Kemarin sudah kita diskusikan kelemahan
teknik ‘Listen and Repeat’. Sekarang mari sedikit kita bahas mengenai teknik
mengajar listening yang terbukti efektif serta dapat menjadi penopang kemampuan
speaking yang mantap.
Anda mungkin pernah mendengar Ike Nurjannah
menyanyikan lagu terlena. Ada baiknya saya tulis lirik bait pertama dari lagi itu:
Masih terngiang di telingaku bisik cintamu.
Betapa lembut dan mesranya aku terlena..
Lagu ini mengingatkan kita bahwa listening
yang akan menghantarkan siswa ke speaking harus seperti lagu itu, yakni hingga
materi listening terngiang-ngiang di teling:a: suaranya, tekanannya,
ritmenya dan lagu kalimat atau intonasinya. Dengan kata lain indra pendengaran
harus diberi waktu untuk merekam bunyi-bunyian tersebut dan tidak memaksa para
siswa untuk tergesa-gesa menirikan pengucapannya.
Barangkali untuk alasa itu pulalah
Rasulullah SAW dilarang keras tergesa-gesa menirukan wahyu yang disampaikan
kepadanya secara lisan. Beliau haru melewati ‘silent period’ untuk menyimak
secara keseluruhan dan hanya boleh mengikuti dalam hati. Setelah mantap terekam
barulah diperkenankan melafalkannya. (Lihat surat Al-Qiyamah).
Jadi kelemahan teknik Listen and Repeat
bisa diatasi dengan cara memahami ungkapan ini sebagai ‘listen, listen,
listen…. then repeat. Sampai berapa kali listennya? Sampai indra pendengaran
mampu merekamnya dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar