Melewati jalur Pantura bukanlah
merupakan hal yang menyenangkan bagi siapa pun.
Asap kendaraan membekap udara bersih di langit ini. Suara bising klason menggetarkan ether, juga
jantung. Sopir-sopir bis dari Jawa kebelet
ingin buang air kecil, air sedang dan air besar tiap kali melintasi daerah
ini. Entah kenapa. Yang jelas bila sampai di tujuan, barulah
perasaan itu mendadak hilang. Namun bila
kembali lagi ke lintasan itu, keinginan untuk buang air mendadak muncul lagi,
baik saat pergi maupun saat balik. Aneh
memang.
Namun Karma tidak perduli dengan
keadaan ini. Ia terus saja berjalan kaki
dari mulai jantung kota Cirebon hingga ke ibu kota melintasi jalan
Pantura. Baginya bau yang campur aduk di
sepanjang jalanan itu menjanjikan keberhasilan.
Suara bising klanson menjelma petuah Bapak Proklamasi, maju terus dan
pantang mundur. Ia begitu yakin kali ini
usahanya menjual batu-batu bertuah di Jakarta akan membuatnya kaya raya.
Sebelum melakoni kebiasaan orang
baduy pedalaman seperti ini, Karma sudah
melakukan tapa barata selama empat puluh hari empat puluh malam, ditambah tujuh
hari puasa pati geni. Belum lagi
berendam di air sungai dan telaga, masing-masing selama dua puluh satu hari
berturut-turut. Tujuannya hanya satu,
ingin mendapatkan batu-batu mustika yang konon mengandung kesaktian. Berhasillah akhirnya dia menarik semuanya
dari alam gaib. Tekadnya pun sudah
bulat. Bila mustika itu sudah didapatkan
ia akan menjualnya di ibu kota yang kepadatan penduduk itu.
Setiba di Jakarta Karma melihat
orang-orang berkerumun di sebuah pasar.
Ia keheranan, ia ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Segeralah ia berjalan mendekat. Seseorang terdengar berteriak-teriak
lantang. Kagetlah Karma ketika bergabung
dengan kerumunan orang-orang itu.
Ternyata pesaingnya sudah lebih dulu tiba dan sekarang sedang mengobral
batu-batu cincin.
“Kesaktian apa yang ingin
saudara-saudara miliki, semuanya sudah tersedia disini! Jauh-jauh saya bawa dari Banten! Silakan, tinggal menyebutkan saja. Harganya pun terjangkau!” teriak si pengobral batu mustika.
“Ah, hanya orang bodoh yang tidak
tahu pangsa pasar menjanjikan,” bisik hati Karma.
“Eh, apa kau bilang?! Kau pikir aku ini orang bodoh yang tidak tahu
pasaran heh?!!” bentak si tukang obral batu kepada Karma.
Karma tidak merasa heran. Di Cirebon sana sering ia temui orang-orang
yang sanggup membaca kata hati. Makanya
ia cuma garuk-garuk kepala dan meminta maaf, kemudian segera berlalu dari
hadapan tukang obral itu.
Kembali menelusuri jalan raya
membuat cita-cita di hati tambah menyala-nyala.
Karma ingin juga memiliki mobil-mobil bagus seperti yang
dilihatnya. Ingin juga ia menghuni
rumah-rumah mewah seperti yang berdiri di pinggir jalan yang dilaluinya. Bertambahlah semangatnya. Semakin dipercepat langkahnya agar segera
sampai di tempat orang-orang yang dianggapnya sangat membutuhkan batu-batu
bertuah.
Tibalah ia di sebuah departemen
pemerintah. Karma hendak langsung
menerobos masuk lewat pintu gerbang, namun keburu dicegat satpam.
“Heh, mau apa kamu?” bentak
satpam.
“Ada keperluan penting dengan
pejabat. Mau menawarkan batu-batu
bertuah ini,” jawab Karma dengan tenang sambil mengeluarkan batu-batu
jualannya.
“Apa khasiatnya, Mang?” suara
satpam tiba-tiba melembut dan ramah.
“Kalau untuk orang-orang di
departemen ini saya pilihkan yang khusus.
Siapa pun yang memiliki batu ini pasti akan segera naik jabatan dan
menjadi kaya raya.”
Mendengar keterangan Karma, si
satpam langsung tertawa terbahak-bahak.
Karma mengernyitkan dahi, melongo keheranan.
“Kenapa? Apa ada yang lucu?” tanya Karma tidak
mengerti.
“Kalau cuma sampai disana manfaat
batu itu, pasti disini tidak akan laku.”
“Kenapa? Apa mereka tidak mau naik jabatan dan kaya
raya dengan segera?” Semakin kencanglah
tawa si satpam, bahkan matanya sampai berair.
“Disini cukup dengan kepandaian
manjilat kalau kepingin segera naik pangkat dan kaya raya. Sudah, sekarang enyah dari sini!” usir satpam
dengan tertawa-tawa.
Karma serta-merta berlalu sambil
geleng-geleng kepala. Baru kali ini
didengarnya hal yang demikian mengagumkan.
Di kampung halamannya sana ia tidak pernah menemui khabar berita tentang
kedigjayaan dengan jilatan.
“Sakti benar berarti orang
departemen itu. Hanya dengan menjilat,
bisa cepat naik jabatan dan kaya raya?!
Lidahnya pasti keramat dan bertuah.
Hebat, hebat, sungguh hebat,” Karma mendecak kagum di hati dan
pikirannya.
Karma sampai di sebuah gedung
pengadilan. Dilihatnya orang-orang
berlalu lalang. Tampang mereka
bersih. Pakaian mereka rapi dan
necis. Gembiralah hati Karma melihat
target pasarnya.
“Mereka pasti orang-orang kaya,”
kata Karma di hatinya. Segeralah ia
dekati orang-orang itu dengan penuh harap.
“Bapak, Ibu, saya membawa
batu-batu bertuah dari Cirebon, hasil tirakat saya sendiri,” Karma menawarkan jualannya. Orang-orang pun segera mengerumuni Karma.
“Apa khasiatnya, Mang?” tanya
salah seorang.
“Kalau untuk bapak-bapak dan
ibu-ibu, saya pikir batu-batu yang menjadikan kebal ini pasti cocok untuk
melindungi nyawa dan harta. Ini bisa
menjadikan seseorang kebal senjata.”
Karma meyakinkan mereka dengan
sedikit unjuk kesaktian. Ia pegangi
salah satu batunya, dikeluarkannya sebilah golok tajam, dibacok-bacokannya
golok itu ke bagian-bagian tubuhnya. Si
penjual batu bertuah dari Cirebon ini benar-benar kebal. Demikian pula lidahnya saat dijulurkan dan
disayat dengan senjata itu. Rambutnya
pun begitu, tidak selembar pun yang bisa diputuskan. Namun anehnya orang-orang yang berkerumun itu
malah tersenyum-senyum dan tertawa-tawa.
“Mang..., Mang...,” seseorang
mengomentari pertunjukan gratis dari Karma sambil tetap tertawa, “kalau cuma
kebal begitu sih disini juga banyak yang lebih sakti. Tuh, Emang lihat sendiri orang-orang yang
sedang disidang itu. Mereka semuanya
orang-orang kebal, kebal hukum dan kebal penjara, juga kebal muka. Padahal mereka bersalah, telah merugikan
negara dan bangsa ini.”
“Sehebat itu kesaktian
mereka?! Sampai hukum yang katanya
berkuasa pun bisa jadi tumpul saat dibacokkan kepada mereka?!” tanya Karma, ingin meyakinkan diri.
“Betul, bahkan tiada terali besi
yang sanggup mengekang mereka. Emang
saksikanlah sendiri kalau tidak percaya.”
Karma pun kemudian menyaksikan
jalannya sidang sampai selesai. Ia
berdecak dengan penuh kekaguman terhadap kesaktian para pesakitan itu. Jelas-jelas mereka bersalah. Tegas-tegas mereka sudah di kepung dari
berbagai jurusan, oleh masyarakat, oleh media massa, tetapi tetap saja mereka
bisa lolos dan kebal terhadap mata pedang hukum yang tajam berkilat itu.
Dengan hati sedih Karma segera
berlalu dari gedung pengadilan.
Batu-batu mustika hasil tirakat panjangnya belum satu pun yang
terjual. Padahal ia telah bersusah payah
berjalan kaki selama berhari-hari.
Tirakat panjangnya sebelum ini pun demikian khusyu pula. Tapi jelas belum berarti apa-apa.
“Ya, Tuhan, berilah hamba-Mu
setetes rezeki. Perut hamba terasa panas
menahan lapar dan haus berkepanjangan...” jerit hati Karma di muka gerbang
langit.
Langit mendung, awan tebal dan
hitam pekat berarak membentengi kemilau sinar matahari. Karma berjalan sempoyongan. Terasa penat benar tubuhnya. Betisnya pun terasa menebal dan kaku. Namun ia paksakan juga berjalan hingga tiba
di sebuah gedung mewah. Didapatinya
sekelompok fakir miskin dari berbagai jenis berkumpul di depan gerbang gedung
mewah itu. Karma pun segera mendekati
mereka.
“Gedung apa ini?” tanya Karma.
“Gedung DPR – MPR. Kamu baru pertama kali kemari?”
“Iya. Jadi disini toh tempat wakil-wakil rakyat
bermufakat?”
“Tidak salah.”
“Ngomong-ngomong, ada diantara
kalian yang mau membeli batu-batu saktiku?”
“Dari mana kami punya uang? Pasti mahal harganya?”
“Tidak. Kali ini aku obral murah, asal bisa dapat
uang buat makan dan minum hari ini. Itu
sudah cukup.”
“Apa khasiatnya?”
“Banyak. Ada untuk kemudahan karir dan jabatan. Ada juga untuk kekebalan dan pengasihan. Pokoknya apa saja ada, lengkap.”
“Dari mana kamu dapatkan batu-batu
ini?”
“Hasil tirakatku sendiri.”
“Coba kamu tawarkan saja kepada
orang-orang di gedung itu.”
“Apa boleh masuk kesana?”
“Tentu. Ini kan gedung milik wakil kita.”
Karma pun kemudian melangkah masuk
mendekati gedung itu. Baru saja sampai
di halaman, ia sudah diberhentikan oleh seorang petugas kebersihan di gedung
itu. Si petugas masih memegangi sapu
lidi. Tampaknya baru hendak menyapu
halaman.
“Mau apa, Mang?”
“Mau menjual batu-batu sakti dan
bertuah ini kepada wakil-wakil kita di dalam sana. Boleh tidak?”
Serta merta si penjaga gedung itu
tertawa terpingkal-pingkal demi mendengar ucapan Karma yang polos. Bahkan saking gelinya ia sampai bergulingan
di halaman dengan kaki kelojotan. Karma
tentu saja melongo keheranan.
“Kenapa?”
“Kamu salah alamat, Mang. Justru disinilah pusatnya orang-orang sakti
dan bertuah.”
“Maksudmu?” tanya Karma tidak
mengerti.
“Kamu ingin menjual batu bertuah
agar mereka kebal?”
“Benar.”
“Kamu juga ingin agar mereka
memiliki batu wulung supaya bisa berpindah kesana kemari dengan cepat dan
selamat?”
“Betul.” Karma tambah keheranan.
“Juga batu untuk pesugihan, untuk
pengasihan, untuk jabatan dan lain-lain?”
“Dari mana kamu tahu semuanya?”
“Aku bekerja disini. Berbagai manusia sakti mandraguna semuanya
ada dalam gedung itu. Jadi pasti mereka
tidak akan butuh batu-batu sakti murahan yang kamu tawarkan.”
“Aku tidak mengerti,” kata Karma
sambil terus bengong dan melongo.
“Sobat, disinilah tempatnya
kekebalan, kebal hukum dan kebal pendengaran terhadap lolongan penderitaan
rakyat. Kamu lihat orang-orang fakir
miskin di luar sana?”
“Iya betul.”
“Nah mereka sudah berhari-hari
berteriak-teriak, bahkan sampai berbulan dan bertahun. Namun tidak satu pun orang-orang di dalam
sana yang tersentuh jeritan tajam menikam dari mulut pendemo itu.” Karma manggut-manggut dan tambah melongo.
“Kamu sudah menawarkan batu-batu
ini kepada orang-orang di gedung-gedung departemen dan pengadilan?”
“Sudah.”
“Orang-orang seperti mereka disini
banyak juga. Sudah terkepung masih juga
bisa lolos. Kebal betul orang-orang di
dalam sana. Lidahnya, tubuhnya,
kupingnya, matanya, mukanya, termasuk harta kotor dan kedudukan mereka. Aku mengenali betul kesaktian mereka. Penghuninya memang ganti-berganti, tapi masih
tetap orang-orang sakti semacam itu-itu juga.”
Karma tambah manggut-manggut.
“Sudahlah, sebaiknya kamu pulang
saja.”
“Boleh aku tanya sesuatu dulu?”
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Batu keramat apa sebetulnya yang
mereka pakai?”
Penjaga gedung itu tersenyum lebar
mendengar keingin-tahuan Karma.
“Mereka tidak pakai batu-batu
bertuah dari luar, Mang. Batu andalan
mereka sudah terpasang secara otomatis di tubuh. Kami pun disini sedang menunggu kematian
mereka, agar hatinya yang sudah menjadi batu sakti, batu keramat dan bertuah
itu bisa kami ambil untuk kami pakai sendiri.
Siapa tahu kami bisa jadi sakti mandraguna dan kaya raya seperti mereka
yang di dalam gedung itu.”
Tidak bisa tidak, Karma segera
hengkang dari situ. Hatinya tak
henti-hentinya berkata-kata dengan lirih.
“Ternyata bohong belaka yang
dikatakan mereka bahwa di Jakarta mudah sekali mencari uang. Di ibu kota ini ternyata orang-orang sakti
jumlahnya seabreg-abreg. Pasti tidak
hanya di tiga tempat yang aku datangi itu saja, di tempat-tempat lain pun
tentulah tidak terhitung lagi jumlahnya.
Ya, Tuhan, ternyata kesaktian yang Engkau anugerahkan padaku tidak
seberapa dibanding kedigjayaan mereka...”
Karma kemudian bertekad akan
mencoba menjual batu-batu bertuahnya di kota-kota lain. Bila masih gagal juga, ia berniat akan
melakukan tapa barata lagi, puasa pati geni lagi dan juga berendam diri lagi,
sampai dapat mengalahkan kesaktian mereka.
Ia berjalan terhuyung-huyung meninggalkan halaman gedung DPR-MPR. Perutnya terasa disengat bara, merasakan
lapar dan haus yang tiada terhingga.
Pandangannya pun berkunang-kunang.
Sesaat kemudian Karma si penjual batu bertuah itu pun roboh pingsan,
tepat di ambang pintu gerbang.***
Jakarta, 7 Januari 2004
Penulis;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar