Jumat, 02 September 2011

Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa (1): Mimpi di Siang Bolong

Akhir-akhir ini tema pendidikan karakter bangsa menghangat, terutama sejak peringatan hari pendidikan nasional 20 Mei 2011. Beragam ungkapan bersahut-sahutan melukiskan keprihatinan atas ketidakterpujian tindakan kekerasan keseharian. Kalangan akademisi merespons dengan ramai-ramai berdiskusi, menguras isi benak untuk merajut konsep dan mengusulkan masukan rumusan ulang sistem pendidikan nasional. Masyarakat perduli turut memberi kontribusi pekerti, baik pada forum tatap muka maupun lewat tulisan. Namun sayang, yang dibahas lebih banyak terpusat pada pendidikan formal. Inti dan kupasan perbicaraan hanya ditekankan pada pendidikan di taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Entah karena lupa atau sengaja tidak mengindahkan, pakar-pakar atau yang mengaku-ngaku maha guru amat sangat sedikit sekali mengulas dua lingkungan pendidikan lainnya, yakni pendidikan rumah dan masyarakat. Kita mengenali dengan persis bahwa lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat berkait-berkelindan mewarnai kepribadian dan karakter peserta didik, dan bahkan mantan peserta didik serta pendidiknya sendiri.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan dan mempercayakan pembentukan karakter peserta didik hanya kepada lembaga pendidikan formal. Andai saja zamannya seperti waktu tahun tujuh-puluhan kebelakang setelah masa kemerdekaan atau para pendidiknya seperti guru dan kepala sekolah di novel ’Laskar Pelangi’, mungkin pemberian mandat penuh bisa dilakukan. Namun masa sudah tidak sama, apalagi nama baik sekolah sudah banyak yang tercoreng dan terkoyak.

Bukankah praktek ’jual bangku’ masih terus berlaku? Akankah kita pungkiri bahwa prilaku memark-up nilai terus menerus menari dengan gemulai pada pentas panggung terbuka? Ada pula rutinitas tahunan dalam perniagaan jual-beli kunci jawaban UAN. Juga praktek contek masal atas prakarsa dan dukungan pendidik sendiri demi ’reputasi’ institusi. Di beberapa perguruan tinggi pun masih ada sisipan angpaw buat sang dosen pembimbing atau paling tidak hadiah buku yang harganya melejit selangit demi lulusnya sebuah karya tulis akademis sang calon sarjana.

Gambaran buruk sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya sampai di sana. Program sertifikasi menjadi duri tersendiri bagi keutuhan dan totalitas pelaksanaan pembelajaran sehari-hari. Bukankan dewasa ini guru lebih banyak bergelut dan bergulat dengan pemenuhan prasyarat administrasi (semacam penyusunan RPP dan portfolio yang menjelimet dan bikin keder si awam itu) tinimbang mengurusi dan memperhatikan perkembangan peserta didik secara individual? Belum lagi OSPEK dan kegiatan perpeloncoan yang tidak pernah sepi dan terbebas sama sekali dari tradisi kekerasan.

Saya tidak memungkiri masih terdapatnya institusi-institusi pendidikan terpercaya, seperti lembaga-lembaga swasta terkemuka yang mematok biaya di atas kemampuan rakyat jelata. Sekolah berstandar internasional dan nasional banyak yang layak dinilai normal, sekalipun sistem penerimaannya selalu menjegal calon murid berotak bebal versi nilai standar kompetensi nasional yang sepenggal-sepenggal.

Bagaimana dengan dukungan pendidikan lingkungan rumah dan masyarakat?

Di rumah sulit ditemukan ayah-bunda yang sudi menghabiskan waktu untuk membuat perencanaan pendidikan yang sistematis dan matang bagi putra-putri mereka, baik karena ketidaktahuan maupun ketidakperdulian. Yang umum dipikirkan berkisar mengenai biaya serta sesekali anjuran dan perintah kepada si anak untuk belajar di rumah. Tapi sayang, pengertiannya terbatas pada membaca, menghafal atau mengerjakan PR.

Memang ada orang tua yang kebetulan berkemampuan memasukkan anak mereka ke tempat bimbel demi perbaikan nilai mata pelajaran sekolah. Jika kesadaran keagamaan hidup, dikirimkannya dia ke TKA, TPA atau madrasah dan tempat memperdalam ilmu agama sejenisnya. Orang tua yang cukup mengerti dan bijaksana adakalanya mendorong anak mereka mengikuti latihan pengembangan bakat dan kreativitas di sanggar seni atau klub olah raga. Namun yang kurang faham malah mengharuskan putra-putrinya kursus bahasa asing dan matematika yang umumnya mengedepankan pembinaan otak kiri semata.

Sisi yang paling menyedihkan adalah pembiaran yang membahayakan. Anak-anak diizinkan bermain bebas tak terarah sekehendak hati selama yang mereka mau. Online games dan video games memperbudak. Acara-acara televisi yang miskin unsur-unsur edukatif sering menjadi alternatif suguhan pendidikan keseharian. Termasuk diantaranya sinetron-sinetron yang menyiratkan persaamaan antara keshalihan dengan kedunguan, kelemahan, kecengengan dan kelabilan karakter tokoh-tokoh protagonisnya; juga kegaduhan politik yang tercermin dari debat kusir para politisi kampungan dan murahan. Sesekali acara hiburan dilengkapi dengan lagu-lagu serta tarian yang mengungkapkan gelora birahi dibungkus dengan nama cinta. Hasilnya bisa kita lihat, anak-anak seumur jagung pun sudah pandai mendendangkan lagu-lagu asmara.

Lingkungan masyarakat luas tidak kurang ikut menyayat. Unjuk keangkuhan, pamer kekayaan, tontonan kekerasan, ancaman keselamatan, keculasan, kecabulan terang-terangan, kenakalan, penipuan dan prilaku tak terpuji lainnya menjadi hiasan sehari-hari. Sampai-sampai kita sering mempertanyakan, separah itukah kehidupan kebangsaan. Di manakah perlindungan yang dinyatakan dalam undang-undang?

Merujuk kepada undang-undang sistem pendidikan nasional sendiri, outcomes pendidikan sebenarnya sudah jelas dinyatakan, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab.

Dari sini tampak jelas bahwa antara cita-cita pendidikan dalam membentuk karakter bangsa dalam jiwa peserta didik dan upaya menggapainya amatlah kontras bertolak belakang. Seperti panggang jauh dari api atau mimpi di siang bolong. Apalagi jika pelaksanaannya hanya dipasrahkan pada lingkungan pendidikan sekolah dan perguruan tinggi yang cuma beberapa jam saja dihabiskan peserta didik di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar