Prinsip Ketiga:
MANJAKAN OTAK DENGAN CARA BELAJAR YANG DISUKAINYA
Para ahli memberi
kita informasi yang sangat berguna tentang kecenderungan belahan otak kiri dan
otak kanan dalam hal menyerap, memproses, menyimpan dan mengelola informasi.
Otak kiri disebut sisi rasional, analisis serta kritis dan otak kanan dikatakan
sebagai sisi kreatif-intuitif.
Sesuai dengan
kecenderungannya terhadap hal-hal yang rasional, proses menganalisa dan
mengkritisi sesuatu, maka dalam hal pembelajaran bahasa otak kiri menggemari
pembelajaran yang tertata, runtut dan menantang ketajaman berpikir. Ia
menyambut dengan baik pelatihan yang memiliki tujuan dan sasaran yang terarah,
terencana langkah-langkahnya, dipaparkan indikator-indikator keberhasilannya dan
dijelaskan pula bentuk evaluasinya. Sewaktu dalam proses pembelajaran, kegiatan
problem solving, penjelasan gramatikal, perbandingkan struktur kalimat bahasa
ibu dan bahasa asing sangat sesuai bagi otak kiri.
Adapun otak kanan
yang lebih bersifat intuitif dan kreatif dapat dirangsang dengan irama (seperti
alunan tilaawah Al-Qur’an dan jenis-jenis musik tertentu), ritme, gambar dan
warna. Di samping itu akan lebih mudah bagi otak kanan untuk menyerap informasi
jika dipaparkan gambaran umum mengenai pelatihan kepadanya. Ia juga amat
menggemari kegiatan pembelajaran yang menggunakan teknik role-play, simulasi,
project-work dan games. Ilustrasi seperti gambar (termasuk pelukisan ide dengan
kosa-kata yang lebih spesifik), diagaram, tabel dan sejenisnya mendapat tempat
yang istimewa di otak kanan.
Tentu saja secara
fisik kedua belahan otak ini berhubungan satu sama lain dan dapat bekerjasama dengan
harmonis. Semakin sering kedua belahan otak ini secara aktif dilibatkan dalam
kegiatan pembelajaran, semakin kompak keduanya saling menopang dan mendukung
dalam penyerapan, penyimpanan dan pengelolaan informasi.
Contoh-contoh teknik-teknik pembelajaran bahasa
asing yang melibatkan otak kiri dan otak kanan.
Contoh yang
dikemukakan disini hanya pembelajaran bahasa Inggris. Pembaca dapat membuat
kiasan terhadap pembelajaran bahasa asing lain.
- Memadukan gerakan, aktivitas atau tindakan dengan bahasa lisan
Dalam Al-Qur’an
yang Mulia terdapat sebuah ayat yang menerangkan cara berwudlu; “Jika kalian
hendak melaksanakan shalat basuhlah muka (wajah) dan tangan kalian sampai
sikut, usaplah kepala dan juga kaki hingga mata kaki..’. Ketika melaksanakan
shalat seorang muslim mengucapkan do’a yang berbeda-beda. Sewatu hendak
memulai ia membaca ini, sewaktu ruku,
i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tawarruk, dan seterusnya ia
membaca yang lain.
Kita bisa
memanfaatkan teknik seperti di atas dalam mempelajari bahasa lisan agar cepat
dapat menguasai. Umpamanya kita terapkan dalam kegiatan-kegiatan berikut:
Bagun tidur:
The alarm clock rings. Wake up. Open your eyes.
Say “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’damaa amaatana wa ilahihin nusyuur”. Get
out of bed. Go to the bathroom. Brush your teeth. Take an abultion. Wash your
face. Wash your right hand to your elbow. Wash your left hand to your elbow.
Wet your head. Wash both your feet to the ankles. Get out of the bathroom. Put
on your saroong and your shirt. Spread the sajadah. Face qiblat and say the
subuh prayer.
Menjerang air
Pour some water into the kettle. Put the kettle on
the electric stove. Switch on the stove. Adjut the flame. Wait till the water
boils.
Hendak pergi
kerja dengan mobil.
Open the car door. Get into the car. Put the car
key into the key hole. Turn right the key to start the engine and press the
accelerator gently. Warm up the car. etc.
Dalam dunia
pengajaran bahasa asing, penulis menemukan teknik-teknik yang serupa yang
dikenal dengan nama TPR (Total Physical
Response) dan Gouin’s Series
serta Lazy Language Learning. Ketiga
teknik tersebut – terutama TPR – mendapat sambutan yang luar biasa dari
masyarakat TEFL dunia karena terbukti sangat efektif. Murid-murid penulis
sendiri lebih menyukai teknik TPR yang dipadukan dengan Gouin’s Series, karena
dengan teknik tersebut mereka mampu menguasi puluhan kata dan ungkapan hanya
dalam hitungan menit.
- Mempelajari struktur kalimat (termasuk tenses) dari lirik lagu dan memberi tanda dengan warna
Kita ambil contoh
lagu ‘The End of the World’ untuk
mempelajari struktur kalimat dalam Present
Tense. Kalimat-kalimat yang merupakan contoh bentuk tense tersebut diberi
warna sebagai ‘highlight’. Tentu saja
penandaan untuk mempertegas bisa dilakukan bukan hanya dengan warna, tetapi
bisa dengan memberi gari bawah, memberi lingkaran, menandai dengan gambar dan
sebagainya.
Why does the sun go on shining?
Why does the sea rush to shore?
Don’t they know it’s the end of
the world?
Cause
you don’t love me anymore
Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don’t they know it’s the end of
the world?
It
ended when I lost your love
*
I wake up in the morning and I wonder
Why everything’s the same as it
was
I can’t understand, no I can’t understand
How
life goes on the way it does
Why does my heart go on beating?
Why do these eyes of mine cry?
Don’t they know it’s the end of
the world?
It
ended when you said goodbye
Dengan
menyanyikan lagu ‘the End of the World’, kita merasa terhibur dan dengan tanpa
beban kita menghafal contoh pola-pola kalimat ‘Present Tense’.
Berikut ini beberapa
lagu berbahasa Inggris yang dapat dimanfaatkan untuk memberi contoh-contoh
struktur kalimat:
- Will – untuk mengungkapkan kebulatan tekad dalam lagu ‘We will not go down (song for Gaza)’ oleh Michel Hart
- Should/could have done – untuk mengungkapkan rasa sesal karena tidak melakukan hal2 yang sepatutnya dilakukan dalam lagu ‘Always on my mind’ oleh Willie Nelson
- Simple Past Tense – untuk recounting dan narrating dalam lagu ‘Delilah’ oleh Tom Jones.
- Memanfaatkan kamus bergambar untuk memperkaya kosa-kata
Banyak sekali
kamus-kamus bergambar yang menyebar di pasaran, harganya pun rata-rata
terjangkau. Upayakan memiliki kamus semacam ini, khususnya yang dilengkapi
dengan cara membaca dan contoh penggunaan kata dalam kalimat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar