Senin, 29 Agustus 2011

Sukses Belajar Bahasa Asing Dengan Hypnocative Speech

Oleh: IAS Siregar (Hypnocative Series Initiator)


Barangkali kenangan duduk di bangku sekolah menengah sambil memperhatikan guru menerangkan grammar bahasa Inggris kembali hadir dalam benak Anda. Sedemikian bersemangatnya Ibu guru memaparkan pokok bahasan mengenai struktur kalimat dasar sehingga para siswa terhanyut dan sepenuh hati menyimak. Walaupun demikian terlihat jelas sorotan beberapa teman sekelas membiaskan ketidakmengertian.

Tatkala Ibu guru meminta si Badu membuat kalimat baru sesuai rumus, semua mata seketika beralih arah, menoleh kepadanya. Si Badu terlihat berfikir sejenak, kemudian dengan terbata-bata mulutnya mengeluarkan sederet suara asing. Kata-kata bahasa Inggris itu dilantunkannya bergaya pengucapan dan bacaan bahasa Indonesia. Suasana yang khusuk mendadak menjadi riuh rendah dengan suara tawa serentak penghuni kelas. Tawa ejekan yang dikhususkan untuk si Badu yang telah berhasil mengucapkan bahasa yang begitu asing di telinga. Si Badu pun tertunduk malu dan merasa dipermalukan, harga dirinya tercabik-cabik. Mentalnya retak, lalu roboh berkeping-keping.

Peristiwa itu demikian kuat tertanam dalam pikiran bawah sadar sampai-sampai tumbuh dalam dirinya sikap antipati terhadap bahasa Inggris seumur hidupnya. Mempelajari keterampilan baru yang seharusnya menyenangkan sebab bakal menopang kehidupan karirnya di masa mendatang malah menjelma menjadi momok yang lebih menakutkan dibanding bertatap muka langsung dengan kuntilanak atau genderewo sekalipun.

Si Badu bisa jadi representasi saya, Anda, teman kita dan seabreg warga belajar serta mantan warga belajar yang senasib, yang hingga saat ini masih tetap trauma dengan insiden memalukan semacam demikian.

Pada kali lain ada juga kawan yang meragukan kesuksesan. Tiga tahun di bangku SMP, plus tiga tahun di SMU ditambah lagi beberapa tahun di perguruan tinggi sudah dihabiskan untuk memupuk keterampilan berbahasa Inggris, toh hasilnya sama sekali minim, benar-benar tidak layak untuk dibanggakan. Bagaimana mungkin kursus yang hanya beberapa bulan bisa menggembleng seseorang menjadi terampil berbahasa Inggris. Tidakkah hal itu berlebihan atau hanya angan di atas awan?

Kawan yang meragukan seperti ini mungkin juga mewakili saya, Anda, teman kita dan seabreg warga belajar serta mantan warga belajar yang sepenanggungan, yang hingga saat ini masih belum juga mampu berbahasa Inggris dengan baik. Walaupun kita semua menyadari benar betapa penguasaan bahasa ini menjanjikan masa depan yang cemerlang bagi kesinambungan karir dan pekerjaan.

Kondisi seperti inilah yang menjadi perhatian Hypnocative Speech. Pembelajar remaja dan dewasa tidak hanya dihadapkan dengan kepelikan bahasa asing, tetapi dihadang juga oleh mental block dari dalam diri sendiri.

Sekedar memberi motivasi dari luar dengan kalimat hikmat nyata-nyata tidak banyak membuahkan. Dipaksakan dengan sistem, malah kontra-produktif. Oleh karena itu, perubahan harus dipompa dari dalam diri pembelajar.

Hypnosis dan hypnotherapy tampil mengemuka dengan segudang prestasi keberhasilan mengikis habis kebiasan buruk dan mental block lainnya. Penderita phobia, perokok berat, si peminder dan penderita mental kurang sehat sudah banyak yang disembuhkan. Caranya efektif dan tidak mengandung resiko sama sekali, yaitu dengan membawanya ke alam relaksasi, digiring ke kondisi trance dan dipandu menjalin komunikasi intens antara pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar dalam bentuk sugesti positif. Dan dalam waktu singkat hasilnya dapat terlihat. Dalam diri siapa pun terdapat juga pengalaman dan kenangan manis serta semangat menggebu-gebu ketika mempelajari hal-hal baru sehingga keberhasilan sempat dinikmati. Kondisi semacam inilah yang digali kembali, direfresh, dan ditanamkan ulang serta diperkuat dalam diri peserta agar dapat dengan mudah menyerap informasi dan keterampilan baru, seperti keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Tidak ada hal-hal magis dan klenis maupun mantra-mantra perdukunan dalam program hypnocative ini. Semuanya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan bahkan sudah divalidasi berkali-kali.

Bagaimana dengan pemanfaatan NLP (neuro-linguistic programming) dalam hypnocative speech? Sebelum menjawabnya, marilah kita buka fakta di alam nyata.

Almarhum Prof. HAMKA adalah penggemar Almanfaluthy, seorang sastrawan dari Mesir. Bila kita membandingkan karya tulis kedua tokoh besar ini, akan tampak betapa gaya berbahasa HAMKA mirip dengan cara pengungkapan Almanfaluthy. HAMKA tentu tidak pernah menjiplak karya satrawan Mesir itu. Ia hanya banyak membaca tulisannya dan memodel. Pelawak Kiwil dengan bangga meniru Almarhum K.H. Zainuddin MZ; Aa Jimmy menjiplak Aa Gym; dan Gus Pur mempola Almarhum Gus Dur. Entah disadari atau tidak, sebahagian kepribadian, sikap dan pola pikir ketiga orang terkenal itu terwarnai oleh tokoh-tokoh idolanya. Begitu pun dengan cara berbahasa mereka. Prosesnya singkat, to the point dan jelas membuahkan.

Pola memodel seperti itulah yang ditawarkan oleh NLP. Penerapannya dalam hypnocative adalah dengan membimbing warga belajar memodel cara berbahasa penutur asli (native speaker) secara sistematis, malatih dengan kegiatan komunikatif serta mentrasfer ke alam nyata. Atau dengan kata lain dibimbing lewat kegiatan kebahasaan yang mencerminkan keseharian alam nyata.

Kegiatan memodel dalam hypnocative bukan dengan cara serampangan, melainkan disinergikan dengan cara kerja otak dan kecenderungan preferensi belajar tiap peserta. Urutan-urutan pemerolehan bahasa seperti dijelaskan dalam psikolinguistik turut pula berperan. Hal ini bisa dilihat dari pemilihan dan urutan tampilan bahan ajar.

Tidak hanya sampai disana, warga belajar juga dibekali dengan materi pembelajaran mandiri yang selaras dengan program dan tingkatan kemampuan berbahasa mereka. Ditambah lagi, mereka dilibatkan dalam evaluasi kemajuan pembelajaran. Semuanya dibuat transparan. Jadi tidak hanya lembaga dan guru yang menjalankan evaluasi secara simultan, warga belajar pun berhak menilai kemajuan.

Ada jaminan keberhasilan yang disiratkan. Bila setelah berusaha keras mengikuti semua aturan masih tetap belum dapat mencapai hasil yang dicanangkan, tiap peserta berhak mendapat tambahan pembinaan hingga tujuan tercapai tanpa perlu mengeluarkan kocek tambahan sepeser pun.

Seperti itulah gambaran umum program hypnocative speech yang ditawarkan.

Rabu, 24 Agustus 2011

Langkah-Langkah Membuat Perencanaan Strategis dan Jangka Panjang

Langkah-Langkah Membuat Perencanaan Strategis dan Jangka Panjang

Panduan Memilih Tempat Kursus Bahasa

Jika suatu ketika Anda berhasrat mengambil kursus bahasa asing, Anda tentu akan memilih tempat kursus yang baik dengan biaya yang terjangkau. Namun untuk mengetahui apakah suatu lembaga memenuhi standar mutu atau tidak, dikelola secara profesional atau tidak, Anda memerlukan alat ukur yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai orang awam, Anda mungkin tidak mengetahui ukuran apa yang harus dipakai untuk menilai. Apakah karena banyak jumlah siswanya? Ataukah karena terkenal namanya? Atau mungkin karena lokasinya berada di tempat yang elite? Semua dugaan tersebut sah-sah saja untuk dijadikan patokan awal. Namun perlu diingat, ciri-ciri di atas baru menyangkut permukaannya saja. Yang jauh lebih penting untuk diamati dan dikaji paling tidak ada lima hal, yaitu:

1. Bukti Langsung di Lembaga Kursus
  • Ketika mendatangi tempat kursus tersebut, Anda boleh meminta untuk melihat-lihat. Perhatikan baik-baik apakah fasilitas yang disediakan untuk warga belajar memadai; apakah ruang belajarnya cukup nyaman,  adakah papan tulis, kursi, alat bantu seperti gambar, video, audio, serta alat bantu lain?
  • Amati kelengkapan administrasi pembelajaran; adakah sistem pelaporan hasil belajar yang jelas, adakah sistem penjenjangan atau tingkat, adakah gambaran kemampuan untuk tiap tingkat, bagaimana dengan buku-buku pegangan siswanya?
  • Adakah hasil karya siswa dipajang dalam majalah dinding, baik di kelas atau di ruang umum? Seberapa sering diganti?
  • Adakah bahasa sasaran (bahasa asing yang ingin Anda pelajari) digunakan sehari-hari di tempat kursus tersebut?
  • Adakah fasilitas khusus untuk belajar mandiri seperti ruang perpustakaan, dsb?


2.  Daya Tanggap Karyawan dan Lembaga
  • Apakah kelas dibuka dan dimulai sesuai jadwal yang ditetapkan? Apakah ulangan dan ujian dilaksanakan tepat waktu?
  • Bagaimana dengan tanggapan resepsionis ketika Anda masuk, ramah dan informatif kah?
  • Apakah ketika ruangan kotor atau berantakan, ada petugas khusus yang langsung membersikan dan merapikan?


3. Empathy
  • Apakah para petugas di sana mengenali warga belajar satu per satu?
  • Adakah greeter yang menyambut tiap siswa yang baru tiba?
  • Apakah staf pengajar mengetahui kesulitan yang dialami warga belajar dan sanggup memberikan solusi yang bisa diterima?
  • Adakah kotak saran dan usulan disediakan?
  • Adakah petugas counselling khusus bagi siswa atau orang tua?
  • Apakah warga belajar dibeda-bedakan atau semuanya diperlakukan secara adil?


4. Jaminan
  • Apakah guru-gurunya terlihat profesional dan kompeten dalam bahasa asing bersangkutan?
  • Apakah para guru semuanya telah mendapatkan pelatihan mengajar khusus?
  • Apakah para guru terkesan dedikatif?
  • Apakah para guru terkesan memiliki wawasan yang cukup luas mengenai dunia pendidikan dan pengajaran, paling tidak dunia bahasa asing yang digelutinya?
  • Adakah warga belajar diberikan kesempatan untuk memanfaatkan pilihan cara belajar yang disukai?
  • Apakah para guru memahami perbedaan pilihan dan cara belajar siswa?


5. Keandalan
  • Apakah hasil belajar sesuai dengan tujuan pembalajaran yang telah ditetapkan?
  • Adakah kompetensi warga belajar terbukti meningkat dari waktu ke waktu?
  • Jika warga belajarnya siswa dari sekolah, adakah nilai bahasa asing mereka di sekolah turut terdongkrak naik?
  • Apakah tes yang diberikan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tingkat bersangkutan?
  • Adakah tes kemampuan awal bagi siswa yang akan mengikuti kursus? Apa bentuk tesnya, hanya tulisan, lisan, listening atau semuanya?
  • Seberapa cepat hasilnya dapat diketahui?
  • Adakah tes khusus bagi program khusus? Atau hanya tes itu-itu juga?
  • Apakah yang diiklankan atau disampaikan oleh petugas penjualan persis benar dengan kenyataan di lembaga kursus bersangkutan?


Dari gambaran di atas, Anda dapat mengambil kesimpulan bahwa memilih suatu lembaga bahasa asing sebaiknya tidak tergesa-gesa. Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang, karena menyangkut biaya yang akan Anda keluarkan serta waktu yang akan Anda habiskan. Anda pasti tidak ingin mengalami kerugian, baik waktu maupun uang.

An American Citizen Talks About His Presidents

My Talkative American Friend Once Said:

One serious thing is that, we, American citizens, often send clear unspoken messages when choosing a president. We vote for a particular candidate because his name implicitly or explicitly bears what we have in mind and what we want him to do for us. For example, we appointed Barack Obama, not for the reason that he is the best we’ve had for the president of the United States, but rather we want him to draw our soldiers from Iraq and Afghanistan and then station them in their barracks.

Before, we had the Bushes who, as their names suggest, tended to beat around the bush when solving problems. They are both the late Sadam’s biggest enemies. Rather than challenging Sadam to a duel, as sensible gentlemen would do, they bombarded Iraq, destroying the whole Baghdad, the city of cultural heritage, and killing hundreds of innocent people. So my advice to you is that: the next time there is a fly or a rat in your house, never ever use the Bushes’ services to chase it away, or you yourself will be driven away homeless.

Senin, 15 Agustus 2011

Panduan Membangun Visi Perusahaan

Visi perusahaan dalam istilah ilmu manajemen mengandung pengertian cita-cita yang hendak diwujudkan dalam perusahaan. Bisa juga berarti hendak dibawa kemana perusahaan tersebut. Namun apa pun definisinya, visi harus dilukiskan dengan sejelas-jelasnya dan diperkirakan pula waktu yang dibutuhkan untuk pencapaianya.

Visa perusahaan itu amat penting, karena ia memberi arahan dan memaparkan tujuan perusahaan. Tanpa mengetahui tujuan yang jelas dan pasti, baik perusahaan maupun orang per orang tidak akan pernah mengetahui arah atau jalan yang harus ditempuh. Lebih parahnya lagi dia pun tidak akan menyadari sudah atau belum tibanya di tempat yang ditujunya. Salah-salah malah tersesat di negeri antah berantah.

Penelitian terhadap perusahaan yang bisa tetap bertahan dalam pasang surut zaman serta tahan banting – dan bahkan mampu terus berkembang tak terhalang melampaui yang lain – membawa para peneliti pada kesimpulan-kesimpulan yang serupa. Perusahaan-perusahaan demikian selalu kedapatan memiliki ‘jiwa dan nyawa’ berupa ‘core values’ dan ‘core purpose’. Materi dan metode perusahaan dapat saja berubah mengikuti irama zaman, tapi tujuan dan nilai-nilainya terus dijaga dan dipelihara.

Ambillah sebagai contoh perusahaan yang kini menjadi raja di bidangnya seperti Sony. Pada tahun lima-puluhan, impian pendirinya sudah terumuskan dengan baik seperti berikut:

Nilai-Nilai Perusahaan
Mengangkat kultur dan status nasional Jepang
Menjadi pemrakarsa – bukan pengekor apalagi penjiplak, mengerjakan hal-hal yang hampir dianggap mustahil
Mendorong kecakapan dan kreativitas tiap individu keluarga besar Sony

Tujuan Perusahaan
Menciptakan pengalaman menikmati inovasi dan pemanfaatan teknologi terapan demi kepentingan dan kebahagiaan masyarakat luas

Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan yang dikenal luas sebagai perusahaan yang merubah anggapan dunia mengenai imej buruk dan rendahnya kualitas produk-produk dari Jepang.

Gambaran Umum Cita-Cita Perusahaan
Kita bertekad mencipatkan produk-produk yang mampu merambah ke seluruh pelosok dunia...
Kita bertekad menjadi perusahanan Jepang pertama yang masuk ke pasar Amerika serta menangani pendistribusian barang secara langsung...
Kita bertekad untuk berhasil dalam mengejawatahkan hal-hal inovatif yang Amerika sediri pun telah gagal mewujudkannya...
Lima puluh tahun dari sekarang brand kita akan seterkenal brand-brand produk-produk lainnya yang memiliki reputasi mendunia... produk-produk kita akan mencerminkan kualitas dan inovasi yang mampu mengungguli pesaing yang paling inovatif sekali pun dan dimana pun...
Buatan Jepang akan memberi kesan dan makna produk unggul, bukan sesuatu yang berkualitas rendah dan murahan...

Lima puluh tahun sudah berlalu dan impian Sony dengan jelas dan pasti sudah dapat diwujudkan. Pengguna brand ini sering mengatakan ’Sony...’ dengan puas dan bangga, persis seperti dalam pesan iklan produknya; ’It’s a Sony’.

Cita-cita perusahaan harus dirumuskan dengan jelas sejak dini agar lebih mudah mengidentifikasi dan mengukur kemajuannya dari waktu ke waktu. Jadi membangun visi perusahaan tidak cukup hanya mencantumkan visi, melainkan harus juga disertai dengan perumusah nilai-nilai perusahaan, tujuan perusahaan dan penggambaran yang jelas mengenai prestasi yang ingin dicapai perusahaan berikut rentang waktunya.

Minggu, 07 Agustus 2011

Suara Nurani

Oleh:    IAS  Siregar

Tuntas sudah Farouk mengenakan kemejanya, ia tinggal memakai celana panjang.  Ditatapnya celana panjang hitam yang masih tergeletak di atas tempat tidur.  Lalu ia alihkan pandangannya ke kedua kaki.  Rasa sedih tiba-tiba menyusup dalam relung hatinya.  Ia katupkan mulutnya untuk membendung tangis yang sudah sampai di pelupuk mata.  Kakinya kini tinggal yang sebelah kanan saja yang masih utuh.  Yang kiri terpaksa harus diamputasi sampai setengah bagian paha karena terkena geranat nyasar saat meliput peristiwa perang di Timor Timur beberapa waktu lalu.
Lelaki berumur tiga puluhan ini kemudian menghela nafas panjang.  Ia berusaha mengusir perasaan pilunya.  Cacat tubuh yang dideritanya tidak boleh menjadi penghalang bagi perjuangan mulia yang telah lama tertanam dalam keyakinannya.  Ia harus tetap menyampaikan kebenaran, apa pun resikonya.  Ia tidak boleh berhenti sampai nanti dipecat oleh Tuhan sendiri lewat malaikat maut.  Toh otaknya masih berfungsi dengan baik, begitu pula semua panca indranya.  Jari-jari tangannya pun masih lengkap, berarti ia masih bisa menulis dan mengetik.  Terlebih lagi ia masih memiliki hati nurani yang menjadi wadah keyakinannnya.  Begitu kata hati dan pikirannya.
Segera ia kenakan celana panjangnya.  Ia tanggalkan segenap perasaan duka atas kehilangan ini untuk selama-lamanya seperti ia tinggalkan sebelah sepatu dan kaus kakinya di rumah, tidak akan pernah ia pakai lagi.  Beberapa saat kemudian si buntung pergi meninggalkan rumah untuk berangkat kerja dengan taksi yang sudah dipesannya sejak tadi.
Pekerjaan sebagi kuli tinta memberi Farouk kesempatan luas untuk meliput berbagai berita yang jarang dilirik kawan-kawan seprofesinya; berita tentang masyarakat kecil yang tergilas keserakahan pembangunan, khabar tentang rakyat jelata yang terlibas kezhaliman pemerintah, atau tentang apa saja yang kerap terlewatkan serta kurang mendapat sorotan media masa pada umumnya, seperti tentang anak yatim piatu yang terpaksa menjadi gelandangan karena tanah dan rumah warisan orang tuanya disita sebuah bank pemerintah, akibat ketidak-mampuan melunasi hutang almarhum orang tuanya kepada bank bersangkutan semasa hidup.
Kepergiannya ke Timor Timur waktu itu, disamping ditugaskan untuk meliput peristiwa perang oleh pimpinan koran harian tempatnya bekerja, didorong pula oleh keinginan pribadinya untuk mendokumentasikan penderitaan penduduk sipil yang terkena imbas perang berkepanjangan.  Pada saat melaksanakan tugas peliputan itulah ia tertimpa musibah yang datang tanpa memberi tanda.  Ketika tersadar Farouk mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar salah satu rumah sakit di ibu kota propinsi itu.  Kaki kirinya hancur tidak bisa diselamatkan lagi.  Mau tidak mau dokter harus memotong bagian tubuhnya ini. 
Beruntung bukan nyawa yang melayang, begitu senantiasa Farouk berkata pada diri sendiri.  Ia cukup bersyukur setidaknya ia masih memiliki bahan berita, lengkap dengan potret kesengsaraan kaum kecil akibat angkara murka di bumi Timor itu.
“Sudah tidak ada gunanya lagi memuat berita ini, Ruk,” komentar pemimpin redaksi saat Farouk menyerahkan hasil kerjanya.
“Pooling terakhir jelas-jelas dimenangkan kelompok yang menginginkan Timor Timur menjadi negara sendiri,” tegas atasannya lagi.
“Saya yakin ada kecurangan dalam perhitungan.  Mayoritas masyarakat yang saya temui disana tetap mengingikan propinsi ini bergabung dengan NKRI,”  bantah Farouk.
“Mungkin saja, tetapi presiden kita sudah merelakannya.”
Mendengar khabar ini hati Farouk seperti dikuliti.  Ia benar-benar kecewa kehilangan propinsi strategis ini.  Tak pernah disangkanya sama sekali kalau di kemudian hari si bontot akan terpisah dari induk semang yang telah merawatnya sekian lama.
Kesedihan Farouk atas kehilangan Timor Timur melebihi rasa dukanya saat kedapatan sebelah kakinya melayang.  Ia berandai-andai dapat berbuat sesuatu untuk mempertahankan wilayah ini seperti menjaga semangat perjuangannya untuk tetap menyala.
“Sudahlah, sekarang tugas kamu yang baru adalah meliput sisi kehidupan pribadi para tokoh politik dan juga para selebriti.  Banyak khabar angin yang bertebaran.  Ada yang rumah tangganya sedang keruh, ada keluarganya yang jadi pecandu obat-obatan dan ..... seribu macam masalah pribadi serta keluarga mereka.”
“Apa koran kita sudah menjadi harian gossip, Pak?  Apa hal ini tidak bertentangan dengan visi dan misi kita?” 
“Jangan perdulikan hal itu.  Yang jelas jutaan masyarakat ingin tahu kehidupan yang mereka jalani, bahkan mungkin sampai urusan pribadi dan keluarga para publik figur itu.”
“Mereka juga manusia biasa kan, Pak.  Sama seperti kita yang punya  urusan dan masalah pribadi sendiri-sendiri.  Saya khawatir kalau beritanya dimuat malah akan memperkeruh permasalahan yang sedang mereka hadapi.  Padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepentingan umum.”
“Memang, tetapi masyarakat kita berhak tahu?”
“Berhak?!  Sejak kapan masyarakat umum berhak mengetahui urusan dan masalah pribadi orang lain?”  tanya Farouk setengah marah.
“Tak perlu berdebat tentang ini.  Saya minta hasil liputannya sudah ada di meja saya paling lambat besok sore.  Maaf, Ruk, terpaksa saya tinggal.  Saya ada urusan keluar,”  pimpinan redaksi langsung nyelonong pergi meninggalkan Farouk sendirian di ruangannya.
Farouk memukul meja pimpinannya dengan telapak tangan.  Braakk!  Kali ini ia benar-benar dibuat marah.  Segalanya terlalu cepat berubah.  Kelincahan gerak tubuhnya sudah jauh berkurang akibat kehilangan kaki.  Lalu negaranya berubah penampilan, ikut-ikutan kehilangan propinsi segala.  Sekarang tugasnya pula yang kena giliran; ia beralih profesi menjadi kuli ghibah.
Pimpinan yang ia kagumi tidak mau ketinggalan juga, ikut meleceng dari cita-cita semula.  Koran ini dari dulu paling pantang memaparkan sisi gompal kehidupan pribadi orang per orang.  Berita tentang prilaku seorang pejabat boleh saja dimuat selama dipandang merugikan rakyat.  Itu pun hanya terbatas pada perkara penyalah-gunaan wewenang.  Bukan masalah pribadinya yang menjadi sorotan, tetapi sekedar memaparkan kekeliruan pola pikir serta tindakan-tindakan yang sewenang-wenang.
Kehidupan para seniman dan olahragawan sesekali ada juga mengisi kolom-kolom di koran harian ini.  Ulasannya pun hanya mengenai kegigihan mereka dalam berusaha, berikut prestasi cemerlang yang mereka capai.  Semua dimaksudkan untuk memberi contoh kepada masyarakat baca.  Karena, masih menurut koran ini, itulah hakikat publik figur.  Figur yang bisa dicontoh kebaikannya, terlepas sama sekali dari sisi kehidupan pribadi mereka yang amburadul.  Toh, emas yang keluar dari mulut seekor anjing, masih tetap emas berharga juga!
“Kriiing...kriiing...kriiing!!”
Lamunan Farouk dibuyarkan dering telephone di meja pimpinan.  Berkali-kali telephone hotline dihadapannya berdering.  Ragu-ragu Farouk hendak menjawab.  Ia ulurkan tangannya, namun keduluan mesin penjawab otomatis.
“Saya sudah sampai di hotel Renjana.  Ada surprise buat kamu.  Saya tunggu segera,”  kata suara dari seberang.
Suara itu terdengar tidak asing di telinga Farouk.  Itu suara seorang pejabat pemerintah sekelas menteri.  Tapi siapa namanya.  Farouk mencoba mengingat-ingat, namun terasa sulit.  Hingga ia dibuat penasaran.  Ada urusan apa pimpinan bertemu dengan pejabat ini.  Tempatnya pun di hotel segala.
*****
Keheranan Farouk semakin menjadi-jadi ketika ia saksikan atasannya asyik mengorol dengan dua orang di sudut lobi hotel.  Salah satunya seorang lelaki yang tadi menghubungi lewat telephone.  Farouk kini dapat mengingatnya.  Benar, ia seorang pejabat di sebuah departemen pemerintah.  Tetapi ia tidak mengenali wanita muda dan cantik yang duduk bersama mereka.  Gayanya seperti seorang model.
Tak lama kemudian pejabat itu meninggalkan mereka berdua.  Sang pemimpin redaksi pun langsung membawa wanita tadi ke sebuah kamar.  Farouk menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan semuanya.  Ia segera mencegat sang pejabat di pintu keluar.  Ia ingin mengorek keterangan darinya.
“Selamat siang, Pak Wangun,”  tegur Farouk dengan sopan.
Pejabat ini terperanjat kaget.  Mukanya sedikit berubah pucat.  Namun segera ia mengganti tampilan air mukanya.  Ia berpura-pura terlihat senang bertemu Farouk.
“Eh, Farouk!  Apa khabar?  Sudah lama disini?”
“Lumayan.  Tadi saya lihat Bapak sedang asyik mengobrol dengan pimpinan saya.”
Muka Pak Wangun bertambah pucat.  Segera ia merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop.  Kemudian sang pejabat melangkah mendekati Farouk seperti hendak menyalami.
“Ini sekedar uang jajan.  Atasan kamu sudah dapat jatahnya sendiri,”  Pak Wangun membisiki Farouk dan serta-merta melangkah cepat-cepat menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu masuk hotel Renjana.
“Lho, apa ini?!!  Pak... Pak Wangun...!”
Farouk menyeret kakinya berusaha mengejar Pak Wangun.  Namun dengan kondisinya sekarang tentu ia tidak akan sanggup mengejar pejabat yang berjalan dengan sangat tergesa-gesa itu.  Dalam sekejap saja Pak Wangun sudah masuk ke mobilnya dan langsung dibawa pergi sang sopir.
Tinggalah Farouk tertegun sendirian.  Ia ingin mencari-tahu cerita di balik kejanggalan ini.  Ia harus berusaha mengangkat tutup keanehan ini.  Segera ia pergi dengan taksi, menelusuri sumber berita yang kini mengganggu pikirannya.
Untuk wartawan sekaliber Farouk, mengorek suatu berita mudah saja baginya.  Maka tak heran bila keesokan harinya ia sudah merampungkan tugas yang kemarin diberikan pimpinannya.  Pagi menjelang siang hasil liputan tentang sisi gompal kehidupan pribadi Pak Wangun, lengkap dengan faktanya, telah berada di atas meja pimpinan redaksi.
“Jangan tentang orang ini, Ruk,”  pinta sang pimpinan setelah membaca hasil kerja Farouk.
“Kenapa, Pak?”  tanya Farouk memancing.
“Dia orang baik.  Bahkan menjadi salah seorang ralasi kita.  Cari saja yang lain,  terutama saingan bisnisnya.”
Farouk tambah yakin telah terjadi permainan di balik meja antara kedua orang ini.  Namun ia belum cukup mengumpulkan data dan faktanya.  Tidak hendak memperpanjang silang pendapat, Farouk segera menyetujui.
“Baiklah, Pak, kalau demikian,”  Farouk segera berlalu dari hadapan atasannya. 
Dua hari berikutnya koran-koran harian ibu kota ramai menurunkan berita tentang usaha kotor yang dikelola pejabat sebuah departemen pemerintah yang dikenal dengan nama Pak Wangun.  Dikatakan Pak Wangun menjadi germo papan atas yang tidak tersentuh hukum.  Untuk membentengi usahanya, sang germo raksasa rutin membayar upeti berupa uang dan kencan gratis bagi beberapa pejabat di kepolisian, kehakiman, juga beberapa pemimpin redaksi, termasuk pimpinan redaksi harian tempat Farouk bekerja kemarin dulu.  Data dan fakta yang akurat membungkus berita skandal ini dengan sangat meyakinkan.  Satu dua koran bahkan mencantumkannya sebagai berita utama.
***
Sejak dari waktu subuh tadi Farouk sudah beres mengemasi barang-barang pribadinya yang masih tertinggal di bekas kantonya.  Ia langsung pulang ke rumah untuk menyimpan barang-barang tersebut.  Sengaja taksi yang membawanya disuruh menunggu.  Sesaat kemudian ia terlihat berjalan-jalan menelusuri ibu kota dengan taksi yang sama.  Hanya ketika tiba di kebun binatang Ragunan, barulah ia berhenti dan turun.
“Ini buat kamu saja,”  Farouk menyerahkan sebuah amplop kepada sopir taksi; amplop yang dua hari lalu baru diterimanya dari Pak Wangun.
“Tuhan, ampuni dosaku yang telah membuka aib pimpinanku sendiri.  Bukan karena dendam, tetapi sekedar menyuarakan nurani,”  ucap lirih Farouk dengan perlahan sambil terus melangkah memasuki kebun binatang.
***

MASIH JUGA KITA

MASIH JUGA KITA?
Masih juga kita bergayut pada tali rapuh?
Masih juga kita bermandi peluh di air keruh?

Syahadatmu syahadatku erat mengikat
Sujudmu sujudku di kaki Maha Wujud Sejati
Panutanmu panutanku rahmatan lil 'aalamiin
Qur'anmu qur'anku mushhaf Utsmani

Tapi kau dan aku terjerembab dalam ikhtilaf madzhab
Organisasimu organisasiku sihir Harut dan Marut
Partaimu partaiku bercerai
Otakmu otakku terkotak-kotak

"Eh... Sebab akulah yang paling benar, engkau kafir.
Sebab Akulah ini pewaris sorga," ujarmu.

"Tidak!" bantahku, "Akulah yang berhujjah paling shahih.
Tak lagi tersisa ruang sorga untukmu."

Mana bukti?
Kau dan aku berdiam diri, tak pasti.

Gulat bahasa dan logika menyepak amal nyata
Di sana nasionalisme dan negara tanda pusara
Pemenangnya syetan-syetan juga

Duhai,
Kasihan si awam terkena demam
Kasihan si jahil kian terkucil
Kasihan si muslim menjadi yatim
Kasihan si miskin papa terlunta-lunta
Kasihan si fakir pada mulut nganga si kafir

Masihkah bergayut pada tali rapuh?
Masihkan bermandi peluh di air keruh?
Sedang agamamu agamaku selalu satu

Jakarta, Awal Desember 2006