Jumat, 23 September 2011

Pensiun Profesor Suad

Pada suatu hari kerja di minggu pertama bulan Desember, Profesor Doktor Ing. Suad Msc. meneliti dinding ruang kerja pribadinya yang dihiasi berbagai jenis piagam penghargaan dan foto dirinya bersama orang-orang penting, dari mulai para pejabat negara hingga presiden.  Pandangannya kemudian dialihkan ke lemari kaca yang dipenuhi beragam piala kelas satu dari mulai mulai kalpataru, bintang maha putra sampai hadiah nobel.  Ia tertawa-tawa sendirian, lalu berdiri di depan cermin gantung di sebelah lemari. Lama ia mengamati-amati bayangan dirinya di cermin.  Ditepuk-tepuki dadanya dengan telapak tangan kanan sambil memuji-muji diri dalam hati; ‘Aku memang luar biasa brilian dan tidak ada duanya.  Walau rambut sudah memutih semua, tapi masih kelihatan gagah perkasa.  Buktinya belum ada wanita yang menolak diajak kencan.  Ha..ha..ha, aku memang istimewa.’
Profesor itu tambah keras tertawa lepas; tambah kencang menepuk-nepuki dada hingga terbatuk-batuk.  Anehnya malah ia semakin bersemangat lagi terbahak-bahak hingga menggetarkan kaca lemari piala.
‘Ah, aku berhasil menjadi orang.  Temuan-temuanku sangat istimewa dan menyodorkan kekayaan beruntutan yang tak putus-putusnya mengalir.  Rumah tinggal pribadi sudah seperti istana.  Aku punya laboratorium sendiri. Uangku di bank melimpah.  Deposito?  Bunga bulanannya saja mengalahkan gaji bupati bahkan gubernur sekalipun.  Belum lagi saham di beberapa perusahaan raksasa.  Tak akan habis dihamburkan tujuh turunan.’  “Eh..turunan?” Lelaki tua itu menyuarakan kembali kata terakhir setengah berteriak.
Profesor Suad berhenti membanggakan diri di depan cermin ketika sampai pada kata turunan,  seperti mobil direm mendadak saat melaju kencang.  Tawa lepasnya menderit seperti suara ban; dadanya sesak dan sakit.   Lelaki tua yang masih merasa gagah itu kemudian menghempaskan diri di kursi, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa lunglai. Segera ia keluarkan foto keluarga ukuran kecil dari dompetnya.
Hanya ada gambar tiga orang diatas kertas foto yang digenggamnya; dia sendiri, almarhum istrinya serta anak lelaki satu-satunya yang telah hijrah ke Amerika sejak belasan tahun lalu dan tinggal di apartmen mewah milik sendiri.
Terkenanglah ia akan anak lelaki satu-satunya yang terus mengobarkan api permusuhan antara mereka berdua.  Perseteruan dimulai dengan lontaran celaan terhadap sang ayah yang dinilai lebih mencintai ilmu kimia, sementara keluarga selalu dinomor belakangkan.  Nyonya Suad kemudian menderita tekanan jiwa karena merasa tidak lagi disayang suami.  Penderitaannya kian parah ketika dia memergoki sang profesor kenamaan itu sedang bermesraan di ruang laboratorium dengan asistennya yang bertubuh sintal.  Kali lain sang profesor juga ketahuan sedang main gila dengan mahasiswi bahenol fakultas kedokteran yang sedang melaksanakan KKN ditempat kerjanya.
Mulanya Nyonya Suad tutup mulut, demi menjaga nama baik suami dan keluarganya.  Namun akhirnya sang istri merasa tidak tahan lagi dan bunuh diri dengan cara mereguk racun hasil ramuan suaminya sendiri.  Kematiannya begitu tragis.  Sejak saat itulah Suad junior memberi ayahnya label “pembunuh berdarah dingin” dan lebih memilih pergi dari rumah untuk berhijrah ke negeri paman Sam.
Profesor Suad tidak mau begitu saja disalahkan atas kematian istrinya.  Ia punya alasan bantahan:
‘Dia yang salah.  Kenapa selalu sibuk melulu arisan disana-sini sampai  ke luar kota segala dengan ibu-ibu pejabat dan para istri konglomerat.  Tak pernah lagi mengurusi suami, apalagi memberi kehangatan.  Tubuhnya malah dibiarkan membengkak tak terurus bahkan kulitnya tega dibiarkan keriput semua.  Bagaimana aku akan tertarik?  Padahal aku masih gagah.’
Sepeninggal anaknya, Profesor Suad tinggal sendirian. Selang beberapa tahun kemudian ia pindah dari rumah lama ke istana barunya kini.  Yang tetap setia menemaninya hingga saat ini hanyalah seorang pembantu baru, janda kembang dari kampung yang belakangan rela ditiduri sang ilmuwan dengan bayaran tambahan beberapa puluh ribu rupiah sekali kencan saat profesor menderita kesepian dan butuh elusan.
Ada rahasia pribadi yang tidak diketahui mendiang istri dan anaknya hingga kini.  Apabila ketegangan memuncak karena bergelut panjang dengan formula kimia yang sedang ia garap, libidonya kerap tidak terkendali.  Saat bermesraan dan mencapai puncak asmara itulah persoalan pelik yang sedang melingkupinya bertemu jawaban dan pemecahan.  Maka tak heran bila Profesor Suad selalu memperkerjakan asisten wanita untuk membantunya saat diminta saja.  Seberapa pun gaji yang mereka minta ia akan kabulkan asal mau menyediakan layanan tambahan semisal memadamkan api birahinya disaat-saat genting seperti itu.
Lamunan Profesor Suad sontak buyar saat pembantunya masuk tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi seperti kertas.  Nada suaranya gugup penuh ketakutan.
“Tuan, diluar ada beberapa orang polisi mencari tuan.”
Mendengar laporan demikian lelaki tua itu terkejut.
“Polisi...?!!”  irama kalimat tanya yang keluar dari mulutnya agak bergetar menandakan ketidak tenangan.  Namun cepat ia menguasai diri dan berusaha tersenyum kepada pembantunya.
“Ya, sudah, biar saya temui.”  Ia pun berdiri dan melangkah menuju ruang tamu.
“Selamat siang, Pak!” sapa komandan sambil berdiri dan memberi hormat ketika melihat sang profesor tiba di ruang tamu.  Dua orang polisi lain yang duduk menemani turut pula berdiri.
“Selamat siang. Silakan duduk.  Ada apa ini?”
“Bapak diminta datang ke kantor polisi sekarang juga untuk pemeriksaan.  Ini surat panggilannya,”  komandan tadi berkata dengan tegas dan berwibawa sambil menyerahkan sepucuk surat bersampul lambang kepolisian negara.
Sang profesor lansung mengambil surat itu dan membaca isinya.  Tangannya terlihat gemetaran.  Seusai membaca, matanya terlihat liar memancarkan kemarahan.
“Keluar kalian dari rumahku!  Apa kalian tidak tahu siapa aku?!”  bentak sang profesor dengan congkaknya.
Kemudian ia menjejakkan kaki meninggalkan para tamu tak diundang dan langsung menuju laboratorium pribadinya.  Ia cepat-cepat mengunci pintu ruang kerjanya tersebut.  Tak hanya itu saja, sederetan meja dan lemari ia rapatkan ke pintu agar tidak bisa dibuka dari luar.  Orang-orang berseragam polisi tadi menyusul namun tidak bisa masuk ke ruangan.  Jadi mereka hanya bisa berdiri didepan pintu meminta Profesor Suad keluar dan menyerah baik-baik.  Kalau tidak, mereka mengancam akan mendobrak pintu dan menyeretnya keluar dengan paksa.
Di halaman rumah itu para tetangga sudah berkerumun ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi.  Wajah mereka membiaskan keheranan.  Mereka tahu persis kalau yang biasanya datang bertandang kerumah ilmuwan kawakan itu orang-orang berdasi dengan mengendarai mobil mewah sekelas pengusaha kaya.  Sesekali ada juga pejabat negara bersilaturrahmi.  Lain waktu lagi yang datang adalah wartawan dan juru foto yang hendak mewawancarai.  Tapi kali ini yang menyatroni adalah sekelompok polisi, lengkap dengan mobil tahanan juga para wartawan dan juru foto. 
Dari sejak kepindahannya ke lingkungan itu sepuluh tahun yang  lalu para tetangga hanya mengetahui Profesor genius itu orang penting.  Wajahnya sering muncul di layar televisi memberikan ulasan ilmiah dalam beragam acara, terutama mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.  Belum pernah mereka dengar Profesor Suad terlibat kriminal apa pun.  Apa ia terlibat terorisme dengan kemampuan memformulasikan zat-zat kimia yang begitu dikuasainya serta turut merancang bom seperti belakangan marak diberitakan.  Begitu bisik-bisik yang keluar dari mulut para tetangga.
 “Kalian hanya orang suruhan yang buta.  Tidak melihat dulu dengan siapa kalian berhadapan.  Pimpinan kalian pun kenal baik denganku, bahkan sampai hakim agung dan menteri pertahanan pun teman-temanku,” teriak si genius dari dalam ruang laboratorium.  Suaranya demikian tinggi melengking hingga menerobos lolos ke halaman.
Mendapat perlakuan demikian abdi negara pelindung dan pelayan masyarakat itu seketika bergerak, berupaya mendobrak pintu.  Upaya tenaga tidak berhasil, salah seorang mengeluarkan pistol dan menembak bagian kunci pintu.  Kemudian mereka serempak mendorong dengan sekuat tenaga dibantu para wartawan yang menyertai.  Profesor Suad akhirnya berhasil mereka borgol, lalu dibawa keluar menuju mobil tahanan.  Yang terdengar kemudian hanyalah suara raungan sirine mobil polisi.
***
Dua minggu kemudian.
“Saudara terdakwa, Anda dengan tegas menolak didampingi seorang pengacara untuk membela saudara. Kenapa?” tanya hakim yang memimpin persidangan pada minggu terakhir bulan Desember. 
Pak hakim terkenal paling kere, namun jujur dan anti suap; santun tetapi tegas dalam masalah penegakkan keadilan dan tidak pandang bulu.
“Pak hakim, saya tidak butuh didampingi orang dungu yang tidak memahami perubahan kimia dalam tubuh manusia.  Lebih baik saya membela diri sendiri.  Mohon Pak hakim mengizinkan,”  kilah sang genius dengan segala kepongahan ilmiahnya.
“Baiklah kalau demikian.  Mari kita mulai.  Silakan saudara jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya.”
“Terima kasih.  Bapak Hakim yang mulia... Sidang yang terhormat...” Jaksa penuntut umun memulai, tingkah lakunya tampak dibuat-buat dan nada suaranya diberat-beratkan seperti berkhotbah atau berkampanye.
“Bebepa bulan yang lalu kami mendapat laporan dari seorang pemilik rumah yang secara tidak sengaja menemukan tulang belulang manusia saat tukang bangunan menggali tanah untuk pondasi perluasan rumah.  Rumah yang ditempati pemilik sekarang dibelinya dari terdakwa sebelas tahun yang lalu. Kami pun mengadakan otopsi dan kedapatan tulang yang ditemukan ternyata milik dua orang.  Yang satu perempuan berumur dua puluhan dan yang lain milik seorang bayi tujuh bulan.  Kuat dugaan bahwa perempuan ini sedang mengandung.  Hasil otopsi menujukkan bahwa korban meninggal karena minum racun.  Jenis racun mematikan yang sangat kuat.  Belakangan kami ketahui bahwa racun jenis ini diramu berdasarkan formula hasil temuan terdakwa yang merupakan hak patennya,  meskipun kemudian formulanya dibeli oleh negara tetangga untuk keperluan senjata kimia.  Kuat dugaan bahwa korban mati dibunuh lalu dipendam untuk menghilangkan jejak, karena terlihat posisi tulang tidak seperti tulang mayat yang dikuburkan secara layak. Idenntitas korban pun sudah kami ketahui.  Ia bernama Maharani yang dulu pernah bekerja kepada terdakwa sebagai asisten paruh waktu.  Menurut pengakuan terdakwa sendiri Maharani telah dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan study mengingat bakatnya yang begitu menonjol dalam bidang kimia. Hal ini kami ketahui dari surat yang dikirim terdakwa kepada keluarga korban tiga belas tahun yang lalu.  Barang bukti yang berupa surat ini akan kami perlihatkan kepada hakim.” 
Jaksa penuntut umum melangkah mendekati hakim dan menyerahkan barang bukti.  Pimpinan sidang membaca surat tersebut baris demi baris dan terlihat mengangguk-anggukan kepala.  Lalu terdakwa diminta maju untuk melihat sendiri surat itu dan ditanya kalau itu darinya.  Terdakwa mendadak terlihat pucat, tidak bisa mengelak karena ia melihat goresan tangannya sendiri di atas kertas itu.  Jaksa penuntut lalu melanjutkan.
“Dari surat tersebut kami ketahui bahwa Maharani sang korban sebenarnya tidak dikirim ke luar negeri, melainkan keluar dunia, alias ke akhirat.  Karena jasad korban, berdasarkan hasil otopsi lagi, telah terpendam selama hampir tiga belas tahun.”
Para hadirin yang menyaksikan sidang mengeluarkan suara riuh rendah demi mendengar penuturan jaksa penuntut umum.  Terdakwa semakin pucat pasi dan gemetaran.  Namun seketika ia menegakan badan kembali dan berusaha terlihat tidak bersalah serta tetap angkuh.
“Bagaimana pembelaan saudara terdakwa?”  tanya hakim.
“Oh, salah besar,  Pak hakim.  Saya tidak meracuninya.  Dia yang menenggaknya sendiri.  Kenapa dia minum teh yang saya tuangi sedikit racun.  Saya tidak menyuruhnya minum.  Lalu setelah meregang nyawa, saya menguburkannya.  Sebab dia sudah tidak bisa menggali kubur sendiri,”  kilah sang profesor dengan bangganya.  Lalu ia melanjutkan pembelaannya.
“Kalaupun perbuatan saya dahulu itu dianggap salah, saya tidak bisa dihukum sekarang, sebab saya sudah berbeda.”
Semua hadirin melongo keheranan, tidak menyangka sang profesor genius itu bisa sedemikian dungu dan linglung, kebelinger.
“Lantas kenapa saudara terdakwa berbohong dengan menyurati keluarga korban bahwa dia pergi ke luar negeri untuk belajar lagi.  Apa pula yang saudara maksudkan dengan sekarang sudah berbeda?”
“Saya tidak berbohong, Pak hakim.  Maharani memang sudah keluar negeri, tetapi kembali lagi untuk menuntut saya menikahinya karena dia sedang hamil.  Dia tidak mau kembali ke rumahnya karena malu.  Kami tidak memiliki kesepakatan untuk menikah.  Toh dia dibayar memang untuk membantu dan melayani saya.  Begitu perjanjiannya.  Maka sudah tentu saya tidak bersedia menikahinya.”
“Dan yang Saudara maksudkan sekarang sudah berbeda?”
“Oh iya, itu.  Begini, pak hakim,”  Sang profesor langsung nyerocos memberi ceramah ilmiah.
“Pada dasarnya tubuh kita senantiasa mengalami perubahan kimia dan pergantian sel-sel.  Umpamanya kepala saya kini telah beruban semua, padahal sepuluh tahun  yang lalu masih hitam.  Luka ditangan saya kini telah mengering dan berganti dengan daging baru.  Kalau saya tanya, Suad yang sebenarnya itu yang mana.  Suad waktu bayi, waktu kanak-kanak, remaja, sepuluh tahun yang lalu atau yang sekarang.  Padahal semua susunan kimianya tidak sama dari waktu ke waktu.  Jadi saya tidak bisa dihukum sekarang.  Kalau pun saya harus dihukum juga akibat kesalahan dimasa lalu, kenapa uban saya dan daging baru ditangan saya harus turut dihukum?  Padahal ia belum ada tiga belas tahun yang lalu.  Kalau Pak hakim mengambil pendapat para spiritualis bahwa hakekat manusia adalah roh dan jiwa yang tidak mengalami perubahan fisik, umpamanya, silakan hukum roh dan jiwa saya kalau memang bersalah.  Tetapi apa ada terali besi untuk roh dan jiwa?  Ha..ha..ha.  Tentu tidak ada.  Jadi saya tidak bisa dihukum dengan jasad saya yang sekarang, karena jasad tua ini tidak bersalah.  Yang salah itu jasad yang lalu.  Disini saya lihat ada Doktor Farid, ahli kimia juga.  Beliau pasti akan bisa memberikan kesaksian ilmiah dan sependapat dengan saya.”
Para hadirin tambah melongo, terkagum-kagum dengan penjelasan ilmiah Profesor Suad.  Mereka tambah kebingungan, tidak sanggup menilai apakah terdakwa orang gila atau kelewat pinter.   Hanya Doktor Farid yang kelihatan tersenyum-senyum.
Hakim yang tetap tenang itu kemudian meminta kesediaan Doktor Farid untuk tampil memberi penjelasan.  Doktor Farid langsung maju dan mengulas masalah organis tubuh manusia, tentang kandungan kimia dalam anatomi yang menurut data mengandung berbagai macam asam amino dan lebih lanjut dia menyebut nyebut beragam nama zat yang terdapat dalam tubuh semacam oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor, kalsium, ferum, sulfur, yodium, magnesium dan lain lain.  Dia mengatakan bahwa unsur-unsur diatas terus menerus mengalami proses pergantian.  Kemudian Dokter Farid menutup urainnya dengan ungkapan; 
“Saya hanya menuturkan fakta dan sama sekali tidak bermaksud membela terdakwa.  Tetapi yang Profesor Suad katakan memang benar menurut ilmu pengetahuan modern.  Terserah hukum mau mengakuinya atau tidak, itu berada diluar otoritas saya.”
Jaksa penuntut umum tampak merah padam, tidak bisa mendebat fakta ilmiah yang barusan dipaparkan karena memang berada diluar disiplin ilmunya, namun dia tidak bisa menerima secara hukum.  Aturan hukum yang berlaku sama sekali tidak melihat sejauh itu.  Ia dibuat kelimpungan, tidak bisa membantah uraian yang sedemikian masuk akal.  Seketika rontoklah harapannya untuk bisa populer karena mampu menjebloskan orang besar itu ke penjara. 
Hadirin tidak kalah heboh.  Mereka membuat kegaduhan sendiri. Mereka terbelah kedalam kerangkeng pro dan kontra ditambah kelompok sisa yang tidak mengerti sama sekali apa yang sedang berlangsung, namun tetap memaksakan diri berkomentar.  Akhirnya hakim mengketuk-ketukan palu dan mengumumkan bahwa sidang ditunda hingga minggu depan.
Seminggu kemudian pada hari yang telah ditentukan, hadirin telah berjejal-jejal ingin menyaksikan nasib yang akan diterima ilmuwan pesakitan itu.  Jumlah mereka kian bertambah karena didorong oleh pemberitaan media massa yang marak melaporkan kasus ini.  Bahkan ada salah satu stasiun televisi yang ingin meliputnya secara langsung.
Sidang tampak telah dimulai.
“Selama seminggu penuh saya benar-benar mengerahkan segala daya untuk menyelidiki kasus ini. Saya mempelajari sendiri hasil otopsi juga meminta sampel jenis racun yang digunakan.  Pada kesempatan lain saya juga mengkaji buku-buku yang mengulas masalah organis tubuh manusia.  Saat ini seolah olah hukum berhadapan dengan fakta ilmiah yang jelas-jelas kebenarannya bersifat universal.  Alangkah salah kalau hukum pidana hanya mengakui kebenaran sendiri tanpa mempertimbangkan kebenaran dari sudut lain yang lebih luas sifatnya.  Saya sebagai hakim tidak bisa membantah kebenaran yang dipaparkan oleh saudara terdakwa dan juga diulas dan dipertegas oleh Doktor Farid.  Jadi saya cenderung mengatakan bahwa jasad terdakwa yang sekarang tidak terlibat dalam perkara pembunuhan korban yang bernama Maharani.”
“Tetapi yang mulia, terdakwa ini jelas-jelas...,” potong jaksa penuntut umum sambil berdiri mengangkat tangan.
“Diam kamu, apa saya tidak cukup memberikan kesempatan berbicara.  Waktu kamu berbicara saya tidak menyela sama sekali!  Saya juga menyelidiki motif kamu sebenarnya dalam sidang ini, termasuk permainan kotor dibalik meja yang kamu lakukan bersama saingan terdakwa dari kalangan ilmuwan!” bentak hakim sambil memandang tajam ke arah jaksa penuntut umum.
“Kalau kamu tidak senang dengan sidang saya, silakan keluar!” lanjutnya lagi.
Dibentak demikian keras jaksa penuntut umum tertunduk malu kehilangan muka.  Untuk pertama kali dalam kehidupan karirnya ada yang terang-terangan membuka kedoknya.  Ia merasa seperti ditelanjangi.  Para hadirin pun terpaku melongo seperti dihipnotis, tidak sanggup menatap hakim yang begitu tegas dan berwibawa.
“Saudara terdakwa jelas telah memiliki niat menghabisi korban juga janin yang sedang dikandungnya untuk menghindari tanggung jawab.  Kemudian merencanakan pembunuhan dengan cara meracuni.  Korban boleh jadi tidak disuruh minum.  Tetapi menuangkan racun kedalam minuman pasti mengandung unsur kesengajaan.  Buktinya kenapa teh itu tidak diminum oleh terdakwa sendiri.  Jasad terdakwa yang sekarang boleh jadi tidak terlibat pembunuhan itu.  Tetapi ia tetap bersalah karena membiarkan jasad yang lama musnah.  Dengan kata lain terdakwa melingdungi penjahat dalam dirinya.  Satu hal lagi.  Polisi belum mengadakan reka ulang, maka saya minta terdakwa mengulang peristiwa minum racun tersebut.  Ini saya bawakan dua buah gelas,  satu kosong dan satu lagi berisi teh.  Saya minta terdakwa menunjukkan cara korban mereguk minuman bercampur racun yang tidak diketahuinya itu.”
Seorang petugas mendekati hakim dan mengambil kedua buah gelas untuk disodorkan kepada terdakwa.  Terdakwa tanpa pikir panjang langsung mengambil gelas berisi teh, berdiri dipojok agar dapat dilihat oleh semua yang hadir dan langsung menenggak teh yang digenggamnya.  Kemudian ia berjalan menuju tempat duduknya.  Namun belum sampai duduk ia sudah roboh lebih dulu dengan mulut berbusa.  Beberapa saat kemudian ia meregang nyawa.
Para hadirin seketika ribut. Para juru foto langsung mengambil kamera dan mengabadikan gambar terdakwa yang telah jadi mayat.  Petugas pengadilan yang sedang berjaga segera membopong mayat ke luar persidangan dibantu dua orang polisi.  Jaksa penuntut umum terlihat bengong tidak mengerti.  Hakim mengketuk-ketukan palu meminta hadirin tenang.  Setelah mereka duduk kembali dengan tenang, pimpinan sidang melanjutkan.
“Saudara-saudara sekalian pasti kebingungan dan kurang memahami apa yang terjadi.  Izinkan saya menjelaskan.  Banyak orang besar yang berbuat kesalahan terbebas dari jeratan hukum karena kelihaian mereka berkilah dan mencari-cari alasan yang dipaksakan bisa diterima akal.  Hebatnya lagi terkadang mereka mengetahui kelemahan aturan hukum.  Kalau sudah demikian biasanya kita tidak menemukan terali besi yang sanggup memenjarakan.  Bagi saya,  mereka boleh saja lolos dari terali besi tetapi tidak bisa lolos dari keadilan.  Lihat orang tua korban yang harus kehilangan seorang anak harapannya.  Bisakah kita meraba kekecewaan mereka bila penjahat tersebut terbebas dari tanggung jawab hukum yang harus dipikulnya.  Kita semua tahu Profesor Suad bersalah.  Cara saya memberi hukuman bisa jadi keliru dan tidak disetujui aturan hukum yang berlaku.  Namun saya tegaskan bahwa saya diangkat dan dipekerjakan terutama sebagai penegak “keadilan”, bukan sekedar penegak hukum.  Saya yang menuangkan racun hasil ramuan terdakwa sendiri kedalam teh yang diminumnya tadi.  Padahal saya tidak meminta dia meminumnya.  Saudara-saudara semuanya tadi mendengar saya meminta terdakwa untuk menunjukkan cara korban mereguk minuman yang telah dibubuhi racun.  Sebenarnya ia bisa menunjukkannya dengan gelas kosong yang sama saya sediakan.  Namun dia lebih memilih gelas yang berisi teh.  Senjata makan tuan tampaknya.  Terpaksalah ia dipensiunkan dari masa kecongkakannya. Nyawa dibayar dengan nyawa.  Biarkan nyawanya masuk penjara alam barzakh.  Itulah keadilan.  Demikianlah kejadiannya.”  Dan Pak hakim mengetuk palu tanda sidang telah ditutup.
“Hidup pak hakim...!  Hidup pak hakim...!” para hadirin mengelu-elukan pimpinan sidang.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar