Putra Pembesar Berbudi Luhur
Suatu hari seorang khalifah dari dinasti Abbasiyyah mengunjungi salah
seorang menteri kepercayaannya. Tuan
mentri memiliki seorang anak lelaki yang cerdas dan berbudi luhur. Ketika sang khalifah dipersilahkan duduk, ia
mengajak anak menteri tersebut duduk di sebelahnya.
“Mana yang lebih baik, rumah ayahmu atau rumah khalifah?” tanya kahlifah kepada si anak.
“Bila khalifah berada di rumah ayah, tentu rumah ayahlah yang lebih
baik,” jawab si anak tanpa pikir
panjang.
Kemudian sang khalifah memperlihatkan sebuah cincin yang menghiasi jari
manisnya. Cincin tersebut terbuat dari
emas putih bertahtakan permata indah.
“Pernahkah kamu lihat yang lebih indah dari cincin ini?”
“Tentu saja. Jari manis yang
diberi cincin ini lebih indah dari cincinnya sendiri.”
Betapa takjubnya sang khalifah mendengar jawaban yang diberikan anak
menteri tadi. Lalu ia mempersiapkan
pertanyaan terakhir untuk menguji budi pekerti anak lelaki yang duduk di
sampingnya.
“Maukah kamu diangkat khalifah sepeninggalku, nak? Untuk menjadi penggantiku?”
“Yang Mulia. Putra khalifahlah
yang lebih utama dari hamba, karena beliau yang paling berhak sebagai putra
mahkota. Saya dilahirkan oleh ibu dan
dididik oleh ayah bukan untuk menjadi seorang penghianat.”
Bertambahlah kekaguman khalifah terhadap anak menterinya yang mampu
menjawab berbagai pertanyaan dengan cerdas dan santun. Lalu khalifah itu berpaling kepada ayahnya.
“Anakmu pasti akan menjadi orang besar dan terpercaya bila kelak telah
dewasa.”
Keburukan dibalas Keburukan
Seorang pengemis kecil sedang duduk-duduk
santai diatas bangku dan asyik melahap roti yang didapatkannya dari sedekah
seorang kaya raya. Tengah asyik
menyantap roti, pengemis itu melihat seekor anjing yang sedang tidur
lelap. Timbul keisengan dalam diri sang
anak. Maka ia segera memanggil-manggil
anjing itu sambil menyodorkan sepotong roti dari tangannya.
Si anjing mengira akan diberi roti. Maka ia pun segera berdiri mendekati hendak
mengambil roti dari tangan pengemis itu.
Ketika anjing sudah dekat, anak itu langsung mengayunkan tongkat dan
mengahantamkannya ke kepala si anjing dengan keras. Anjing malang itu melolong kesakitan dan
langsung berlari meninggalkan anak yang telah menggebuknya.
Tanpa disadari oleh pengemis tadi, seorang
lelaki tua menyaksikan semua kejadian saat ia menjulurkan kepalanya dari
jendela. Saksi mata ini merasa
benar-benar teriris hatinya demi melihat kekejaman yang dilakukan sang
pengemis. Timbul dalam benaknya
keinginan memberi pelajaran berharga untuk anak ini. Maka ia pun segera keluar. Ditangannya ada segenggam uang receh dan
dibalik punggunggnya ia menyembunyikan sebuah tongkat.
Setiba di depan pintu, orang itu langsung
memanggil-manggil si pengemis sambil menyodorkan tangan yang menggenggam uang
receh. Pengemis itu tentu saja mengira
akan diberi uang. Maka tanpa pikir
panjang ia segera datang mendekat.
Ketika tangan pengemis itu siap menadah uang
pemberian, orang tua itu langsung memukulkan tongkat ke telapak tangan si
pengemis yang kontan menjerit kesakitan.
Lalu tangannya ditiup-tiup sambil berkata;
“Kenapa Bapak memukul tangan saya, padahal
saya belum mendapat apa-apa dari Bapak?”
“Lantas kenapa kamu menghajar anjing tadi,
padahal ia juga belum mendapat apa-apa?”
Seketika sadarlah si pengemis nakal bahwa
bila ia melakukan kejahatan, ia akan dijahati pula.
Pengembala Kambing dan Srigala
Syahdan seorang anak laki-laki bekerja sebagai pengembala. Setiap hari ia keluar kampung mengembalakan
kambing di padang rumput sekitar kampungnya.
Karena merasa bosan dengan pekerjaan rutinnya, si pengembala tergoda
untuk mempermainkan penduduk kampung.
Maka ia pun berteriak-teriak sekuat tenaganya.
“Tolong...! Tolong...! Ada serigala!”
Penduduk kampung yang mendengar teriakan itu segera berdatangan dengan
bersenjatakan tongkat dan golok. Mereka
merasa harus menyelematkan si pengembala.
Tidak hanya kambing yang mungkin menjadi korban, si pengembala pun
terancam nyawanya.
Ketika tiba di padang rumput, para penduduk tidak melihat srigala. Mereka hanya mendapati si pengembala kambing
sedang duduk-duduk di bawah pohon sambil tersenyum-senyum simpul. Tentu saja orang-orang menggerutu karena
merasa dipermainkan. Mereka langsung pulang
ke rumah masing-masing.
Beberapa minggu kemudian si pengembala kambing berniat mempermaikan
penduduk kampung lagi karena merasa iseng lagi.
Ia pun kembali melakukan hal yang sama seperti dulu. Kali ini ia lakukan sambil berlari-lari kian
kemari seolah-olah sedang ketakutan.
Penduduk yang mendengar kembali berlarian dengan berbagai senjata di
tangan. Namun sayang mereka tertipu lagi
dan kali ini secara terang-terangan si pengembala mentertawakan mereka. Keberhasilan usahanya benar-benar membuatnya
tertawa terpingkal-pingkal. Para
penduduk benar-benar berang diperlakukan demikian. Tetapi mereka tidak berkata apa-apa. Mereka pikir tidak ada gunanya marah-marah
dan membentak anak nakal semacam dia.
Minggu berikutnya si pengembala kambing benar-benar didatangi
sekelompok srigala. Ia begitu ketakutan
hingga tidak bisa bergerak sama sekali dari tempat duduknya. Setelah menguasai diri segera
berteriak-teriak meminta tolong. Ia
terus berteriak hingga suaranya serak.
Namun tidak ada seorang pun dari penduduk kampung yang datang menolong.
Penduduk kampung tentu saja menganggap teriakan si pengembal kambing
main-main seperti dilakukannya dahulu.
Mereka tidak ingin menjadi bahan olok-olokan si anak nakal yang telah
dua kali menipu mereka.
Sesal kemudian tiada berguna. Si pengembala nakal kehilangan sebahagian
besar kambing gembalaannya. Rombongan
srigala hanya menyisakan satu dua ekor yang hidup. Sisanya yang berjumlah belasan dilahap habis
dan dibawa pergi.
Si pengembala kambing tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi ia juga
kehilangan nama baik dan kepercayaan penduduk kampung. Tidak hanya sampai disitu, ia juga diwajibkan
mengganti kerugian oleh majikannya.
Itulah akibat yang harus diterima si pengembala kambing karena
kebohongan dan penipuan yang ia lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar