|
Seri Sahabat Karib Otak
Memperbaiki Kehidupan Ummat
|
Bagian ke-1
KIAT-KIAT
MUJARAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING
Bimbingan Belajar Mandiri
Kertas Kerja IAS Siregar
Pembelajar bahasa
asing di Indonesia umumnya menaruh minat yang sangat besar terhadap penguasaan bahasa
lisan dari bahasa asing yang dipelajarinya. ‘Saya kepingin bisa bahasa
Inggris,’ begitu sering kita dengar dari mulut mereka. Jika ditanya ’Apa yang
kamu maksud dengan bisa?’, jawaban terbanyak menyatakan ’Kepingin bisa ngomong
Inggris’. Sayangnya baik di bangku sekolah maupun di bangku kuliah dan juga di
tempat-tempat kursus, mereka malah lebih sering berhadapan dengan atau disuguhi
bahasa tulis.
Tidak ada yang
mengingkari pentingnya dukungan teks tulis dalam pembelajaran bahasa asing mana
pun. Namun lambang atau tulisan bahasa asing acapkali amat berlainan cara
pegucapannya dengan cara membaca nyaring bahasa Indonesia tulis yang sehari-hari
akrab digumuli oleh para pembelajar kita. Tulisan ‘JULIO dan HOLA’ dalam bahasa
Spanyol tidak diucapkan Julio dan Hola, tetapi HULIO dan OLA. Dan pembelajar
Indonesia yang belum pernah diberitahu cara membacanya tidak pelak lagi akan
membaca kedua kata itu sesuai tulisannya yakni JULIO dan HOLA. Sesederhana seperti
dalam bahasa Spanyol itu pun menimbulkan masalah bagi warga belajar kita.
Apalagi jika mereka berhadapan dengan teks tertulis dalam bahasa Inggris yang
kadang dibilang orang sebagai ’bahasa munafik’ – lain di bibir lain di tulisan.
Kata ’book’ dan ’food’ dibaca ’buk’ dan ’fud’, tetapi kata ’door’ dan ’floor’ tidak
diucapkan ’dur’ dan ’flur’ walaupun keempat kata itu sama-sama mengandung dua
buah huruf vokal ’o’ (vokal rangkap ‘o’).
’Ah, itu kan
masalah kecil,’ kata orang-orang tertentu yang menganggap remeh masalah.
Maklumi saja,
karena mereka tidak tahu lubang kecil bisa menenggelamkan kapal yang besar,
karena nila setitik rusak susu sebelanga dan sedikit noda di baju bisa membuat
pemakainya kurang percaya diri.
Perlu disadari
bahwa salah pengucapan dapat menyebabkan perbedaan maksud. Dalam bahasa Arab
satu titik dapat menyatakan arti yang berbeda. Ungkapan ’auudzu billah’ dengan ’auudu
billah’ amat jauh berbeda maksudnya. Perbedaan panjang dan pendek dalam
pelafalan kata-kata bahasa Arab juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam bahasa
Mandarin satu kata kedapatan memiliki empat nada pengucapan yang masing-masing
mempengaruhi makna yang dimaksudkannya. Dalam bahasa Inggris terdapat kata-kata
yang terdiri dari huruf-huruf yang sama tetapi dapat memberi arti yang berlainan
jika pengucapannya berbeda, contohnya kata ’envelop’
dan ’object’. Yang seperti itu tentu
bukan termasuk masalah kecil.
Gara-gara keliru
mengucapkan kata-kata yang tertulis dalam manuskrip tua, jutaan ummat manusia
secara turun-temurun terjerembab dalam kesalahfahaman mengenai manual hidupnya
dan semakin menjauh saja dari apa yang dicarinya selama ini. Itu bukan perkara
kecil.
MEMPELAJARI BAHASA ASING SEBAGAI TANDA KETAATAN
Allah SWT menjadikan
manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain.
Diantara yang perlu dikenali adalah kultur dan budaya, dan bahasa merupakan
salah satu bagiannya. Bahasa juga merupakan salah satu tanda kebesaran,
keagungan, kekuasaan dan rahmat Allah SWT. Mempelajarinya dengan niat ibadah,
pastilah pahalanya pun tidak kecil. Tidak kalah gengsi dengan pengkajian
tanda-tanda kekuasaanNYA yang lain.
”Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat, 49/13)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYA ialah
penciptaan langit dan bumi dan beraneka-ragamnya bahasa kalian dan warna kulit
kalian, sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang yang mengetahui.” (QS. Ar Rum, 30/22)
“Bersungguh-sungguhlah kalian dalam mempelajari
bahasa Arab, karena ia merupakan bagian dari agama kalian.” (Umar bin Khattab
r.a.)
Dituturkan dalam
sejarah Islam bahwa Rasulullah SAW mampu bercakap-cakap dengan beragam dialek.
Bila Beliau SAW berbicara kepada suatu kaum, bahasa kaum itulah yang
digunakannya. Catatan sejarah ini memberi kepastian bahwa Rasullullah SAW
seorang multi-linguist. Bahkan Beliau SAW diceritakan pernah menyuruh salah
seorang sahabatnya untuk mempelajari bahasa tulis kaum Yahudi (bahasa Ibrani
tulis).
PRINSIP-PRINSIP MENGUASAI BAHASA LISAN
Prinsip Kesatu:
DILARANG KERAS TERGESA-GESA MENIRUKAN DAN
MENGUCAPKAN BAHASA ASING
Seorang seniman
besar pernah diminta berbicara di depan masyarakat berkebangsaan Rusia. Pidato
tersebut memang diharapkan disampaikan dalam bahasa Inggris, namun demi
membangun keakraban, seniman ini ingin menyelipkan beberapa paragraf berbahasa
Rusia dalam pidatonya. Ia pun mengambil kursus privat kilat selama tiga hari.
Dimintanya guru untuk menterjemahkan paragraf yang telah ditulis dan merekamkan
cara membacanya. Pada waktu yang telah ditentukan sang seniman menyampaikan
pidato dwi-bahasa tersebut dengan cukup lancar dan bahkan mendapat tepuk tangan
yang meriah dari audiens. Seusai pidato atase kebudayaan Rusia menyalami sang
seniman dan kesempatan itu tentu saja tidak disia-siakan oleh seniman itu untuk
meminta tanggapan mengenai pidato yang disampaikannya dalam bahasa nasional
sang atase. Yang mengejutkan, atase itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak memahami
isi pidato tersebut, yang dimengertinya hanya bagian pidato yang disampaikan
dalam bahasa Inggris dan dia bilang sangat mengagumkan.
Kali lain seorang
calon asisten manajer diberi peluang naik jabatan. Jika lolos seleksi ia akan
dipindahkan ke toko yang lebih besar dan mewah. Di toko yang baru itu rata-rata
pelanggannya berasal dari luar negeri. Oleh karena itu, salah satu syarat
kenaikan jabatan adalah penguasaan bahasa Inggris. Calon manajer ini langsung
membeli buku-buku pelajaran bahasa Inggris, membawanya kemana pun ia pergi dan bila
ada kesempatan, isi buku-buku tersebut dibacanya dengan nyaring. Namun
bunyi-bunyian yang keluar dari mulutnya seringkali membuat orang-orang di
sekitar tersenyum simpul dan ada juga yang sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Sewaktu masih
berumur lima sampai sembilan tahun – kata ibu – penulis begitu tertarik dengan
film-film kartun dan jenis-jenis film lain dari barat yang ditayangkang di
TVRI. Tiap kali usai menyaksikan film, penulis sering membalelo sambil memerankan tokoh-tokoh tertentu dalam film itu.
Bahasa yang diucapkan begitu asing – menurut keterangan ibu lagi – sehingga
tidak ada satu orang pun yang mengerti maksudnya. Bahkan almarhum ayah yang
menguasai lima bahasa asing dibuat KO, menyerah kalah karena tidak sanggup
memahami ucapan-ucapan penulis.
Saat duduk di bangku
sekolah menengah pertama itulah penulis baru mengetahui bahwa bahasa yang ingin
penulis tiru adalah bahasa Inggris. Mendapati pelajaran bahasa Inggris di
sekolah, penulis sangat bersemangat ingin cepat-cepat mempraktekkan. Suatu
ketika guru bahasa Inggris lewat. Segera penulis hampiri dan mengajaknya
bercakap-cakap. Hasilnya Pak guru tertenyum simpul dan kejadian memalukan itu
sering menjadi cerita lelucon untuk membuka pelajaran di kelas-kelas lain.
Berbulan-bulan penulis menjadi obyek ledekan teman-teman satu sekolah.
Di Jakarta
terdapat kursus bahasa Inggris besar yang telah memiliki cabang-cabang di
berbagai tempat di JABODETABEK serta di kota-kota besar lain di wilayah
Republik Indonesia. Salah satu kelebihan kursus ini adalah keberhasilannya
dalam menanamkan mindset ’tidak takut salah’ di benak peserta kursus. Otoritas
juga berhasil ’memaksa’ warga belajar untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris,
terutama selama berada di lembaga itu. Karena tertarik mencari tahu
kiat-kiatnya, maka penulis mendaftar sebagai peserta. Di lingkungan itu memang
para siswa benar-benar berkomunikasi dalam bahasa asing. Bahkan saking asingnya,
seorang tamu native dari Autralia yang suatu hari bertandang ke tempat itu sampai-sampai
mengernyitkan dahi, mencoba keras memahami apa yang dipercakapkan oleh para
siswa namun akhirnya duduk lemas di kursi tamu dan berkali-kali menarik nafas
dalam-dalam. ”Which English are they
speaking? (Bahasa Inggris mana yang mereka gunakan itu?)’ begitu
tanggapannya.
Masih banyak
cerita yang menuturkan tentang keberhasilan menguasai bahasa ’yang benar-benar
asing’ (Awas! bukan bahasa asing yang penulis maksudkan) yang dapat dipaparkan
di sini. Tetapi cerita-cerita di atas cukuplah kiranya mewakili, dan semuanya berujung
pada kesimpulan yang sama, yaitu ”ketergesa-gesaan menirukan dan mengucapkan
bahasa asing yang baru kita kenali malah berakibat kontra-produktif”.
Apa yang salah
dari metode dan teknik belajar berbicara seperti ini? Bukankah lebih cepat,
lebih baik? Bukankah ’practice makes
perfect’?
Tidak ada yang
salah dengan metode dan teknik tersebut di atas. Penyebab kegagalannya justru
berada pada tahap sebelum ’practice’
atau tahap menjelang pelatihan.
Pembelajaran
bahasa lisan berkaitan sangat erat dengan keterampilan menyimak (listening skills) dan penggunaan alat
ucap. Di kelas-kelas bahasa asing, guru sering menggunakan teknik ’Listen dan Repeat’ (Dengarkan dan
Tirukan). Dalam teknik ini siswa dituntut menirukan ucapan yang dicontohkan
baik oleh guru ataupun oleh suara rekaman dari kaset/CD audio. Kata, frase,
kalimat, bagian dialog atau wacana terlebih dahulu diucapkan satu kali, lalu
semua warga belajar secara serentak menirukan.
Pada tahap ’oral practice’ (pelatihan lisan) dan ’oral production’ (penerapan bahasa yang
baru dipelajari secara lisan), guru-guru kita – terutama guru-guru di tempat
kursus – kadang-kadang menggunakan teknik drill,
acting out dialogues, guided conversations (percakapan terbimbing), role-plays (main peran), games, simulations, dan lain-lain.
Melalui teknik-teknik seperti ini warga belajar diminta berinteraksi satu sama
lain untuk memperlancar bahasa yang dipelajarinya. Kalau di sekolah formal, para
siswa biasanya disuruh membaca dialog atau kalimat-kalimat secara nyaring tanpa
terlebih dahulu diberi contoh yang memadai dari model pengucapannya. Adakalanya
mereka diberi tugas untuk menyajikan dialog atau monolog ciptaannya di depan
kelas (lebih sering karya orang lain yang diaku-aku sebagai karangan sendiri).
Teknik-teknik
pembelajaran seperti ini kentara benar kelemahannya, bahkan seringkali
berakibat fatal bagi perkembangan belajar para siswa di kemudian hari. Demikian
fakta yang ditemukan di lapangan. Sebabnya antara lain, dalam teknik ’listen and repeat’ sekali jalan semacam
itu indra pendengaran siswa belum cukup dapat merekam model pengucapan secara
utuh dan otaknya tidak diberi waktu yang mamadai untuk mengendapkan materi
tersebut dalam ingatan jangka panjang (long
term memory). Belum lagi materi pelajaran baru itu sempat tersimpan dalam
pikiran bawah sadar, kegiatan interaksi sudah harus segera dilakukan oleh warga
belajar. Di dalam kegiatan interaksi tersebut yang dominan terdengar adalah suara-suara
dan pelafalan (pronunciation)
kawan-kawan sekelas yang tentu saja belum dapat dipertanggunjawabkan
kebenarannya: stress, rythm dan intonation-nya masih tidak karu-karuan.
Walhasil, bisa ditebak, karena yang tersimpan dalam memorinya lebih banyak
suara-suara dari kawan-kawan sekelasnya itu, maka sekalipun sudah
bertahun-tahun belajar dan berlatih, pembelajar masih kesulitan menangkap dan
memahami ucapan native speaker, masih
tersendat-sendat ketika membaca nyaring dan masih setia dengan pelafalan yang
belum acceptable sewaktu berbicara.
Oleh karena itu,
jika ingin cepat bisa berbicara dalam bahasa asing serta memiliki fondasi yang
kokoh dalam pengucapannya, teknik ’Listen
and Repeat’ sebaiknya difahami sebagai ’Listen,
listen, and listen, then repeat’ dalam penerapannya pada pembelajaran.
Sampai berapa
kalikah ’listen’-nya?
Sampai ingatan
dan pendengaran kita berhasil merekam dan kita mampu mengucapkan di dalam hati,
persis seperti dalam materi listening itu – paling tidak mendekati modelnya.
Ambil saja sebagai contoh menghafalkan sebuah lagu, mula-mula yang ditangkap
adalah nada-nadanya (lagunya). Dengan itu saja orang sudah bisa bersenandung
walau pun belum mengingat liriknya. Setelah pasti sampai ke tahap itu, barulah kita
boleh berlatih sendiri membunyikan kata, frase, contoh kalimat atau model
dialog. Hasilnya dijamin lebih mendekati kefasihan dan kebenaran alias bisa difahami
dan diterima (acceptable) oleh
penutur asli. Sebuah lirik lagu berirama dangdut yang dipopulerkan oleh Ike
Nurjannah menyatakan ’Masih terngiang di telingaku bisik cintamu’. Ya, tepat
sekali, sampai terngiang-ngiang di telinga; bagaimana bunyinya, tekanan dan
ritmenya serta intonasinya.
Kiranya motto ’Listening before Speaking’ masih tetap
relevan. Sepertinya aksioma mendiang L.G. Alexandar ’nothing should be spoken before it’s been heard’ masih berlaku’.
Paling tidak pada tahap-tahap awal pembelajaran bahasa asing.
Barangkali untuk
alasan seperti itu pula Rasulullah SAW dilarang tergesa-gesa mengucapkan
ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya sebagaimana diabadikan dalam
surat Al-Qiyamah ayat 16 – 17:
“Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk
(melantunkan) Al-Qur’an karena hendak tergesa-gesa (menguasai). Sesungguhnya
atas tanggungan Kamilah pengumpulannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya.”
Langkah-langkah Melatih Keterampilan Menyimak
- Biarkan indra pendengaran terlebih dahulu berkenalan dengan pola umum
bunyi, ritme dan intonasi dari bahasa asing yang ingin dipelajari. Caranya
ialah dengan mendengarkan dialog atau siaran berita dalam bahasa tersebut atau
bisa juga menyaksikan film. Tidak perlu memahami maknanya, yang penting pada
tahap ini indra pendengaran diarahkan untuk ’menangkap’ pola umum bahasa lisan
dari bahasa itu.
- Upayakan memiliki materi listening yang banyak entah berupa kaset
pelajaran, cd audio, film/video, iPod, lagu-lagu dan bahan audio lainnya.
- Sering-seringlah melakukan kegiatan menyimak pasif sambil melakukan
kegiatan lain. Umpamanya mendengarkan sambil memasak, menyetrika, menikmati
hidangan, mengetik, atau sambil rebahan menjelang tidur. Tidak perlu selalu
mencari waktu-waktu yang sunyi untuk mengkonsentrasikan diri pada kegiatan
listening pasif atau berupaya menghalang-halangi suara-suara lain menyela
kegiatan simak tersebut. Selama tidak benar-benar mengganggu atau menutupi
suara yang sedang kita dengarkan, biarkan saja agar telinga terbiasa dan bahkan
lebih tajam. Percayalah indra pendengaran dan otak kita cukup dan bahkan sangat
cerdas untuk memilah dan memilih beragam suara yang didengarnya. Buktinya kita
mampu mengidentifikasi ’itu suara mobil tetangga, itu suara langkah kaki teman
kita, itu suara gelas pecah, itu suara sirine mobil pemadam kebakaran, itu suara
tanda sms masuk, itu suara panggilan masuk ke handphone boss, dll.
- Bila hendak mempelajari model pengucapan, berikan waktu yang cukup kepada
indra pendengaran untuk merekamnya dan kegiatan ini sebaiknya dipadukan dengan
upaya pemahaman.