa penuntut umum.
“Kalau kamu tidak senang dengan sidang saya, silakan keluar!” lanjutnya
lagi.
Dibentak demikian keras jaksa penuntut umum tertunduk malu kehilangan
muka. Untuk pertama kali dalam kehidupan
karirnya ada yang terang-terangan membuka kedoknya. Ia merasa seperti ditelanjangi. Para hadirin pun terpaku melongo seperti
dihipnotis, tidak sanggup menatap hakim yang begitu tegas dan berwibawa.
“Saudara terdakwa jelas telah memiliki niat menghabisi korban juga
janin yang sedang dikandungnya untuk menghindari tanggung jawab. Kemudian merencanakan pembunuhan dengan cara
meracuni. Korban boleh jadi tidak
disuruh minum. Tetapi menuangkan racun
kedalam minuman pasti mengandung unsur kesengajaan. Buktinya kenapa teh itu tidak diminum oleh
terdakwa sendiri. Jasad terdakwa yang
sekarang boleh jadi tidak terlibat pembunuhan itu. Tetapi ia tetap bersalah karena membiarkan
jasad yang lama musnah. Dengan kata lain
terdakwa melingdungi penjahat dalam dirinya.
Satu hal lagi. Polisi belum
mengadakan reka ulang, maka saya minta terdakwa mengulang peristiwa minum racun
tersebut. Ini saya bawakan dua buah
gelas, satu kosong dan satu lagi berisi
teh. Saya minta terdakwa menunjukkan
cara korban mereguk minuman bercampur racun yang tidak diketahuinya itu.”
Seorang petugas mendekati hakim dan mengambil kedua buah gelas untuk
disodorkan kepada terdakwa. Terdakwa
tanpa pikir panjang langsung mengambil gelas berisi teh, berdiri dipojok agar
dapat dilihat oleh semua yang hadir dan langsung menenggak teh yang
digenggamnya. Kemudian ia berjalan
menuju tempat duduknya. Namun belum
sampai duduk ia sudah roboh lebih dulu dengan mulut berbusa. Beberapa saat kemudian ia meregang nyawa.
Para hadirin seketika ribut. Para juru foto langsung mengambil kamera
dan mengabadikan gambar terdakwa yang telah jadi mayat. Petugas pengadilan yang sedang berjaga segera
membopong mayat ke luar persidangan dibantu dua orang polisi. Jaksa penuntut umum terlihat bengong tidak
mengerti. Hakim mengketuk-ketukan palu
meminta hadirin tenang. Setelah mereka
duduk kembali dengan tenang, pimpinan sidang melanjutkan.
“Saudara-saudara sekalian pasti kebingungan dan kurang memahami apa
yang terjadi. Izinkan saya
menjelaskan. Banyak orang besar yang
berbuat kesalahan terbebas dari jeratan hukum karena kelihaian mereka berkilah
dan mencari-cari alasan yang dipaksakan bisa diterima akal. Hebatnya lagi terkadang mereka mengetahui
kelemahan aturan hukum. Kalau sudah
demikian biasanya kita tidak menemukan terali besi yang sanggup
memenjarakan. Bagi saya, mereka boleh saja lolos dari terali besi
tetapi tidak bisa lolos dari keadilan. Lihat
orang tua korban yang harus kehilangan seorang anak harapannya. Bisakah kita meraba kekecewaan mereka bila penjahat
tersebut terbebas dari tanggung jawab hukum yang harus dipikulnya. Kita semua tahu Profesor Suad bersalah. Cara saya memberi hukuman bisa jadi keliru
dan tidak disetujui aturan hukum yang berlaku.
Namun saya tegaskan bahwa saya diangkat dan dipekerjakan terutama
sebagai penegak “keadilan”, bukan sekedar penegak hukum. Saya yang menuangkan racun hasil ramuan
terdakwa sendiri kedalam teh yang diminumnya tadi. Padahal saya tidak meminta dia meminumnya. Saudara-saudara semuanya tadi mendengar saya meminta
terdakwa untuk menunjukkan cara korban mereguk minuman yang telah
dibubuhi racun. Sebenarnya ia bisa
menunjukkannya dengan gelas kosong yang sama saya sediakan. Namun dia lebih memilih gelas yang berisi
teh. Senjata makan tuan tampaknya. Terpaksalah ia dipensiunkan dari masa
kecongkakannya. Nyawa dibayar dengan nyawa.
Biarkan nyawanya masuk penjara alam barzakh. Itulah keadilan. Demikianlah kejadiannya.” Dan Pak hakim mengetuk palu tanda sidang
telah ditutup.
“Hidup pak hakim...! Hidup pak hakim...!”
para hadirin mengelu-elukan pimpinan sidang.
***