Rabu, 14 September 2011

Penjual Batu Bertuah

Melewati jalur Pantura bukanlah merupakan hal yang menyenangkan bagi siapa pun.  Asap kendaraan membekap udara bersih di langit ini.  Suara bising klason menggetarkan ether, juga jantung.  Sopir-sopir bis dari Jawa kebelet ingin buang air kecil, air sedang dan air besar tiap kali melintasi daerah ini.  Entah kenapa.  Yang jelas bila sampai di tujuan, barulah perasaan itu mendadak hilang.  Namun bila kembali lagi ke lintasan itu, keinginan untuk buang air mendadak muncul lagi, baik saat pergi maupun saat balik.  Aneh memang.
Namun Karma tidak perduli dengan keadaan ini.  Ia terus saja berjalan kaki dari mulai jantung kota Cirebon hingga ke ibu kota melintasi jalan Pantura.  Baginya bau yang campur aduk di sepanjang jalanan itu menjanjikan keberhasilan.  Suara bising klanson menjelma petuah Bapak Proklamasi, maju terus dan pantang mundur.  Ia begitu yakin kali ini usahanya menjual batu-batu bertuah di Jakarta akan membuatnya kaya raya.
Sebelum melakoni kebiasaan orang baduy pedalaman seperti ini,  Karma sudah melakukan tapa barata selama empat puluh hari empat puluh malam, ditambah tujuh hari puasa pati geni.  Belum lagi berendam di air sungai dan telaga, masing-masing selama dua puluh satu hari berturut-turut.  Tujuannya hanya satu, ingin mendapatkan batu-batu mustika yang konon mengandung kesaktian.  Berhasillah akhirnya dia menarik semuanya dari alam gaib.  Tekadnya pun sudah bulat.  Bila mustika itu sudah didapatkan ia akan menjualnya di ibu kota yang kepadatan penduduk itu.
Setiba di Jakarta Karma melihat orang-orang berkerumun di sebuah pasar.  Ia keheranan, ia ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.  Segeralah ia berjalan mendekat.  Seseorang terdengar berteriak-teriak lantang.  Kagetlah Karma ketika bergabung dengan kerumunan orang-orang itu.  Ternyata pesaingnya sudah lebih dulu tiba dan sekarang sedang mengobral batu-batu cincin.
“Kesaktian apa yang ingin saudara-saudara miliki, semuanya sudah tersedia disini!  Jauh-jauh saya bawa dari Banten!  Silakan, tinggal menyebutkan saja.  Harganya pun terjangkau!”  teriak si pengobral batu mustika.
“Ah, hanya orang bodoh yang tidak tahu pangsa pasar menjanjikan,” bisik hati Karma.
“Eh, apa kau bilang?!  Kau pikir aku ini orang bodoh yang tidak tahu pasaran heh?!!” bentak si tukang obral batu kepada Karma.
Karma tidak merasa heran.  Di Cirebon sana sering ia temui orang-orang yang sanggup membaca kata hati.  Makanya ia cuma garuk-garuk kepala dan meminta maaf, kemudian segera berlalu dari hadapan tukang obral itu.
Kembali menelusuri jalan raya membuat cita-cita di hati tambah menyala-nyala.  Karma ingin juga memiliki mobil-mobil bagus seperti yang dilihatnya.  Ingin juga ia menghuni rumah-rumah mewah seperti yang berdiri di pinggir jalan yang dilaluinya.  Bertambahlah semangatnya.  Semakin dipercepat langkahnya agar segera sampai di tempat orang-orang yang dianggapnya sangat membutuhkan batu-batu bertuah.
Tibalah ia di sebuah departemen pemerintah.  Karma hendak langsung menerobos masuk lewat pintu gerbang, namun keburu dicegat satpam.
“Heh, mau apa kamu?” bentak satpam.
“Ada keperluan penting dengan pejabat.  Mau menawarkan batu-batu bertuah ini,” jawab Karma dengan tenang sambil mengeluarkan batu-batu jualannya.
“Apa khasiatnya, Mang?” suara satpam tiba-tiba melembut dan ramah.
“Kalau untuk orang-orang di departemen ini saya pilihkan yang khusus.  Siapa pun yang memiliki batu ini pasti akan segera naik jabatan dan menjadi kaya raya.”
Mendengar keterangan Karma, si satpam langsung tertawa terbahak-bahak.  Karma mengernyitkan dahi, melongo keheranan.
“Kenapa?  Apa ada yang lucu?” tanya Karma tidak mengerti.
“Kalau cuma sampai disana manfaat batu itu, pasti disini tidak akan laku.”
“Kenapa?  Apa mereka tidak mau naik jabatan dan kaya raya dengan segera?”  Semakin kencanglah tawa si satpam, bahkan matanya sampai berair.
“Disini cukup dengan kepandaian manjilat kalau kepingin segera naik pangkat dan kaya raya.  Sudah, sekarang enyah dari sini!” usir satpam dengan tertawa-tawa.
Karma serta-merta berlalu sambil geleng-geleng kepala.  Baru kali ini didengarnya hal yang demikian mengagumkan.  Di kampung halamannya sana ia tidak pernah menemui khabar berita tentang kedigjayaan dengan jilatan.
“Sakti benar berarti orang departemen itu.  Hanya dengan menjilat, bisa cepat naik jabatan dan kaya raya?!  Lidahnya pasti keramat dan bertuah.  Hebat, hebat, sungguh hebat,” Karma mendecak kagum di hati dan pikirannya.
Karma sampai di sebuah gedung pengadilan.  Dilihatnya orang-orang berlalu lalang.  Tampang mereka bersih.  Pakaian mereka rapi dan necis.  Gembiralah hati Karma melihat target pasarnya.
“Mereka pasti orang-orang kaya,” kata Karma di hatinya.  Segeralah ia dekati orang-orang itu dengan penuh harap.
“Bapak, Ibu, saya membawa batu-batu bertuah dari Cirebon, hasil tirakat saya sendiri,”  Karma menawarkan jualannya.  Orang-orang pun segera mengerumuni Karma.
“Apa khasiatnya, Mang?” tanya salah seorang.
“Kalau untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, saya pikir batu-batu yang menjadikan kebal ini pasti cocok untuk melindungi nyawa dan harta.  Ini bisa menjadikan seseorang kebal senjata.”
Karma meyakinkan mereka dengan sedikit unjuk kesaktian.  Ia pegangi salah satu batunya, dikeluarkannya sebilah golok tajam, dibacok-bacokannya golok itu ke bagian-bagian tubuhnya.  Si penjual batu bertuah dari Cirebon ini benar-benar kebal.  Demikian pula lidahnya saat dijulurkan dan disayat dengan senjata itu.  Rambutnya pun begitu, tidak selembar pun yang bisa diputuskan.  Namun anehnya orang-orang yang berkerumun itu malah tersenyum-senyum dan tertawa-tawa.
“Mang..., Mang...,” seseorang mengomentari pertunjukan gratis dari Karma sambil tetap tertawa, “kalau cuma kebal begitu sih disini juga banyak yang lebih sakti.  Tuh, Emang lihat sendiri orang-orang yang sedang disidang itu.  Mereka semuanya orang-orang kebal, kebal hukum dan kebal penjara, juga kebal muka.  Padahal mereka bersalah, telah merugikan negara dan bangsa ini.”
“Sehebat itu kesaktian mereka?!  Sampai hukum yang katanya berkuasa pun bisa jadi tumpul saat dibacokkan kepada mereka?!”  tanya Karma, ingin meyakinkan diri.
“Betul, bahkan tiada terali besi yang sanggup mengekang mereka.  Emang saksikanlah sendiri kalau tidak percaya.”
Karma pun kemudian menyaksikan jalannya sidang sampai selesai.  Ia berdecak dengan penuh kekaguman terhadap kesaktian para pesakitan itu.  Jelas-jelas mereka bersalah.  Tegas-tegas mereka sudah di kepung dari berbagai jurusan, oleh masyarakat, oleh media massa, tetapi tetap saja mereka bisa lolos dan kebal terhadap mata pedang hukum yang tajam berkilat itu.
Dengan hati sedih Karma segera berlalu dari gedung pengadilan.  Batu-batu mustika hasil tirakat panjangnya belum satu pun yang terjual.  Padahal ia telah bersusah payah berjalan kaki selama berhari-hari.  Tirakat panjangnya sebelum ini pun demikian khusyu pula.  Tapi jelas belum berarti apa-apa.
“Ya, Tuhan, berilah hamba-Mu setetes rezeki.  Perut hamba terasa panas menahan lapar dan haus berkepanjangan...” jerit hati Karma di muka gerbang langit.
Langit mendung, awan tebal dan hitam pekat berarak membentengi kemilau sinar matahari.  Karma berjalan sempoyongan.  Terasa penat benar tubuhnya.  Betisnya pun terasa menebal dan kaku.  Namun ia paksakan juga berjalan hingga tiba di sebuah gedung mewah.  Didapatinya sekelompok fakir miskin dari berbagai jenis berkumpul di depan gerbang gedung mewah itu.  Karma pun segera mendekati mereka.
“Gedung apa ini?” tanya Karma.
“Gedung DPR – MPR.  Kamu baru pertama kali kemari?”
“Iya.  Jadi disini toh tempat wakil-wakil rakyat bermufakat?”
“Tidak salah.”
“Ngomong-ngomong, ada diantara kalian yang mau membeli batu-batu saktiku?”
“Dari mana kami punya uang?  Pasti mahal harganya?”
“Tidak.  Kali ini aku obral murah, asal bisa dapat uang buat makan dan minum hari ini.  Itu sudah cukup.”
“Apa khasiatnya?”
“Banyak.  Ada untuk kemudahan karir dan jabatan.  Ada juga untuk kekebalan dan pengasihan.  Pokoknya apa saja ada, lengkap.”
“Dari mana kamu dapatkan batu-batu ini?”
“Hasil tirakatku sendiri.”
“Coba kamu tawarkan saja kepada orang-orang di gedung itu.”
“Apa boleh masuk kesana?”
“Tentu.  Ini kan gedung milik wakil kita.”
Karma pun kemudian melangkah masuk mendekati gedung itu.  Baru saja sampai di halaman, ia sudah diberhentikan oleh seorang petugas kebersihan di gedung itu.  Si petugas masih memegangi sapu lidi.  Tampaknya baru hendak menyapu halaman.
“Mau apa, Mang?”
“Mau menjual batu-batu sakti dan bertuah ini kepada wakil-wakil kita di dalam sana.  Boleh tidak?” 
Serta merta si penjaga gedung itu tertawa terpingkal-pingkal demi mendengar ucapan Karma yang polos.  Bahkan saking gelinya ia sampai bergulingan di halaman dengan kaki kelojotan.  Karma tentu saja melongo keheranan.
“Kenapa?”
“Kamu salah alamat, Mang.  Justru disinilah pusatnya orang-orang sakti dan bertuah.”
“Maksudmu?” tanya Karma tidak mengerti.
“Kamu ingin menjual batu bertuah agar mereka kebal?”
“Benar.”
“Kamu juga ingin agar mereka memiliki batu wulung supaya bisa berpindah kesana kemari dengan cepat dan selamat?”
“Betul.”  Karma tambah keheranan.
“Juga batu untuk pesugihan, untuk pengasihan, untuk jabatan dan lain-lain?”
“Dari mana kamu tahu semuanya?”
“Aku bekerja disini.  Berbagai manusia sakti mandraguna semuanya ada dalam gedung itu.  Jadi pasti mereka tidak akan butuh batu-batu sakti murahan yang kamu tawarkan.”
“Aku tidak mengerti,” kata Karma sambil terus bengong dan melongo.
“Sobat, disinilah tempatnya kekebalan, kebal hukum dan kebal pendengaran terhadap lolongan penderitaan rakyat.  Kamu lihat orang-orang fakir miskin di luar sana?”
“Iya betul.”
“Nah mereka sudah berhari-hari berteriak-teriak, bahkan sampai berbulan dan bertahun.  Namun tidak satu pun orang-orang di dalam sana yang tersentuh jeritan tajam menikam dari mulut pendemo itu.”  Karma manggut-manggut dan tambah melongo.
“Kamu sudah menawarkan batu-batu ini kepada orang-orang di gedung-gedung departemen dan pengadilan?”
“Sudah.”
“Orang-orang seperti mereka disini banyak juga.  Sudah terkepung masih juga bisa lolos.  Kebal betul orang-orang di dalam sana.  Lidahnya, tubuhnya, kupingnya, matanya, mukanya, termasuk harta kotor dan kedudukan mereka.  Aku mengenali betul kesaktian mereka.  Penghuninya memang ganti-berganti, tapi masih tetap orang-orang sakti semacam itu-itu juga.”  Karma tambah manggut-manggut.
“Sudahlah, sebaiknya kamu pulang saja.”
“Boleh aku tanya sesuatu dulu?”
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Batu keramat apa sebetulnya yang mereka pakai?”
Penjaga gedung itu tersenyum lebar mendengar keingin-tahuan Karma.
“Mereka tidak pakai batu-batu bertuah dari luar, Mang.  Batu andalan mereka sudah terpasang secara otomatis di tubuh.  Kami pun disini sedang menunggu kematian mereka, agar hatinya yang sudah menjadi batu sakti, batu keramat dan bertuah itu bisa kami ambil untuk kami pakai sendiri.  Siapa tahu kami bisa jadi sakti mandraguna dan kaya raya seperti mereka yang di dalam gedung itu.”
Tidak bisa tidak, Karma segera hengkang dari situ.  Hatinya tak henti-hentinya berkata-kata dengan lirih.
“Ternyata bohong belaka yang dikatakan mereka bahwa di Jakarta mudah sekali mencari uang.  Di ibu kota ini ternyata orang-orang sakti jumlahnya seabreg-abreg.  Pasti tidak hanya di tiga tempat yang aku datangi itu saja, di tempat-tempat lain pun tentulah tidak terhitung lagi jumlahnya.  Ya, Tuhan, ternyata kesaktian yang Engkau anugerahkan padaku tidak seberapa dibanding kedigjayaan mereka...”
Karma kemudian bertekad akan mencoba menjual batu-batu bertuahnya di kota-kota lain.  Bila masih gagal juga, ia berniat akan melakukan tapa barata lagi, puasa pati geni lagi dan juga berendam diri lagi, sampai dapat mengalahkan kesaktian mereka.  Ia berjalan terhuyung-huyung meninggalkan halaman gedung DPR-MPR.   Perutnya terasa disengat bara, merasakan lapar dan haus yang tiada terhingga.  Pandangannya pun berkunang-kunang.  Sesaat kemudian Karma si penjual batu bertuah itu pun roboh pingsan, tepat di ambang pintu gerbang.***

Jakarta, 7 Januari 2004
Penulis;        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar