Senin, 26 Desember 2011

KIAT-KIAT MUJARAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING


Seri Sahabat Karib Otak
Memperbaiki Kehidupan Ummat

Bagian ke-1
KIAT-KIAT MUJARAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING
Bimbingan Belajar Mandiri
Kertas Kerja IAS Siregar



Pembelajar bahasa asing di Indonesia umumnya menaruh minat yang sangat besar terhadap penguasaan bahasa lisan dari bahasa asing yang dipelajarinya. ‘Saya kepingin bisa bahasa Inggris,’ begitu sering kita dengar dari mulut mereka. Jika ditanya ’Apa yang kamu maksud dengan bisa?’, jawaban terbanyak menyatakan ’Kepingin bisa ngomong Inggris’. Sayangnya baik di bangku sekolah maupun di bangku kuliah dan juga di tempat-tempat kursus, mereka malah lebih sering berhadapan dengan atau disuguhi bahasa tulis.

Tidak ada yang mengingkari pentingnya dukungan teks tulis dalam pembelajaran bahasa asing mana pun. Namun lambang atau tulisan bahasa asing acapkali amat berlainan cara pegucapannya dengan cara membaca nyaring bahasa Indonesia tulis yang sehari-hari akrab digumuli oleh para pembelajar kita. Tulisan ‘JULIO dan HOLA’ dalam bahasa Spanyol tidak diucapkan Julio dan Hola, tetapi HULIO dan OLA. Dan pembelajar Indonesia yang belum pernah diberitahu cara membacanya tidak pelak lagi akan membaca kedua kata itu sesuai tulisannya yakni JULIO dan HOLA. Sesederhana seperti dalam bahasa Spanyol itu pun menimbulkan masalah bagi warga belajar kita. Apalagi jika mereka berhadapan dengan teks tertulis dalam bahasa Inggris yang kadang dibilang orang sebagai ’bahasa munafik’ – lain di bibir lain di tulisan. Kata ’book’ dan ’food’ dibaca ’buk’ dan ’fud’, tetapi kata ’door’ dan ’floor’ tidak diucapkan ’dur’ dan ’flur’ walaupun keempat kata itu sama-sama mengandung dua buah huruf vokal ’o’ (vokal rangkap ‘o’).

’Ah, itu kan masalah kecil,’ kata orang-orang tertentu yang menganggap remeh masalah.
Maklumi saja, karena mereka tidak tahu lubang kecil bisa menenggelamkan kapal yang besar, karena nila setitik rusak susu sebelanga dan sedikit noda di baju bisa membuat pemakainya kurang percaya diri.

Perlu disadari bahwa salah pengucapan dapat menyebabkan perbedaan maksud. Dalam bahasa Arab satu titik dapat menyatakan arti yang berbeda. Ungkapan ’auudzu billah’ dengan ’auudu billah’ amat jauh berbeda maksudnya. Perbedaan panjang dan pendek dalam pelafalan kata-kata bahasa Arab juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam bahasa Mandarin satu kata kedapatan memiliki empat nada pengucapan yang masing-masing mempengaruhi makna yang dimaksudkannya. Dalam bahasa Inggris terdapat kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama tetapi dapat memberi arti yang berlainan jika pengucapannya berbeda, contohnya kata ’envelop’ dan ’object’. Yang seperti itu tentu bukan termasuk masalah kecil.

Gara-gara keliru mengucapkan kata-kata yang tertulis dalam manuskrip tua, jutaan ummat manusia secara turun-temurun terjerembab dalam kesalahfahaman mengenai manual hidupnya dan semakin menjauh saja dari apa yang dicarinya selama ini. Itu bukan perkara kecil.



MEMPELAJARI BAHASA ASING SEBAGAI TANDA KETAATAN

Allah SWT menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain. Diantara yang perlu dikenali adalah kultur dan budaya, dan bahasa merupakan salah satu bagiannya. Bahasa juga merupakan salah satu tanda kebesaran, keagungan, kekuasaan dan rahmat Allah SWT. Mempelajarinya dengan niat ibadah, pastilah pahalanya pun tidak kecil. Tidak kalah gengsi dengan pengkajian tanda-tanda kekuasaanNYA yang lain.

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat, 49/13)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYA ialah penciptaan langit dan bumi dan beraneka-ragamnya bahasa kalian dan warna kulit kalian, sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui.” (QS. Ar Rum, 30/22)

“Bersungguh-sungguhlah kalian dalam mempelajari bahasa Arab, karena ia merupakan bagian dari agama kalian.” (Umar bin Khattab r.a.)

Dituturkan dalam sejarah Islam bahwa Rasulullah SAW mampu bercakap-cakap dengan beragam dialek. Bila Beliau SAW berbicara kepada suatu kaum, bahasa kaum itulah yang digunakannya. Catatan sejarah ini memberi kepastian bahwa Rasullullah SAW seorang multi-linguist. Bahkan Beliau SAW diceritakan pernah menyuruh salah seorang sahabatnya untuk mempelajari bahasa tulis kaum Yahudi (bahasa Ibrani tulis).


PRINSIP-PRINSIP MENGUASAI BAHASA LISAN

Prinsip Kesatu:
DILARANG KERAS TERGESA-GESA MENIRUKAN DAN MENGUCAPKAN BAHASA ASING

Seorang seniman besar pernah diminta berbicara di depan masyarakat berkebangsaan Rusia. Pidato tersebut memang diharapkan disampaikan dalam bahasa Inggris, namun demi membangun keakraban, seniman ini ingin menyelipkan beberapa paragraf berbahasa Rusia dalam pidatonya. Ia pun mengambil kursus privat kilat selama tiga hari. Dimintanya guru untuk menterjemahkan paragraf yang telah ditulis dan merekamkan cara membacanya. Pada waktu yang telah ditentukan sang seniman menyampaikan pidato dwi-bahasa tersebut dengan cukup lancar dan bahkan mendapat tepuk tangan yang meriah dari audiens. Seusai pidato atase kebudayaan Rusia menyalami sang seniman dan kesempatan itu tentu saja tidak disia-siakan oleh seniman itu untuk meminta tanggapan mengenai pidato yang disampaikannya dalam bahasa nasional sang atase. Yang mengejutkan, atase itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak memahami isi pidato tersebut, yang dimengertinya hanya bagian pidato yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan dia bilang sangat mengagumkan.

Kali lain seorang calon asisten manajer diberi peluang naik jabatan. Jika lolos seleksi ia akan dipindahkan ke toko yang lebih besar dan mewah. Di toko yang baru itu rata-rata pelanggannya berasal dari luar negeri. Oleh karena itu, salah satu syarat kenaikan jabatan adalah penguasaan bahasa Inggris. Calon manajer ini langsung membeli buku-buku pelajaran bahasa Inggris, membawanya kemana pun ia pergi dan bila ada kesempatan, isi buku-buku tersebut dibacanya dengan nyaring. Namun bunyi-bunyian yang keluar dari mulutnya seringkali membuat orang-orang di sekitar tersenyum simpul dan ada juga yang sampai tertawa terpingkal-pingkal.

Sewaktu masih berumur lima sampai sembilan tahun – kata ibu – penulis begitu tertarik dengan film-film kartun dan jenis-jenis film lain dari barat yang ditayangkang di TVRI. Tiap kali usai menyaksikan film, penulis sering membalelo sambil memerankan tokoh-tokoh tertentu dalam film itu. Bahasa yang diucapkan begitu asing – menurut keterangan ibu lagi – sehingga tidak ada satu orang pun yang mengerti maksudnya. Bahkan almarhum ayah yang menguasai lima bahasa asing dibuat KO, menyerah kalah karena tidak sanggup memahami ucapan-ucapan penulis.

Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama itulah penulis baru mengetahui bahwa bahasa yang ingin penulis tiru adalah bahasa Inggris. Mendapati pelajaran bahasa Inggris di sekolah, penulis sangat bersemangat ingin cepat-cepat mempraktekkan. Suatu ketika guru bahasa Inggris lewat. Segera penulis hampiri dan mengajaknya bercakap-cakap. Hasilnya Pak guru tertenyum simpul dan kejadian memalukan itu sering menjadi cerita lelucon untuk membuka pelajaran di kelas-kelas lain. Berbulan-bulan penulis menjadi obyek ledekan teman-teman satu sekolah.

Di Jakarta terdapat kursus bahasa Inggris besar yang telah memiliki cabang-cabang di berbagai tempat di JABODETABEK serta di kota-kota besar lain di wilayah Republik Indonesia. Salah satu kelebihan kursus ini adalah keberhasilannya dalam menanamkan mindset ’tidak takut salah’ di benak peserta kursus. Otoritas juga berhasil ’memaksa’ warga belajar untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, terutama selama berada di lembaga itu. Karena tertarik mencari tahu kiat-kiatnya, maka penulis mendaftar sebagai peserta. Di lingkungan itu memang para siswa benar-benar berkomunikasi dalam bahasa asing. Bahkan saking asingnya, seorang tamu native dari Autralia yang suatu hari bertandang ke tempat itu sampai-sampai mengernyitkan dahi, mencoba keras memahami apa yang dipercakapkan oleh para siswa namun akhirnya duduk lemas di kursi tamu dan berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. ”Which English are they speaking? (Bahasa Inggris mana yang mereka gunakan itu?)’ begitu tanggapannya.

Masih banyak cerita yang menuturkan tentang keberhasilan menguasai bahasa ’yang benar-benar asing’ (Awas! bukan bahasa asing yang penulis maksudkan) yang dapat dipaparkan di sini. Tetapi cerita-cerita di atas cukuplah kiranya mewakili, dan semuanya berujung pada kesimpulan yang sama, yaitu ketergesa-gesaan menirukan dan mengucapkan bahasa asing yang baru kita kenali malah berakibat kontra-produktif”.

Apa yang salah dari metode dan teknik belajar berbicara seperti ini? Bukankah lebih cepat, lebih baik? Bukankah ’practice makes perfect’?

Tidak ada yang salah dengan metode dan teknik tersebut di atas. Penyebab kegagalannya justru berada pada tahap sebelum ’practice’ atau tahap menjelang pelatihan.

Pembelajaran bahasa lisan berkaitan sangat erat dengan keterampilan menyimak (listening skills) dan penggunaan alat ucap. Di kelas-kelas bahasa asing, guru sering menggunakan teknik ’Listen dan Repeat’ (Dengarkan dan Tirukan). Dalam teknik ini siswa dituntut menirukan ucapan yang dicontohkan baik oleh guru ataupun oleh suara rekaman dari kaset/CD audio. Kata, frase, kalimat, bagian dialog atau wacana terlebih dahulu diucapkan satu kali, lalu semua warga belajar secara serentak menirukan.

Pada tahap ’oral practice’ (pelatihan lisan) dan ’oral production’ (penerapan bahasa yang baru dipelajari secara lisan), guru-guru kita – terutama guru-guru di tempat kursus – kadang-kadang menggunakan teknik drill, acting out dialogues, guided conversations (percakapan terbimbing), role-plays (main peran), games, simulations, dan lain-lain. Melalui teknik-teknik seperti ini warga belajar diminta berinteraksi satu sama lain untuk memperlancar bahasa yang dipelajarinya. Kalau di sekolah formal, para siswa biasanya disuruh membaca dialog atau kalimat-kalimat secara nyaring tanpa terlebih dahulu diberi contoh yang memadai dari model pengucapannya. Adakalanya mereka diberi tugas untuk menyajikan dialog atau monolog ciptaannya di depan kelas (lebih sering karya orang lain yang diaku-aku sebagai karangan sendiri).

Teknik-teknik pembelajaran seperti ini kentara benar kelemahannya, bahkan seringkali berakibat fatal bagi perkembangan belajar para siswa di kemudian hari. Demikian fakta yang ditemukan di lapangan. Sebabnya antara lain, dalam teknik ’listen and repeat’ sekali jalan semacam itu indra pendengaran siswa belum cukup dapat merekam model pengucapan secara utuh dan otaknya tidak diberi waktu yang mamadai untuk mengendapkan materi tersebut dalam ingatan jangka panjang (long term memory). Belum lagi materi pelajaran baru itu sempat tersimpan dalam pikiran bawah sadar, kegiatan interaksi sudah harus segera dilakukan oleh warga belajar. Di dalam kegiatan interaksi tersebut yang dominan terdengar adalah suara-suara dan pelafalan (pronunciation) kawan-kawan sekelas yang tentu saja belum dapat dipertanggunjawabkan kebenarannya: stress, rythm dan intonation-nya masih tidak karu-karuan. Walhasil, bisa ditebak, karena yang tersimpan dalam memorinya lebih banyak suara-suara dari kawan-kawan sekelasnya itu, maka sekalipun sudah bertahun-tahun belajar dan berlatih, pembelajar masih kesulitan menangkap dan memahami ucapan native speaker, masih tersendat-sendat ketika membaca nyaring dan masih setia dengan pelafalan yang belum acceptable sewaktu berbicara.

Oleh karena itu, jika ingin cepat bisa berbicara dalam bahasa asing serta memiliki fondasi yang kokoh dalam pengucapannya, teknik ’Listen and Repeat’ sebaiknya difahami sebagai ’Listen, listen, and listen, then repeat’ dalam penerapannya pada pembelajaran.

Sampai berapa kalikah ’listen’-nya?
Sampai ingatan dan pendengaran kita berhasil merekam dan kita mampu mengucapkan di dalam hati, persis seperti dalam materi listening itu – paling tidak mendekati modelnya. Ambil saja sebagai contoh menghafalkan sebuah lagu, mula-mula yang ditangkap adalah nada-nadanya (lagunya). Dengan itu saja orang sudah bisa bersenandung walau pun belum mengingat liriknya. Setelah pasti sampai ke tahap itu, barulah kita boleh berlatih sendiri membunyikan kata, frase, contoh kalimat atau model dialog. Hasilnya dijamin lebih mendekati kefasihan dan kebenaran alias bisa difahami dan diterima (acceptable) oleh penutur asli. Sebuah lirik lagu berirama dangdut yang dipopulerkan oleh Ike Nurjannah menyatakan ’Masih terngiang di telingaku bisik cintamu’. Ya, tepat sekali, sampai terngiang-ngiang di telinga; bagaimana bunyinya, tekanan dan ritmenya serta intonasinya.

Kiranya motto ’Listening before Speaking’ masih tetap relevan. Sepertinya aksioma mendiang L.G. Alexandar ’nothing should be spoken before it’s been heard’ masih berlaku’. Paling tidak pada tahap-tahap awal pembelajaran bahasa asing.

Barangkali untuk alasan seperti itu pula Rasulullah SAW dilarang tergesa-gesa mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya sebagaimana diabadikan dalam surat Al-Qiyamah ayat 16 – 17:

“Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (melantunkan) Al-Qur’an karena hendak tergesa-gesa (menguasai). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pengumpulannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”


Langkah-langkah Melatih Keterampilan Menyimak
  • Biarkan indra pendengaran terlebih dahulu berkenalan dengan pola umum bunyi, ritme dan intonasi dari bahasa asing yang ingin dipelajari. Caranya ialah dengan mendengarkan dialog atau siaran berita dalam bahasa tersebut atau bisa juga menyaksikan film. Tidak perlu memahami maknanya, yang penting pada tahap ini indra pendengaran diarahkan untuk ’menangkap’ pola umum bahasa lisan dari bahasa itu.
  • Upayakan memiliki materi listening yang banyak entah berupa kaset pelajaran, cd audio, film/video, iPod, lagu-lagu dan bahan audio lainnya.
  • Sering-seringlah melakukan kegiatan menyimak pasif sambil melakukan kegiatan lain. Umpamanya mendengarkan sambil memasak, menyetrika, menikmati hidangan, mengetik, atau sambil rebahan menjelang tidur. Tidak perlu selalu mencari waktu-waktu yang sunyi untuk mengkonsentrasikan diri pada kegiatan listening pasif atau berupaya menghalang-halangi suara-suara lain menyela kegiatan simak tersebut. Selama tidak benar-benar mengganggu atau menutupi suara yang sedang kita dengarkan, biarkan saja agar telinga terbiasa dan bahkan lebih tajam. Percayalah indra pendengaran dan otak kita cukup dan bahkan sangat cerdas untuk memilah dan memilih beragam suara yang didengarnya. Buktinya kita mampu mengidentifikasi ’itu suara mobil tetangga, itu suara langkah kaki teman kita, itu suara gelas pecah, itu suara sirine mobil pemadam kebakaran, itu suara tanda sms masuk, itu suara panggilan masuk ke handphone boss, dll.
  • Bila hendak mempelajari model pengucapan, berikan waktu yang cukup kepada indra pendengaran untuk merekamnya dan kegiatan ini sebaiknya dipadukan dengan upaya pemahaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar