Telinga kita sudah akrab dengan istilah
bahasa Inggris bagi penutur asing (English for speaker of other language.
ESOL).. Ada kesan diskriminatif yang mau tidak mau muncul dari istilah ESOL
ini. Seolah-olah bahasa Inggris dijadikan berkasta-kasta, yang satu exclusive
bagi penutur asli (native speaker), yang satu lagi buat bangsa lain. ESOL
selalu disajikan lebih dipermudah dibandingkan dengan pelajaran bagi native,
terutama dari sisi pemilihan kosa-kata dan ungkapan. Sebahagian pakar
berpendapat bahwa kesengajaan ini bertolak dari anggapan bahwa non-native tidak
akan mampu memahami “kosa kata kelas atas itu”. Merendahkan bangsa lain
rupanya.
Tujuan awalnya boleh jadi sangat baik
yaitu, agar pembelajar non-native tidak menemui kesulitan berarti dalam
‘penguasaan’ bahasa itu. Sayangnya praktisi ESOL malah terus-menerus terjebak
dalam mindset seperti itu dan tidak mampu keluar untuk menghantarkan pembelajar
ke penguasaan bahasa seperti penutur aslinya sebagaimna dicantukan dalam tujuan
pembelajaran. Dengan istilah lain mereka gatot, baik guru native terlatih, guru
native karbitan dan gadungan maupun guru-guru non-native. Untuk menutupi rasa
malu atas ketidakmampuan ini, digunakanlah istilah bahasa Inggris sebagai
bahasa Internasional. Entah apa maksudnya, padahal penutur bahasa Cina dan
Spanyol jumlahnya melebihi penutur bahasa Inggris. Barangkali faktor tidak mau
kalah, keserakahan dan haus kekuasaan yang menjadi pendorongnya.
Kalau mau jujur, penyebab kegagalan adalah
mindset yang diskriminatif dan dikotomi itu. Kenapa tidak memperlakukan manusia
sebagai manusia yang sama. Otak bangsa lain belum tentu kalah cerdas dibanding
dengan otak native. Otak orang Asia jauh lebih cerdas tinimbang otak orang Eropa dan Amerika. Begitu
penelitian menjelaskan. Toh faktanya banyak sekali bangsa lain yang mampu
mengungguli atau paling tidak sejajar dalam hal kompetensi berbahasa dengan
para native itu. Apalagi di era informasi sekarang ini.
Bangsa Indonesia
juga tidak kalah pilon alias dungu. Sebahagian besar masyarakat hingga kini
menganggap manusia berkulit bule sebagai native. Tidak jadi soal apakah mereka
berasal dari Prancis, Jerman atau negara lain. Asalakan bule, pastilah memiliki
kemampuan seperti native, dalam benak bangsa ini. Masa bodoh juga jika
keterampilan berbahasa Inggris mereka jauh di bawah keterampilan berbahasa
Inggris bangsa sendiri. Bahkan ada yang jauh lebih parah, orang Pilipina dan Thailand
pun dianggap sebagai native. Sementara Desi Anwar yang berkulit langsat dan
jelas-jelas memilki kompetensi berbahasa seperti native tidak pernah dinobatkan
sebagai native speaker.
Adalah mendiang A.S. Hornby, pengarang
kamus-kamus OXFORD yang terkenal itu, yang berani menentang arus. Ia menganggap orang
yang memiliki kompetensi berbahasa seperti native adalah native speaker. Tidak
perduli dia berasal dari negara mana dan kulitnya berwarna apa.
Jika ingin sukses mengajarkan bahasa,
sajikanlah fakta bahasa seperti apa adanya. Bahasa native speaker tentu
bersifat idiomatis. ESOL baik saja diajarkan demi keperluan pembelajaran dan
kemudahan. Namun cepat-cepat keluar dari sana dan bawa para
siswa kita ke bahasa seperti digunakan oleh penuturnya. Tidak perlu mengajarkan
‘I am touching my nose’ yang tidak akan pernah digunakan pembelajar seumur hidupnya,
sekalipun itu penutur asli – demikian kata mendiang L.G. Alexander dalam
ceramahnya.
Bahasa Inggris saya dan Anda memang belum
sebagus bahasa guru-guru native. Tetapi kita tidak boleh kalah dalam hal metodologi
dan teknik pengajaran dan pembelajaran. Kita sudah menjadi bukti kesuksesan
pembelajaran. Buktinya kita mampu berbahasa asing dan akan terus meningkatkan
kemampuan itu sampai mengalahakan native kalau mungkin.
Ciri khas siswa-siswa yang diajar oleh guru
native terlatih atau oleh guru yang memiliki kompetensi seperti native adalah
kemahiran mereka menggunakan ungkapan idiomatic seperti I’m all ears; take it
easy, serve him right, never mind, shake you leg, dsb. Begitu kata A.S. Hornby.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar