Senin, 19 Desember 2011

Kesan Diskriminasi dari ESOL

Telinga kita sudah akrab dengan istilah bahasa Inggris bagi penutur asing (English for speaker of other language. ESOL).. Ada kesan diskriminatif yang mau tidak mau muncul dari istilah ESOL ini. Seolah-olah bahasa Inggris dijadikan berkasta-kasta, yang satu exclusive bagi penutur asli (native speaker), yang satu lagi buat bangsa lain. ESOL selalu disajikan lebih dipermudah dibandingkan dengan pelajaran bagi native, terutama dari sisi pemilihan kosa-kata dan ungkapan. Sebahagian pakar berpendapat bahwa kesengajaan ini bertolak dari anggapan bahwa non-native tidak akan mampu memahami “kosa kata kelas atas itu”. Merendahkan bangsa lain rupanya.

Tujuan awalnya boleh jadi sangat baik yaitu, agar pembelajar non-native tidak menemui kesulitan berarti dalam ‘penguasaan’ bahasa itu. Sayangnya praktisi ESOL malah terus-menerus terjebak dalam mindset seperti itu dan tidak mampu keluar untuk menghantarkan pembelajar ke penguasaan bahasa seperti penutur aslinya sebagaimna dicantukan dalam tujuan pembelajaran. Dengan istilah lain mereka gatot, baik guru native terlatih, guru native karbitan dan gadungan maupun guru-guru non-native. Untuk menutupi rasa malu atas ketidakmampuan ini, digunakanlah istilah bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Entah apa maksudnya, padahal penutur bahasa Cina dan Spanyol jumlahnya melebihi penutur bahasa Inggris. Barangkali faktor tidak mau kalah, keserakahan dan haus kekuasaan yang menjadi pendorongnya.

Kalau mau jujur, penyebab kegagalan adalah mindset yang diskriminatif dan dikotomi itu. Kenapa tidak memperlakukan manusia sebagai manusia yang sama. Otak bangsa lain belum tentu kalah cerdas dibanding dengan otak native. Otak orang Asia jauh lebih cerdas tinimbang otak orang Eropa dan Amerika. Begitu penelitian menjelaskan. Toh faktanya banyak sekali bangsa lain yang mampu mengungguli atau paling tidak sejajar dalam hal kompetensi berbahasa dengan para native itu. Apalagi di era informasi sekarang ini.

Bangsa Indonesia juga tidak kalah pilon alias dungu. Sebahagian besar masyarakat hingga kini menganggap manusia berkulit bule sebagai native. Tidak jadi soal apakah mereka berasal dari Prancis, Jerman atau negara lain. Asalakan bule, pastilah memiliki kemampuan seperti native, dalam benak bangsa ini. Masa bodoh juga jika keterampilan berbahasa Inggris mereka jauh di bawah keterampilan berbahasa Inggris bangsa sendiri. Bahkan ada yang jauh lebih parah, orang Pilipina dan Thailand pun dianggap sebagai native. Sementara Desi Anwar yang berkulit langsat dan jelas-jelas memilki kompetensi berbahasa seperti native tidak pernah dinobatkan sebagai native speaker.

Adalah mendiang A.S. Hornby, pengarang kamus-kamus OXFORD yang terkenal itu, yang berani menentang arus. Ia menganggap orang yang memiliki kompetensi berbahasa seperti native adalah native speaker. Tidak perduli dia berasal dari negara mana dan kulitnya berwarna apa.

Jika ingin sukses mengajarkan bahasa, sajikanlah fakta bahasa seperti apa adanya. Bahasa native speaker tentu bersifat idiomatis. ESOL baik saja diajarkan demi keperluan pembelajaran dan kemudahan. Namun cepat-cepat keluar dari sana dan bawa para siswa kita ke bahasa seperti digunakan oleh penuturnya. Tidak perlu mengajarkan ‘I am touching my nose’ yang tidak akan pernah digunakan pembelajar seumur hidupnya, sekalipun itu penutur asli – demikian kata mendiang L.G. Alexander dalam ceramahnya.

Bahasa Inggris saya dan Anda memang belum sebagus bahasa guru-guru native. Tetapi kita tidak boleh kalah dalam hal metodologi dan teknik pengajaran dan pembelajaran. Kita sudah menjadi bukti kesuksesan pembelajaran. Buktinya kita mampu berbahasa asing dan akan terus meningkatkan kemampuan itu sampai mengalahakan native kalau mungkin.

Ciri khas siswa-siswa yang diajar oleh guru native terlatih atau oleh guru yang memiliki kompetensi seperti native adalah kemahiran mereka menggunakan ungkapan idiomatic seperti I’m all ears; take it easy, serve him right, never mind, shake you leg, dsb. Begitu kata A.S. Hornby.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar