Oleh: IAS Siregar
Tuntas sudah Farouk mengenakan kemejanya, ia tinggal memakai celana panjang. Ditatapnya celana panjang hitam yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Lalu ia alihkan pandangannya ke kedua kaki. Rasa sedih tiba-tiba menyusup dalam relung hatinya. Ia katupkan mulutnya untuk membendung tangis yang sudah sampai di pelupuk mata. Kakinya kini tinggal yang sebelah kanan saja yang masih utuh. Yang kiri terpaksa harus diamputasi sampai setengah bagian paha karena terkena geranat nyasar saat meliput peristiwa perang di Timor Timur beberapa waktu lalu.
Lelaki berumur tiga puluhan ini kemudian menghela nafas panjang. Ia berusaha mengusir perasaan pilunya. Cacat tubuh yang dideritanya tidak boleh menjadi penghalang bagi perjuangan mulia yang telah lama tertanam dalam keyakinannya. Ia harus tetap menyampaikan kebenaran, apa pun resikonya. Ia tidak boleh berhenti sampai nanti dipecat oleh Tuhan sendiri lewat malaikat maut. Toh otaknya masih berfungsi dengan baik, begitu pula semua panca indranya. Jari-jari tangannya pun masih lengkap, berarti ia masih bisa menulis dan mengetik. Terlebih lagi ia masih memiliki hati nurani yang menjadi wadah keyakinannnya. Begitu kata hati dan pikirannya.
Segera ia kenakan celana panjangnya. Ia tanggalkan segenap perasaan duka atas kehilangan ini untuk selama-lamanya seperti ia tinggalkan sebelah sepatu dan kaus kakinya di rumah, tidak akan pernah ia pakai lagi. Beberapa saat kemudian si buntung pergi meninggalkan rumah untuk berangkat kerja dengan taksi yang sudah dipesannya sejak tadi.
Pekerjaan sebagi kuli tinta memberi Farouk kesempatan luas untuk meliput berbagai berita yang jarang dilirik kawan-kawan seprofesinya; berita tentang masyarakat kecil yang tergilas keserakahan pembangunan, khabar tentang rakyat jelata yang terlibas kezhaliman pemerintah, atau tentang apa saja yang kerap terlewatkan serta kurang mendapat sorotan media masa pada umumnya, seperti tentang anak yatim piatu yang terpaksa menjadi gelandangan karena tanah dan rumah warisan orang tuanya disita sebuah bank pemerintah, akibat ketidak-mampuan melunasi hutang almarhum orang tuanya kepada bank bersangkutan semasa hidup.
Kepergiannya ke Timor Timur waktu itu, disamping ditugaskan untuk meliput peristiwa perang oleh pimpinan koran harian tempatnya bekerja, didorong pula oleh keinginan pribadinya untuk mendokumentasikan penderitaan penduduk sipil yang terkena imbas perang berkepanjangan. Pada saat melaksanakan tugas peliputan itulah ia tertimpa musibah yang datang tanpa memberi tanda. Ketika tersadar Farouk mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar salah satu rumah sakit di ibu kota propinsi itu. Kaki kirinya hancur tidak bisa diselamatkan lagi. Mau tidak mau dokter harus memotong bagian tubuhnya ini.
Beruntung bukan nyawa yang melayang, begitu senantiasa Farouk berkata pada diri sendiri. Ia cukup bersyukur setidaknya ia masih memiliki bahan berita, lengkap dengan potret kesengsaraan kaum kecil akibat angkara murka di bumi Timor itu.
“Sudah tidak ada gunanya lagi memuat berita ini, Ruk,” komentar pemimpin redaksi saat Farouk menyerahkan hasil kerjanya.
“Pooling terakhir jelas-jelas dimenangkan kelompok yang menginginkan Timor Timur menjadi negara sendiri,” tegas atasannya lagi.
“Saya yakin ada kecurangan dalam perhitungan. Mayoritas masyarakat yang saya temui disana tetap mengingikan propinsi ini bergabung dengan NKRI,” bantah Farouk.
“Mungkin saja, tetapi presiden kita sudah merelakannya.”
Mendengar khabar ini hati Farouk seperti dikuliti. Ia benar-benar kecewa kehilangan propinsi strategis ini. Tak pernah disangkanya sama sekali kalau di kemudian hari si bontot akan terpisah dari induk semang yang telah merawatnya sekian lama.
Kesedihan Farouk atas kehilangan Timor Timur melebihi rasa dukanya saat kedapatan sebelah kakinya melayang. Ia berandai-andai dapat berbuat sesuatu untuk mempertahankan wilayah ini seperti menjaga semangat perjuangannya untuk tetap menyala.
“Sudahlah, sekarang tugas kamu yang baru adalah meliput sisi kehidupan pribadi para tokoh politik dan juga para selebriti. Banyak khabar angin yang bertebaran. Ada yang rumah tangganya sedang keruh, ada keluarganya yang jadi pecandu obat-obatan dan ..... seribu macam masalah pribadi serta keluarga mereka.”
“Apa koran kita sudah menjadi harian gossip, Pak? Apa hal ini tidak bertentangan dengan visi dan misi kita?”
“Jangan perdulikan hal itu. Yang jelas jutaan masyarakat ingin tahu kehidupan yang mereka jalani, bahkan mungkin sampai urusan pribadi dan keluarga para publik figur itu.”
“Mereka juga manusia biasa kan, Pak. Sama seperti kita yang punya urusan dan masalah pribadi sendiri-sendiri. Saya khawatir kalau beritanya dimuat malah akan memperkeruh permasalahan yang sedang mereka hadapi. Padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepentingan umum.”
“Memang, tetapi masyarakat kita berhak tahu?”
“Berhak?! Sejak kapan masyarakat umum berhak mengetahui urusan dan masalah pribadi orang lain?” tanya Farouk setengah marah.
“Tak perlu berdebat tentang ini. Saya minta hasil liputannya sudah ada di meja saya paling lambat besok sore. Maaf, Ruk, terpaksa saya tinggal. Saya ada urusan keluar,” pimpinan redaksi langsung nyelonong pergi meninggalkan Farouk sendirian di ruangannya.
Farouk memukul meja pimpinannya dengan telapak tangan. Braakk! Kali ini ia benar-benar dibuat marah. Segalanya terlalu cepat berubah. Kelincahan gerak tubuhnya sudah jauh berkurang akibat kehilangan kaki. Lalu negaranya berubah penampilan, ikut-ikutan kehilangan propinsi segala. Sekarang tugasnya pula yang kena giliran; ia beralih profesi menjadi kuli ghibah.
Pimpinan yang ia kagumi tidak mau ketinggalan juga, ikut meleceng dari cita-cita semula. Koran ini dari dulu paling pantang memaparkan sisi gompal kehidupan pribadi orang per orang. Berita tentang prilaku seorang pejabat boleh saja dimuat selama dipandang merugikan rakyat. Itu pun hanya terbatas pada perkara penyalah-gunaan wewenang. Bukan masalah pribadinya yang menjadi sorotan, tetapi sekedar memaparkan kekeliruan pola pikir serta tindakan-tindakan yang sewenang-wenang.
Kehidupan para seniman dan olahragawan sesekali ada juga mengisi kolom-kolom di koran harian ini. Ulasannya pun hanya mengenai kegigihan mereka dalam berusaha, berikut prestasi cemerlang yang mereka capai. Semua dimaksudkan untuk memberi contoh kepada masyarakat baca. Karena, masih menurut koran ini, itulah hakikat publik figur. Figur yang bisa dicontoh kebaikannya, terlepas sama sekali dari sisi kehidupan pribadi mereka yang amburadul. Toh, emas yang keluar dari mulut seekor anjing, masih tetap emas berharga juga!
“Kriiing...kriiing...kriiing!!”
Lamunan Farouk dibuyarkan dering telephone di meja pimpinan. Berkali-kali telephone hotline dihadapannya berdering. Ragu-ragu Farouk hendak menjawab. Ia ulurkan tangannya, namun keduluan mesin penjawab otomatis.
“Saya sudah sampai di hotel Renjana. Ada surprise buat kamu. Saya tunggu segera,” kata suara dari seberang.
Suara itu terdengar tidak asing di telinga Farouk. Itu suara seorang pejabat pemerintah sekelas menteri. Tapi siapa namanya. Farouk mencoba mengingat-ingat, namun terasa sulit. Hingga ia dibuat penasaran. Ada urusan apa pimpinan bertemu dengan pejabat ini. Tempatnya pun di hotel segala.
*****
Keheranan Farouk semakin menjadi-jadi ketika ia saksikan atasannya asyik mengorol dengan dua orang di sudut lobi hotel. Salah satunya seorang lelaki yang tadi menghubungi lewat telephone. Farouk kini dapat mengingatnya. Benar, ia seorang pejabat di sebuah departemen pemerintah. Tetapi ia tidak mengenali wanita muda dan cantik yang duduk bersama mereka. Gayanya seperti seorang model.
Tak lama kemudian pejabat itu meninggalkan mereka berdua. Sang pemimpin redaksi pun langsung membawa wanita tadi ke sebuah kamar. Farouk menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan semuanya. Ia segera mencegat sang pejabat di pintu keluar. Ia ingin mengorek keterangan darinya.
“Selamat siang, Pak Wangun,” tegur Farouk dengan sopan.
Pejabat ini terperanjat kaget. Mukanya sedikit berubah pucat. Namun segera ia mengganti tampilan air mukanya. Ia berpura-pura terlihat senang bertemu Farouk.
“Eh, Farouk! Apa khabar? Sudah lama disini?”
“Lumayan. Tadi saya lihat Bapak sedang asyik mengobrol dengan pimpinan saya.”
Muka Pak Wangun bertambah pucat. Segera ia merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. Kemudian sang pejabat melangkah mendekati Farouk seperti hendak menyalami.
“Ini sekedar uang jajan. Atasan kamu sudah dapat jatahnya sendiri,” Pak Wangun membisiki Farouk dan serta-merta melangkah cepat-cepat menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu masuk hotel Renjana.
“Lho, apa ini?!! Pak... Pak Wangun...!”
Farouk menyeret kakinya berusaha mengejar Pak Wangun. Namun dengan kondisinya sekarang tentu ia tidak akan sanggup mengejar pejabat yang berjalan dengan sangat tergesa-gesa itu. Dalam sekejap saja Pak Wangun sudah masuk ke mobilnya dan langsung dibawa pergi sang sopir.
Tinggalah Farouk tertegun sendirian. Ia ingin mencari-tahu cerita di balik kejanggalan ini. Ia harus berusaha mengangkat tutup keanehan ini. Segera ia pergi dengan taksi, menelusuri sumber berita yang kini mengganggu pikirannya.
Untuk wartawan sekaliber Farouk, mengorek suatu berita mudah saja baginya. Maka tak heran bila keesokan harinya ia sudah merampungkan tugas yang kemarin diberikan pimpinannya. Pagi menjelang siang hasil liputan tentang sisi gompal kehidupan pribadi Pak Wangun, lengkap dengan faktanya, telah berada di atas meja pimpinan redaksi.
“Jangan tentang orang ini, Ruk,” pinta sang pimpinan setelah membaca hasil kerja Farouk.
“Kenapa, Pak?” tanya Farouk memancing.
“Dia orang baik. Bahkan menjadi salah seorang ralasi kita. Cari saja yang lain, terutama saingan bisnisnya.”
Farouk tambah yakin telah terjadi permainan di balik meja antara kedua orang ini. Namun ia belum cukup mengumpulkan data dan faktanya. Tidak hendak memperpanjang silang pendapat, Farouk segera menyetujui.
“Baiklah, Pak, kalau demikian,” Farouk segera berlalu dari hadapan atasannya.
Dua hari berikutnya koran-koran harian ibu kota ramai menurunkan berita tentang usaha kotor yang dikelola pejabat sebuah departemen pemerintah yang dikenal dengan nama Pak Wangun. Dikatakan Pak Wangun menjadi germo papan atas yang tidak tersentuh hukum. Untuk membentengi usahanya, sang germo raksasa rutin membayar upeti berupa uang dan kencan gratis bagi beberapa pejabat di kepolisian, kehakiman, juga beberapa pemimpin redaksi, termasuk pimpinan redaksi harian tempat Farouk bekerja kemarin dulu. Data dan fakta yang akurat membungkus berita skandal ini dengan sangat meyakinkan. Satu dua koran bahkan mencantumkannya sebagai berita utama.
***
Sejak dari waktu subuh tadi Farouk sudah beres mengemasi barang-barang pribadinya yang masih tertinggal di bekas kantonya. Ia langsung pulang ke rumah untuk menyimpan barang-barang tersebut. Sengaja taksi yang membawanya disuruh menunggu. Sesaat kemudian ia terlihat berjalan-jalan menelusuri ibu kota dengan taksi yang sama. Hanya ketika tiba di kebun binatang Ragunan, barulah ia berhenti dan turun.
“Ini buat kamu saja,” Farouk menyerahkan sebuah amplop kepada sopir taksi; amplop yang dua hari lalu baru diterimanya dari Pak Wangun.
“Tuhan, ampuni dosaku yang telah membuka aib pimpinanku sendiri. Bukan karena dendam, tetapi sekedar menyuarakan nurani,” ucap lirih Farouk dengan perlahan sambil terus melangkah memasuki kebun binatang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar