Jumat, 09 September 2011

Dongeng Pengantar Tidur Untuk Si Buah Hati

Putra Pembesar Berbudi Luhur


Suatu hari seorang khalifah dari dinasti Abbasiyyah mengunjungi salah seorang menteri kepercayaannya.  Tuan mentri memiliki seorang anak lelaki yang cerdas dan berbudi luhur.  Ketika sang khalifah dipersilahkan duduk, ia mengajak anak menteri tersebut duduk di sebelahnya.
“Mana yang lebih baik, rumah ayahmu atau rumah khalifah?”  tanya kahlifah kepada si anak.
“Bila khalifah berada di rumah ayah, tentu rumah ayahlah yang lebih baik,”  jawab si anak tanpa pikir panjang.
Kemudian sang khalifah memperlihatkan sebuah cincin yang menghiasi jari manisnya.  Cincin tersebut terbuat dari emas putih bertahtakan permata indah.
“Pernahkah kamu lihat yang lebih indah dari cincin ini?”
“Tentu saja.  Jari manis yang diberi cincin ini lebih indah dari cincinnya sendiri.” 
Betapa takjubnya sang khalifah mendengar jawaban yang diberikan anak menteri tadi.  Lalu ia mempersiapkan pertanyaan terakhir untuk menguji budi pekerti anak lelaki yang duduk di sampingnya.
“Maukah kamu diangkat khalifah sepeninggalku, nak?  Untuk menjadi penggantiku?”
“Yang Mulia.  Putra khalifahlah yang lebih utama dari hamba, karena beliau yang paling berhak sebagai putra mahkota.  Saya dilahirkan oleh ibu dan dididik oleh ayah bukan untuk menjadi seorang penghianat.”
Bertambahlah kekaguman khalifah terhadap anak menterinya yang mampu menjawab berbagai pertanyaan dengan cerdas dan santun.  Lalu khalifah itu berpaling kepada ayahnya.
“Anakmu pasti akan menjadi orang besar dan terpercaya bila kelak telah dewasa.”



Keburukan dibalas Keburukan


Seorang pengemis kecil sedang duduk-duduk santai diatas bangku dan asyik melahap roti yang didapatkannya dari sedekah seorang kaya raya.  Tengah asyik menyantap roti, pengemis itu melihat seekor anjing yang sedang tidur lelap.  Timbul keisengan dalam diri sang anak.  Maka ia segera memanggil-manggil anjing itu sambil menyodorkan sepotong roti dari tangannya.
Si anjing mengira akan diberi roti.  Maka ia pun segera berdiri mendekati hendak mengambil roti dari tangan pengemis itu.  Ketika anjing sudah dekat, anak itu langsung mengayunkan tongkat dan mengahantamkannya ke kepala si anjing dengan keras.  Anjing malang itu melolong kesakitan dan langsung berlari meninggalkan anak yang telah menggebuknya.
Tanpa disadari oleh pengemis tadi, seorang lelaki tua menyaksikan semua kejadian saat ia menjulurkan kepalanya dari jendela.  Saksi mata ini merasa benar-benar teriris hatinya demi melihat kekejaman yang dilakukan sang pengemis.  Timbul dalam benaknya keinginan memberi pelajaran berharga untuk anak ini.  Maka ia pun segera keluar.  Ditangannya ada segenggam uang receh dan dibalik punggunggnya ia menyembunyikan sebuah tongkat.
Setiba di depan pintu, orang itu langsung memanggil-manggil si pengemis sambil menyodorkan tangan yang menggenggam uang receh.  Pengemis itu tentu saja mengira akan diberi uang.  Maka tanpa pikir panjang ia segera datang mendekat.
Ketika tangan pengemis itu siap menadah uang pemberian, orang tua itu langsung memukulkan tongkat ke telapak tangan si pengemis yang kontan menjerit kesakitan.  Lalu tangannya ditiup-tiup sambil berkata;
“Kenapa Bapak memukul tangan saya, padahal saya belum mendapat apa-apa dari Bapak?”
“Lantas kenapa kamu menghajar anjing tadi, padahal ia juga belum mendapat apa-apa?”
Seketika sadarlah si pengemis nakal bahwa bila ia melakukan kejahatan, ia akan dijahati pula.



Pengembala Kambing dan Srigala


Syahdan seorang anak laki-laki bekerja sebagai pengembala.  Setiap hari ia keluar kampung mengembalakan kambing di padang rumput sekitar kampungnya.  Karena merasa bosan dengan pekerjaan rutinnya, si pengembala tergoda untuk mempermainkan penduduk kampung.  Maka ia pun berteriak-teriak sekuat tenaganya.
“Tolong...!  Tolong...!  Ada serigala!”
Penduduk kampung yang mendengar teriakan itu segera berdatangan dengan bersenjatakan tongkat dan golok.  Mereka merasa harus menyelematkan si pengembala.  Tidak hanya kambing yang mungkin menjadi korban, si pengembala pun terancam nyawanya.
Ketika tiba di padang rumput, para penduduk tidak melihat srigala.  Mereka hanya mendapati si pengembala kambing sedang duduk-duduk di bawah pohon sambil tersenyum-senyum simpul.  Tentu saja orang-orang menggerutu karena merasa dipermainkan.  Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa minggu kemudian si pengembala kambing berniat mempermaikan penduduk kampung lagi karena merasa iseng lagi.  Ia pun kembali melakukan hal yang sama seperti dulu.  Kali ini ia lakukan sambil berlari-lari kian kemari seolah-olah sedang ketakutan.  Penduduk yang mendengar kembali berlarian dengan berbagai senjata di tangan.  Namun sayang mereka tertipu lagi dan kali ini secara terang-terangan si pengembala mentertawakan mereka.  Keberhasilan usahanya benar-benar membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.  Para penduduk benar-benar berang diperlakukan demikian.  Tetapi mereka tidak berkata apa-apa.  Mereka pikir tidak ada gunanya marah-marah dan membentak anak nakal semacam dia.
Minggu berikutnya si pengembala kambing benar-benar didatangi sekelompok srigala.  Ia begitu ketakutan hingga tidak bisa bergerak sama sekali dari tempat duduknya.  Setelah menguasai diri segera berteriak-teriak meminta tolong.  Ia terus berteriak hingga suaranya serak.  Namun tidak ada seorang pun dari penduduk kampung yang datang menolong.
Penduduk kampung tentu saja menganggap teriakan si pengembal kambing main-main seperti dilakukannya dahulu.  Mereka tidak ingin menjadi bahan olok-olokan si anak nakal yang telah dua kali menipu mereka.
Sesal kemudian tiada berguna.  Si pengembala nakal kehilangan sebahagian besar kambing gembalaannya.  Rombongan srigala hanya menyisakan satu dua ekor yang hidup.  Sisanya yang berjumlah belasan dilahap habis dan dibawa pergi.
Si pengembala kambing tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi ia juga kehilangan nama baik dan kepercayaan penduduk kampung.  Tidak hanya sampai disitu, ia juga diwajibkan mengganti kerugian oleh majikannya.  Itulah akibat yang harus diterima si pengembala kambing karena kebohongan dan penipuan yang ia lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar