Jumat, 30 Desember 2011

Bag. 2 BIMBINGAN MENGAJAR BAHASA INGGRIS

Bahasa Inggris
Menilik bahasa Inggris lebih mendalam, kita akan menemukan unsur-unsur seperti berikut;

  1. Bunyi ujaran yang digunakan dalam speaking termasuk di dalamnya stress, rhythm dan intonation (phonology)
  2. Kosa-kata (lexis)
  3. Kata dasar dan kata bentukan (morphology)
  4. Kombinasi kata yang membentuk significant patterns (syntax)
  5. Kombinasi patterns seperti kalimat yang membentuk ujaran yang panjang (cohesion)
  6. Asosiasi kata dan ungkapan dengan makna atau maksud (semantics)

Di samping itu terdapat pula variasi penggunaan bahasa seperti;

  1. Dialect yang merupakan ciri kelompok sosial atau geografis tertentu
  2. Register yang umum diasosiasikan dengan fungsi atau ranah suatu profesi
  3. Collocation yang mencerminkan kecenderungan penggunaan kata atau ungkapan dengan asosiasinya. Biasanya asosiasi ini konsisten dan cukup umum sifatnya
  4. Style seperti pemanfaatan bahasa untuk memberi tekanan atau efek khusus. Adakalanya style keluar dari kaidah atau bentuk penggunaan normal


Tampak rumit dan berbau akademis ya? Tapi tidak perlu membuat kecil hati dan ciut nyali serta surut langkah. Prakteknya jauh lebih mudah tinimbang teorinya. Saya yakin teman-teman baik secara sadar atau tidak sudah mempraktekkannya.


Siswa atau pembelajar Indonesia perlu diajari dan dilatih dalam hal:

  • Pronunciation (the English sounds, stress, rhythm and intonation)
Pelafalan (pronunciation) merupakan salah satu soko guru (pokok) dalam bahasa mana pun, tentunya termasuk bahasa Inggris. Oleh karena itu, mempelajarinya merupakan suatu keharusan jika ingin memahami bahasa lisan serta memupuk keterampilan berbicara.

Mari kita perhatikan contoh-contoh berikut.

BUNYI

Kata-kata berikut semuanya mengandung huruf ‘a’, tetapi mengucapkannya amat berlain-lainan.
cat, car, talk, said, pale

d / ed dalam regular verbs ada yang diucapkan dengan bunyi ‘t’, ‘d’, dan ‘id’, contoh: liked, loved, ended

s / es dalam regular plural dan simple present orang ketiga ada yang diucapkan dengan bunyi ‘s’, ‘z’, dan ‘iz’, contoh: books, beds, houses, works, lives, brushes

‘th’ dalam kata this, that, tooth juga bebeda pengucapannya

‘s’ dalam kata sea, sugar, pleasure diucapkan belainan

‘c’ dalam kata cat, comic, cell, certainly juga tidak sama

‘oo’ dalam kata foot, soon, door, blood berlainan pula pengucapannya

dan banyak lagi contoh yang bisa dihadirkan, bahkan ada huruf yang ditulis tetapi tidak pernah diucapkan, seperti doubt, debt, hour, dst.

Jika tidak diajari atau mempelajari dengan sungguh-sungguh, pembelajar tidak akan pernah mampu mengucapkan dengan benar. Pengajarannya tidak bisa tidak hanya dengan melalui listening, kecuali jika sudah mahir membaca lambang phonetic. Maka mulai dari saat ini teman-teman guru sepatutnya berlatih pelafalan ini dengan benar sebelum mengajarkannya kepada murid-murid.

STRESS

Bagaimana dengan stress?

Ada kata-kata yang beralih ‘stress’nya dalam kata turunan, contohnya;
eCOnomy – ecoNOmics, eCOnomize boleh juga ditulis ‘economise’
PHOtograph, phoTOgraphy
MUsic, muSIcian

Terdapat pula kata-kata tertentu yang sama bentuknya tetapi maknanya berubah jika stress-nya dialihkan, contoh;
OBject dan obJECT, EXport dan exPORT

Kita mengenal juga ‘significant stress’ dalam kalimat yang sama namun menyatakan maksud yang sama sekali berlain-lainan lantaran tekanannya dipindahkan, contoh;

I don’t teach Spanish.
I DON’T teach Spanish.
I don’t TEACH Spanish.
I don’t teach SPANISH.

A:         Hullo, mate. How ARE you?
B:         Hi, I’m good. How are YOU?

RHYTHM

Bahasa Inggris terkenal dengan aneka rhythm-nya, karenanya kata yang dianggap ‘tidak penting’ sering terdengan seperti ditelan mentah-mentah oleh native speaker!

Umpamanya pola rhythm ‘di DA di di di’

A long time ago
I’ve written to them.
I gave it to her.
We had to do it.
A beautiful one


Pola rhythm ‘DA di di di di DA’

Show him up to his room.
Throw it into the fire.
That’s to be left alone.
Why did you run away.


INTONATION

Lagu kalimat ini bermacam-macam. Nadanya atau pitch-nya bisa naik, turun dan makna yang dibawanya bisa beraneka ragam.

Do you like apples? (umumnya diucapkan dengan pitch naik)
Where do you come from? (umumnya diucapkan dengan pitch menurun)

‘Sorry’ jika diucapkan menurun menjadi permohonan maaf, tetapi jika diucapkan naik jadi meminta pengulangan.

‘excuse me’ bisa berarti permisi, bisa berarti marah, bisa meminta pengulangan, malah bisa juga menantang dan menyatakan ketersinggungan. Tergantung cara mengucapkannya.

‘Peter’ mengucapkan nama bisa bernada memanggil biasa, bertanya-tanya atau keheranana, mengancam, juga putus asa.

Intonasi naik dan turun dalam question tag bisa berarti meminta konfirmasi dan bisa juga sekedar bumbu agar percakapan berlanjut terus.

Demikian bahasan singkat mengenai pronunciation. Mudah-mudahan menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri khususnya dan bagi rekan-rekan guru dan calon guru bahasa Inggris.

Penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di negara kita adalah hampanya pembelajaran dan pengajaran mengenai pronunciation ini. Kita tentunya tidak ingin mengulang kegagalan yang sama. Maka ajarkanlah pronunciation.

Kamis, 29 Desember 2011

BIMBINGAN MENGAJAR BAHASA INGGRIS UNTUK GURU PEMULA

Kertas kerja IAS Siregar


Banyak orang yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris berminat terjun ke dunia pengajaran. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan karena dengan demikian tenaga kependidikan menjadi semakin banyak dan kekurangan akan tenaga guru serta dosen sedikit demi sedikit dapat tertutupi. Namun terdapat hal-hal gompal yang menyesakkan dada, di antaranya adalah kenyataan bahwa mereka kurang terlatih sebagai pengajar. Yang berbakat mengajar memang terlihat cukup mampu menjalankan fungsinya. Tetapi sisanya yang lebih banyak sering kedapatan tertatih-tatih dan terseok-seok dalam menangani kelas.

Untuk mengajar bahasa Inggris dengan baik tidaklah cukup hanya bermodalkan keterampilan berbahasa itu saja. Ada keterampilan lain yang menuntut, yaitu ilmu mengajarkannya yang biasa dikenal dengan applied linguistics. Ini berlaku pula untuk native speaker. Tanpa mengenal disiplin ini, teaching English yang biasa dimaknai sebagai ‘enabling learners to use the language’ bisa menjelma menjadi ‘telling about English’ yang tidak akan pernah melahirkan pengguna-pengguna bahasa yang kompeten.

Mengharapkan institusi tempat kita bekerja untuk memberi pelatihan mengajar lebih sering seperti burung punguk merindukan bulan. Sedikit sekali lembaga yang benar-benar perduli dengan pre-service dan in-service training bagi pegawainya. Dalam kegiatan perekrutan, umpamanya, calon guru hanya cukup diwawancarai, menjalani TOEFL yang materinya banyak menyebar di pasaran lalu diminta teaching demo. Bagi yang beruntung pernah mempelajari buku yang sama, tentu nilai TOEFL-nya bisa tinggi. Sekiranya secara subyektif sang calon dianggap oke, ia langsung diterjunbebaskan menangani kelas. Maka tidaklah mengherankan jika cara mengajarnya begitu-begitu saja dari tahun ke tahun, alias mengulang pengalaman yang sama dari waktu ke waktu. Mandeg, seperti robot yang diprogram.

Lucunya dalam keadaan seperti itu pun, banyak lembaga kursus yang berani menggembar-gemborkan guru-gurunya berpengalaman. Jika pengalaman yang dimaksudkannya seperti di atas, sebaiknya dipaparkan dengan jujur, tidak usah membohongi masyarakat pengguna jasa dengan jargon murahan.

Di lapangan banyak sekali ditemukan, guru bahasa Inggris yang nilai TOEFL-nya masih di bawah 500, mengajar kelas intermediate, upper-intermediate dan bahkan advanced. Ironi sekali, masakan warga belajar yang tingkat kompetensinya lebih tinggi diajar oleh guru yang berkemampuan di bawahnya?

Guru bahasa Inggris yang benar-benar sadar akan pengembangan diri dan karirnya jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Umumnya mereka mencari-cari bahan dan menempa diri sendiri sekuat tenaga, memungut teknik dan metode mengajar secara acak dari sana-sini tanpa mengetahui latar belakang filosofisnya. Kadang mereka berhasil, ada kalanya gagal juga. Teman sejawatnya tak kurang yang makin linglung, tidak tahu harus mencari kemana dan berbuat apa (menjadi pengikut setia Ayu Tingting).

Berangkat dari keprihatinan ini, penulis sajikan seri bimbingan mengajar bahasa Inggris bagi guru pemula. Mudah-mudahan dapat mencerahkan dan mempermudah tugas-tugas mengajar. Tulisan ini dapat juga dimanfaatkan oleh orang tua yang ingin mengajar anak-anak mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah. Dan tentu saja guru-guru berpengalaman boleh juga mengkajinya untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

Sebelumnya penulis memohon maaf karena seri ini menggunakan bahasa yang campur aduk antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Ilmu Mengajar Bahasa Inggris
Berbicara mengenai program pembelajaran bahasa Inggris, ada tiga hal pokok yang sama sekali tidak boleh dilewatkan, yaitu:

  1. bahasa Inggris itu sendiri, sedikitnya mengenai sounds, forms dan structure; mahir dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris tidaklah selalu menyiratkan cakap pula dalam hal menganalisa dan menyajikannya bagi warga belajar. Kita membutuhkan pencerahan dan bimbingan dari ahlinya.
  2. tantangan andragogis (mengajar orang dewasa) dan pedagogis agar pembelajar bisa mempelajari bahasa ini dengan efektif dan efisien;
  3. tujuan pembelajaran; apa yang pembelajar inginkan dengan mempelajari bahasa Inggris ini, terutama mengenai skill yang mesti mendapat tekanan atau prioritas serta ranah bahasa yang dibutuhkannya.


Refleksi Sebagai Native Speaker
Sebagai penutur asli bahasa Indonesia (bagi mayoritas bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua, second language) kita;

  1. bisa dengan tepat mengucapakan perbedaan ‘e’ dalam kata-kata ember dan pekerjaan (e ‘pepet dan taling);
  2. tidak akan pernah mengucapakan pesandang cacat, tetapi penyandang cacat yang tentu tidak sama dengan sandang pangan;
  3. bisa dengan mahir mengucapkan kata ‘apa’ dalam intonasi marah, bertanya, kaget, meremehkan, menantang, dst.;
  4. memilih kata sebutir untuk telur atau kelereng, seekor untuk hewan dan tidak akan pernah menggunakan seorang untuk surat, tetapi sepucuk surat;
  5. membedakan maksud ungkapan idiomatic ‘rendah hati dan rendah diri’;
  6. sekalipun kalimat ‘mari kita bekerja sekeras-kerasnya’ benar secara bahasa, cukup mengatakan ‘mari kita bekerja keras’;
  7. mampu menggunakan kata-kata turunan dalam contoh berikut: “Telah (jadi) (bakar) di pasar Tanah Abang yang (hangus) (ratus) rumah (duduk)”.

Pengetahuan dan kecakapan serupa tentu saja dimiliki oleh native speaker bahasa Inggris.

Bagian ke-5 KIAT-KIAT MUJARRAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING

Prinsip Kelima:
DAPATKAN BIMBINGAN ATAU IKUTI LANGUAGE GYM/CLUB

Riset mutakhir menyatakan bahwa orang yang hanya menyerap bahasa lisan tanpa dukungan pembelajaran yang memadai akan lebih cepat dan lebih mudah menderita fosilisasi. Kegiatan pembelajaran tidak mesti di ruang kelas atau hanya dengan mengikuti kursus/les saja. Bimbingan dapat diperoleh dari buku-buku self-study, online learning di internet atau langsung dari seseorang yang lebih mengerti mengenai bahasa yang sedang kita pelajari.

Mengenai buku-buku self-study dan online learning di internet dapat pembaca cari sendiri. Yang ingin penulis jelaskan dalam bagian ini adalah cara-cara menilik dan menilai kemudian memilih orang yang layak menjadi pembimbing dalam mempelajari bahasa, terutama yang mengelola klub atau forum kebahasaan, semacam conversational leader atau captain dalam forum debat dan diskusi.

Kriteria paling minimal yang bisa ditunjukkan oleh conversational leader (termasuk guru atau trainer, baik pada pendidikan formal maupun informal dan non-formal) adalah sebagai berikut:

  • Menunjukkan pemahaman yang utuh saat mendengarkan penutur asli (native speaker) berbicara mengenai tema yang sifatnya umum (tema keseharian) dengan menggunakan ragam bahasa yang baku atau standar (seperti yang digunakan kaum terpelajar). Percakapannya bisa didengar secara langsung atau melalui rekaman kaset, cd, video dan perangkat audio-visual lainnya.
  • Mampu secara spontan mengungkapkan buah pikiran dan perasaannya dalam bahasa asing bersangkutan dengan pengucapan dan pelafalan yang dapat difahami oleh penutur asli serta tidak akan menimbulkan kesalahfahaman. Ungkapan dan kosakata yang dipergunakannya bersifat idiomatis (bukan terjemahan kata per kata dari bahasa ibu ke bahasa asing: seperti ‘it’s already night’ (ini sudah larut malam) atau ‘My body is not delicious’ (saya tidak enak badan). Lebih baik lagi jika pengucapannya (intonasi, ritme, penekanan, dan pelafalah) mendekati penutur asli. Ia mampu melakukan monolog secara berkesinambungan selama paling tidak 2 menit (seperti menuturkan cerita atau menjelaskan sesuatu umpamanya)
  • Mampu secara langsung dan utuh memahami bahasa tulis non-teknis tanpa menterjemahkan terlebih dahulu, kecuali hanya beberapa kata saja yang tidak umum digunakan.
  • Mampu menulis kalimat efektif serta membentuk paragraf pendek dalam bahasa asing bersangkutan dengan sistematika menurut tata tulis bahasa tersebut, seperti menulis surat pribadi atau menuliskan pengalaman dan pelukisan sederhana.
  • Menguasai pengetahuan terapan yang memadai mengenai tata bunyi dan tata bahasa dari bahasa asing dimaksud.
  • Sedikit banyak mengenal kultur, tradisi serta budaya penutur bahasa asing dimaksud.

Jika sebuah klub atau forum bahasa dipandu oleh orang berkemampuan seperti itu, pembaca bisa dengan aman bergabung dalam klub tersebut untuk mempraktekkan dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing yang diinginkan.

Untuk menutup uraian mengenai kiat-kiat mujarab ini, penulis ingin mengingatkan pembaca dengan beberapa kalimat bijak.

  • Where there is a will, there is a way. (Dimana ada kemauan, disitu ada jalan)
  • Man jadda wajada. (Siapa yang bersungguh-sungguh mencari, pasti dia akan menemukan)
  • You can if you think you can. (Jika yakin mampu melakukan, pastilah Anda bisa)
  • Kesabaran itu seperti buah shabir yang pahit getir, namun hasil yang didapat terasa lebih manis dibandingkan dengan madu sekali pun.

Rabu, 28 Desember 2011

Bagian Ke-4 KIAT-KIAT MUJARRAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING

Prinsip Keempat:
KUASAI MESIN KALIMAT DAN MANFAATKAN KEMAMPUAN BERANALOGI

Sewaktu mobil masih diproduksi dengan mengandalkan keterampilan tangan, pembuatan sebuah mobil bisa memakan waktu sampai berbulan-bulan dan harganya pun menjulang tinggi sehingga tidak banyak orang yang mampu membelinya. Tetapi di era industri, penemuan mesin produksi memungkinkan industri mobil melakukan ‘mass production’ dan penjualan melompat tinggi karena harga mobil bisa dijangkau oleh masyarakat luas. Produksi batik cetak mampu menghasilkan berlembar-lembar kain batik dalam waktu singkat dan merambah segment pasar yang terus meluas.

Fakta di atas memberi kita pelajaran bahwa menggunakan ‘mesin’ dengan keterampilan yang memadai berpotensi menghasilkan ‘produk’ lebih banyak dalam waktu singkat, dengan kata lain mempercepat kegiatan produksi.

Demikian halnya dengan penguasaan mesin kalimat yang lebih dikenal dengan istilah ‘pola susunan kalimat’. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal rumus S/P/O/K. Dengan penguasaan pola ini seseorang dapat membuat puluhan, ratusan bahkan ribuan kalimat sesuai dengan maksud yang hendak dinyatakannya.

Tiap bahasa pasti memiliki ‘mesin’ kalimat. Ada yang serupa dengan bahasa Indonesia seperti bahasa Inggris contohnya dan ada juga yang berbeda seperti bahasa Jepang. Serupakah atau berlainankah mesin kalimat itu, tidak akan terlalu menjadi masalah dan kendala yang berarti bagi yang sungguh-sungguh mau memperhatikan. Otak kita sudah terlatih untuk mencari persamaan dan perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita lihat bagaimana mesin kalimat dapat menghasilkan begitu banyak kalimat. Kita ambil contoh pola: Subject + am/is/are + complement (pelengkap). Dalam tabel sederhana di bawah ini kita sudah dapat memproduksi 98 buah kalimat yang menyatakan maksud yang berbeda-beda. Belum lagi jika semua dirubah ke bentuk pertanyaan dan bentuk kalimat berita negatif. Oleh karena itu kuasailah mesin kalimat dalam bahasa asing yang sedang dipelajari.

 

Subyek
Predikat
I
am
Indonesian.
from Bandung.
in Jakarta.
here.
in the living-room.
old.
30 years old.

Anita
is
She
Satria
He
The television
It
Anita and I
are
Satria and I
Anita, Satria and I
We
You
Anita and Satria
They

Selasa, 27 Desember 2011

Bagian ke-3 KIAT-KIAT MUJARRAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING

Prinsip Ketiga:
MANJAKAN OTAK DENGAN CARA BELAJAR YANG DISUKAINYA

Para ahli memberi kita informasi yang sangat berguna tentang kecenderungan belahan otak kiri dan otak kanan dalam hal menyerap, memproses, menyimpan dan mengelola informasi. Otak kiri disebut sisi rasional, analisis serta kritis dan otak kanan dikatakan sebagai sisi kreatif-intuitif.

Sesuai dengan kecenderungannya terhadap hal-hal yang rasional, proses menganalisa dan mengkritisi sesuatu, maka dalam hal pembelajaran bahasa otak kiri menggemari pembelajaran yang tertata, runtut dan menantang ketajaman berpikir. Ia menyambut dengan baik pelatihan yang memiliki tujuan dan sasaran yang terarah, terencana langkah-langkahnya, dipaparkan indikator-indikator keberhasilannya dan dijelaskan pula bentuk evaluasinya. Sewaktu dalam proses pembelajaran, kegiatan problem solving, penjelasan gramatikal, perbandingkan struktur kalimat bahasa ibu dan bahasa asing sangat sesuai bagi otak kiri.

Adapun otak kanan yang lebih bersifat intuitif dan kreatif dapat dirangsang dengan irama (seperti alunan tilaawah Al-Qur’an dan jenis-jenis musik tertentu), ritme, gambar dan warna. Di samping itu akan lebih mudah bagi otak kanan untuk menyerap informasi jika dipaparkan gambaran umum mengenai pelatihan kepadanya. Ia juga amat menggemari kegiatan pembelajaran yang menggunakan teknik role-play, simulasi, project-work dan games. Ilustrasi seperti gambar (termasuk pelukisan ide dengan kosa-kata yang lebih spesifik), diagaram, tabel dan sejenisnya mendapat tempat yang istimewa di otak kanan.

Tentu saja secara fisik kedua belahan otak ini berhubungan satu sama lain dan dapat bekerjasama dengan harmonis. Semakin sering kedua belahan otak ini secara aktif dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran, semakin kompak keduanya saling menopang dan mendukung dalam penyerapan, penyimpanan dan pengelolaan informasi.


Contoh-contoh teknik-teknik pembelajaran bahasa asing yang melibatkan otak kiri dan otak kanan.

Contoh yang dikemukakan disini hanya pembelajaran bahasa Inggris. Pembaca dapat membuat kiasan terhadap pembelajaran bahasa asing lain.

  • Memadukan gerakan, aktivitas atau tindakan dengan bahasa lisan
Dalam Al-Qur’an yang Mulia terdapat sebuah ayat yang menerangkan cara berwudlu; “Jika kalian hendak melaksanakan shalat basuhlah muka (wajah) dan tangan kalian sampai sikut, usaplah kepala dan juga kaki hingga mata kaki..’. Ketika melaksanakan shalat seorang muslim mengucapkan do’a yang berbeda-beda. Sewatu hendak memulai  ia membaca ini, sewaktu ruku, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tawarruk, dan seterusnya ia membaca yang lain.

Kita bisa memanfaatkan teknik seperti di atas dalam mempelajari bahasa lisan agar cepat dapat menguasai. Umpamanya kita terapkan dalam kegiatan-kegiatan berikut:

Bagun tidur:
The alarm clock rings. Wake up. Open your eyes. Say “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’damaa amaatana wa ilahihin nusyuur”. Get out of bed. Go to the bathroom. Brush your teeth. Take an abultion. Wash your face. Wash your right hand to your elbow. Wash your left hand to your elbow. Wet your head. Wash both your feet to the ankles. Get out of the bathroom. Put on your saroong and your shirt. Spread the sajadah. Face qiblat and say the subuh prayer.

Menjerang air
Pour some water into the kettle. Put the kettle on the electric stove. Switch on the stove. Adjut the flame. Wait till the water boils.

Hendak pergi kerja dengan mobil.
Open the car door. Get into the car. Put the car key into the key hole. Turn right the key to start the engine and press the accelerator gently. Warm up the car. etc.

Dalam dunia pengajaran bahasa asing, penulis menemukan teknik-teknik yang serupa yang dikenal dengan nama TPR (Total Physical Response) dan Gouin’s Series serta Lazy Language Learning. Ketiga teknik tersebut – terutama TPR – mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat TEFL dunia karena terbukti sangat efektif. Murid-murid penulis sendiri lebih menyukai teknik TPR yang dipadukan dengan Gouin’s Series, karena dengan teknik tersebut mereka mampu menguasi puluhan kata dan ungkapan hanya dalam hitungan menit.

  • Mempelajari struktur kalimat (termasuk tenses) dari lirik lagu dan memberi tanda dengan warna
Kita ambil contoh lagu ‘The End of the World’ untuk mempelajari struktur kalimat dalam Present Tense. Kalimat-kalimat yang merupakan contoh bentuk tense tersebut diberi warna sebagai ‘highlight’. Tentu saja penandaan untuk mempertegas bisa dilakukan bukan hanya dengan warna, tetapi bisa dengan memberi gari bawah, memberi lingkaran, menandai dengan gambar dan sebagainya.

Why does the sun go on shining?
Why does the sea rush to shore?
Don’t they know it’s the end of the world?
Cause you don’t love me anymore

Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don’t they know it’s the end of the world?
It ended when I lost your love

*
I wake up in the morning and I wonder
Why everything’s the same as it was
I can’t understand, no I can’t understand
How life goes on the way it does

Why does my heart go on beating?
Why do these eyes of mine cry?
Don’t they know it’s the end of the world?
It ended when you said goodbye

Dengan menyanyikan lagu ‘the End of the World’, kita merasa terhibur dan dengan tanpa beban kita menghafal contoh pola-pola kalimat ‘Present Tense’.

Berikut ini beberapa lagu berbahasa Inggris yang dapat dimanfaatkan untuk memberi contoh-contoh struktur kalimat:

  • Will – untuk mengungkapkan kebulatan tekad dalam lagu ‘We will not go down (song for Gaza)’ oleh Michel Hart
  • Should/could have done – untuk mengungkapkan rasa sesal karena tidak melakukan hal2 yang sepatutnya dilakukan dalam lagu ‘Always on my mind’ oleh Willie Nelson
  • Simple Past Tense – untuk recounting dan narrating dalam lagu ‘Delilah’ oleh Tom Jones.
  • Memanfaatkan kamus bergambar untuk memperkaya kosa-kata
Banyak sekali kamus-kamus bergambar yang menyebar di pasaran, harganya pun rata-rata terjangkau. Upayakan memiliki kamus semacam ini, khususnya yang dilengkapi dengan cara membaca dan contoh penggunaan kata dalam kalimat.

Bagian ke-2 Kiat-Kiat Mujarrab Terampil Berbicara Bahasa Asing

Prinsip Kedua:
DAHULUKAN PEMAHAMAN SEBELUM MENIRU BUNYI DAN BERLATIH SPEAKING

Berlatih mengucapkan dengan nyaring tanpa memahami disebut membeo (parrot-fashion drill). Karena konon burung beo pandai menirukan tetapi tidak mengerti apa yang diucapkannya. Sebaliknya, upaya memahami biasa dinamakan ’comprehending’. Kata yang berasal dari satu akar dengan comprehending adalah comprehension (pemahaman). Kita sering menemui istilah Listening Comprehension dan Reading Comprehension dalam dunia pembelajaran bahasa asing.

Sekecil apapun, ‘parrot-fashion drill’ tetaplah bermanfaat, namun tentu akan sangat jauh lebih bermanfaat lagi jika dibarengi dengan pemahaman terhadap makna dan maksud yang dinyatakan. Orang menyanyikan lagu berbahasa Inggris dengan merdu tanpa mengerti isi liriknya. Yang bernyanyi dan yang mendengarkan tetap menjadi terhibur. Orang membaca Al-Qur’an dengan lantunan yang indah. Walaupun belum memahami benar maksud ayat-ayat yang dibacanya itu, si pembaca terhitung sudah melaksanakan ibadah dan sebagai bonusnya, hatinya menjadi tenteram, demikian pula bagi yang menyimaknya.

Andaikan yang menyanyikan lagu berbahasa Inggris memahami maksud liriknya, tentu ia akan mampu menyajikannya dengan lebih baik. Ia bisa menghayati lagu sepenuh perasaannya. Pendengar bisa ikut terhanyut karenanya. Sang penyanyi pun berpotensi menjadi penghibur kelas dunia – world-class entertainer. Di samping popularitas, tentu tuaian nafkah bisa semakin bernas.

Bila pembaca Al-Qur’an mengerti makna dan maksud ayat-ayat yang dilantunkannya, pasti hatinya bergetar, bulu kuduknya berdiri, merinding, lantas kesejukan menyusup, merambah ke relung hatinya. Ia bisa menangis, mungkin juga kalbunya mendadak ciut karena rasa takut yang sangat, dapat pula mulutnya tersenyum bahagia penuh harap. Para penyimak yang kerapkali lalai dan khilaf boleh jadi tergedor hatinya dan kesadarannya, sehingga mereka kembali ke jalan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Semakin banyaklah orang-orang yang shalih. Aman damailah masyarakat jadinya.

Betapa pemahaman terhadap sesuatu berpotensi membuahkan suatu perubahan yang amat besar. Seorang usahawan yang memahami minat dan kecenderungan pasar dapat meraup keuntungan yang berarti dari bisnisnya. Seorang karyawan di pabrik garmen dengan gaji satu sampai tiga juta bisa menghasilkan puluhan juta rupiah per bulannya karena pemahaman dan kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan buyer (pembeli). Dan karir Anda bisa melambung karena kompetensi bahasa asing yang dimiliki.

Langkah-langkah memahami bahasa lisan
  • Cari dan fahami arti kata dan ungkapan dalam materi listening yang hendak diserap. Upayakan memiliki teks tulis atau script dari bahan listening-nya. Bila video yang menjadi sumber listening yang disukai, usahakan film-filmnya dilengkapi dengan script dialog yang disebut ‘caption’. Arti kata-kata dan ungkapan bisa ditemui dalam kamus dwi-bahasa. Bisa juga meminta bantuan dari orang yang mengerti.
  • Perhatikan betul bentuk, pola atau struktur kalimatnya dan juga makna yang dinyatakan. Tanpa mengindahkan bentuk, pola atau struktur, pembelajar beresiko terkena fosilisasi, cepat atau lambat. Fosilisasi adalah suatu keadaan yang mandeg dan mati sehingga sangat sulit dikembangkan dan ditingkatkan.
  • Perhatikan baik-baik konteks kalimat yang digunakan, umpamanya siapa berbicara kepada siapa, tentang apa, apa yang dimaksudkan, dimana terjadi percakapannya, dan sebagainya. Seringkali hanya mengetahui arti tiap-tiap kata dari teks lisan saja belum cukup untuk mengerti maksud yang disampaikan.

Contoh:
Si A berkata: I can’t stand our boss anymore.
Stand = berdiri. Tapi maksud si A bukan tidak sanggup lagi mendirikan si boss, melainkan sudah tidak tahan lagi dengan si boss. Mungkin karena prilakunya, mungkin juga karena kebijakan yang diterapkan olehnya di perusahaan tempat si A bekerja.

Si B berkata: We’re going to Mecca next year and I can’t wait.
Wait = menunggu. Si B tidak bermaksud tak sudi menunggu pergi ke Mekah sampai tahun depan dan nekat hendak pergi sendirian, tetapi ia hanya menyatakan betapa ia sudah tidak sabar ingin segera pergi kesana.

Si C berkata: She’s living with her sister.
Live = tinggal. Perempuan itu tidak tinggal menetap di rumah saudaranya, ia hanya tinggal sementara alias menumpang disana.
  • Tidak ada salahnya mendengarkan sambil melihat dan membaca script-nya dalam hati dengan maksud agar cepat memahami. Yang penting bersabar dahulu untuk tidak tergesa-gesa mengucapkan dengan nyaring sebelum indra pendengaran dan otak menyimpannya dalam ingatan. Setelah faham, script ditutup, dan ulanglah kegiatan menyimak dengan konsentrasi pada pemahaman semata-mata.

Senin, 26 Desember 2011

KIAT-KIAT MUJARAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING


Seri Sahabat Karib Otak
Memperbaiki Kehidupan Ummat

Bagian ke-1
KIAT-KIAT MUJARAB TERAMPIL BERBICARA BAHASA ASING
Bimbingan Belajar Mandiri
Kertas Kerja IAS Siregar



Pembelajar bahasa asing di Indonesia umumnya menaruh minat yang sangat besar terhadap penguasaan bahasa lisan dari bahasa asing yang dipelajarinya. ‘Saya kepingin bisa bahasa Inggris,’ begitu sering kita dengar dari mulut mereka. Jika ditanya ’Apa yang kamu maksud dengan bisa?’, jawaban terbanyak menyatakan ’Kepingin bisa ngomong Inggris’. Sayangnya baik di bangku sekolah maupun di bangku kuliah dan juga di tempat-tempat kursus, mereka malah lebih sering berhadapan dengan atau disuguhi bahasa tulis.

Tidak ada yang mengingkari pentingnya dukungan teks tulis dalam pembelajaran bahasa asing mana pun. Namun lambang atau tulisan bahasa asing acapkali amat berlainan cara pegucapannya dengan cara membaca nyaring bahasa Indonesia tulis yang sehari-hari akrab digumuli oleh para pembelajar kita. Tulisan ‘JULIO dan HOLA’ dalam bahasa Spanyol tidak diucapkan Julio dan Hola, tetapi HULIO dan OLA. Dan pembelajar Indonesia yang belum pernah diberitahu cara membacanya tidak pelak lagi akan membaca kedua kata itu sesuai tulisannya yakni JULIO dan HOLA. Sesederhana seperti dalam bahasa Spanyol itu pun menimbulkan masalah bagi warga belajar kita. Apalagi jika mereka berhadapan dengan teks tertulis dalam bahasa Inggris yang kadang dibilang orang sebagai ’bahasa munafik’ – lain di bibir lain di tulisan. Kata ’book’ dan ’food’ dibaca ’buk’ dan ’fud’, tetapi kata ’door’ dan ’floor’ tidak diucapkan ’dur’ dan ’flur’ walaupun keempat kata itu sama-sama mengandung dua buah huruf vokal ’o’ (vokal rangkap ‘o’).

’Ah, itu kan masalah kecil,’ kata orang-orang tertentu yang menganggap remeh masalah.
Maklumi saja, karena mereka tidak tahu lubang kecil bisa menenggelamkan kapal yang besar, karena nila setitik rusak susu sebelanga dan sedikit noda di baju bisa membuat pemakainya kurang percaya diri.

Perlu disadari bahwa salah pengucapan dapat menyebabkan perbedaan maksud. Dalam bahasa Arab satu titik dapat menyatakan arti yang berbeda. Ungkapan ’auudzu billah’ dengan ’auudu billah’ amat jauh berbeda maksudnya. Perbedaan panjang dan pendek dalam pelafalan kata-kata bahasa Arab juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam bahasa Mandarin satu kata kedapatan memiliki empat nada pengucapan yang masing-masing mempengaruhi makna yang dimaksudkannya. Dalam bahasa Inggris terdapat kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama tetapi dapat memberi arti yang berlainan jika pengucapannya berbeda, contohnya kata ’envelop’ dan ’object’. Yang seperti itu tentu bukan termasuk masalah kecil.

Gara-gara keliru mengucapkan kata-kata yang tertulis dalam manuskrip tua, jutaan ummat manusia secara turun-temurun terjerembab dalam kesalahfahaman mengenai manual hidupnya dan semakin menjauh saja dari apa yang dicarinya selama ini. Itu bukan perkara kecil.



MEMPELAJARI BAHASA ASING SEBAGAI TANDA KETAATAN

Allah SWT menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain. Diantara yang perlu dikenali adalah kultur dan budaya, dan bahasa merupakan salah satu bagiannya. Bahasa juga merupakan salah satu tanda kebesaran, keagungan, kekuasaan dan rahmat Allah SWT. Mempelajarinya dengan niat ibadah, pastilah pahalanya pun tidak kecil. Tidak kalah gengsi dengan pengkajian tanda-tanda kekuasaanNYA yang lain.

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat, 49/13)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYA ialah penciptaan langit dan bumi dan beraneka-ragamnya bahasa kalian dan warna kulit kalian, sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui.” (QS. Ar Rum, 30/22)

“Bersungguh-sungguhlah kalian dalam mempelajari bahasa Arab, karena ia merupakan bagian dari agama kalian.” (Umar bin Khattab r.a.)

Dituturkan dalam sejarah Islam bahwa Rasulullah SAW mampu bercakap-cakap dengan beragam dialek. Bila Beliau SAW berbicara kepada suatu kaum, bahasa kaum itulah yang digunakannya. Catatan sejarah ini memberi kepastian bahwa Rasullullah SAW seorang multi-linguist. Bahkan Beliau SAW diceritakan pernah menyuruh salah seorang sahabatnya untuk mempelajari bahasa tulis kaum Yahudi (bahasa Ibrani tulis).


PRINSIP-PRINSIP MENGUASAI BAHASA LISAN

Prinsip Kesatu:
DILARANG KERAS TERGESA-GESA MENIRUKAN DAN MENGUCAPKAN BAHASA ASING

Seorang seniman besar pernah diminta berbicara di depan masyarakat berkebangsaan Rusia. Pidato tersebut memang diharapkan disampaikan dalam bahasa Inggris, namun demi membangun keakraban, seniman ini ingin menyelipkan beberapa paragraf berbahasa Rusia dalam pidatonya. Ia pun mengambil kursus privat kilat selama tiga hari. Dimintanya guru untuk menterjemahkan paragraf yang telah ditulis dan merekamkan cara membacanya. Pada waktu yang telah ditentukan sang seniman menyampaikan pidato dwi-bahasa tersebut dengan cukup lancar dan bahkan mendapat tepuk tangan yang meriah dari audiens. Seusai pidato atase kebudayaan Rusia menyalami sang seniman dan kesempatan itu tentu saja tidak disia-siakan oleh seniman itu untuk meminta tanggapan mengenai pidato yang disampaikannya dalam bahasa nasional sang atase. Yang mengejutkan, atase itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak memahami isi pidato tersebut, yang dimengertinya hanya bagian pidato yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan dia bilang sangat mengagumkan.

Kali lain seorang calon asisten manajer diberi peluang naik jabatan. Jika lolos seleksi ia akan dipindahkan ke toko yang lebih besar dan mewah. Di toko yang baru itu rata-rata pelanggannya berasal dari luar negeri. Oleh karena itu, salah satu syarat kenaikan jabatan adalah penguasaan bahasa Inggris. Calon manajer ini langsung membeli buku-buku pelajaran bahasa Inggris, membawanya kemana pun ia pergi dan bila ada kesempatan, isi buku-buku tersebut dibacanya dengan nyaring. Namun bunyi-bunyian yang keluar dari mulutnya seringkali membuat orang-orang di sekitar tersenyum simpul dan ada juga yang sampai tertawa terpingkal-pingkal.

Sewaktu masih berumur lima sampai sembilan tahun – kata ibu – penulis begitu tertarik dengan film-film kartun dan jenis-jenis film lain dari barat yang ditayangkang di TVRI. Tiap kali usai menyaksikan film, penulis sering membalelo sambil memerankan tokoh-tokoh tertentu dalam film itu. Bahasa yang diucapkan begitu asing – menurut keterangan ibu lagi – sehingga tidak ada satu orang pun yang mengerti maksudnya. Bahkan almarhum ayah yang menguasai lima bahasa asing dibuat KO, menyerah kalah karena tidak sanggup memahami ucapan-ucapan penulis.

Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama itulah penulis baru mengetahui bahwa bahasa yang ingin penulis tiru adalah bahasa Inggris. Mendapati pelajaran bahasa Inggris di sekolah, penulis sangat bersemangat ingin cepat-cepat mempraktekkan. Suatu ketika guru bahasa Inggris lewat. Segera penulis hampiri dan mengajaknya bercakap-cakap. Hasilnya Pak guru tertenyum simpul dan kejadian memalukan itu sering menjadi cerita lelucon untuk membuka pelajaran di kelas-kelas lain. Berbulan-bulan penulis menjadi obyek ledekan teman-teman satu sekolah.

Di Jakarta terdapat kursus bahasa Inggris besar yang telah memiliki cabang-cabang di berbagai tempat di JABODETABEK serta di kota-kota besar lain di wilayah Republik Indonesia. Salah satu kelebihan kursus ini adalah keberhasilannya dalam menanamkan mindset ’tidak takut salah’ di benak peserta kursus. Otoritas juga berhasil ’memaksa’ warga belajar untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, terutama selama berada di lembaga itu. Karena tertarik mencari tahu kiat-kiatnya, maka penulis mendaftar sebagai peserta. Di lingkungan itu memang para siswa benar-benar berkomunikasi dalam bahasa asing. Bahkan saking asingnya, seorang tamu native dari Autralia yang suatu hari bertandang ke tempat itu sampai-sampai mengernyitkan dahi, mencoba keras memahami apa yang dipercakapkan oleh para siswa namun akhirnya duduk lemas di kursi tamu dan berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. ”Which English are they speaking? (Bahasa Inggris mana yang mereka gunakan itu?)’ begitu tanggapannya.

Masih banyak cerita yang menuturkan tentang keberhasilan menguasai bahasa ’yang benar-benar asing’ (Awas! bukan bahasa asing yang penulis maksudkan) yang dapat dipaparkan di sini. Tetapi cerita-cerita di atas cukuplah kiranya mewakili, dan semuanya berujung pada kesimpulan yang sama, yaitu ketergesa-gesaan menirukan dan mengucapkan bahasa asing yang baru kita kenali malah berakibat kontra-produktif”.

Apa yang salah dari metode dan teknik belajar berbicara seperti ini? Bukankah lebih cepat, lebih baik? Bukankah ’practice makes perfect’?

Tidak ada yang salah dengan metode dan teknik tersebut di atas. Penyebab kegagalannya justru berada pada tahap sebelum ’practice’ atau tahap menjelang pelatihan.

Pembelajaran bahasa lisan berkaitan sangat erat dengan keterampilan menyimak (listening skills) dan penggunaan alat ucap. Di kelas-kelas bahasa asing, guru sering menggunakan teknik ’Listen dan Repeat’ (Dengarkan dan Tirukan). Dalam teknik ini siswa dituntut menirukan ucapan yang dicontohkan baik oleh guru ataupun oleh suara rekaman dari kaset/CD audio. Kata, frase, kalimat, bagian dialog atau wacana terlebih dahulu diucapkan satu kali, lalu semua warga belajar secara serentak menirukan.

Pada tahap ’oral practice’ (pelatihan lisan) dan ’oral production’ (penerapan bahasa yang baru dipelajari secara lisan), guru-guru kita – terutama guru-guru di tempat kursus – kadang-kadang menggunakan teknik drill, acting out dialogues, guided conversations (percakapan terbimbing), role-plays (main peran), games, simulations, dan lain-lain. Melalui teknik-teknik seperti ini warga belajar diminta berinteraksi satu sama lain untuk memperlancar bahasa yang dipelajarinya. Kalau di sekolah formal, para siswa biasanya disuruh membaca dialog atau kalimat-kalimat secara nyaring tanpa terlebih dahulu diberi contoh yang memadai dari model pengucapannya. Adakalanya mereka diberi tugas untuk menyajikan dialog atau monolog ciptaannya di depan kelas (lebih sering karya orang lain yang diaku-aku sebagai karangan sendiri).

Teknik-teknik pembelajaran seperti ini kentara benar kelemahannya, bahkan seringkali berakibat fatal bagi perkembangan belajar para siswa di kemudian hari. Demikian fakta yang ditemukan di lapangan. Sebabnya antara lain, dalam teknik ’listen and repeat’ sekali jalan semacam itu indra pendengaran siswa belum cukup dapat merekam model pengucapan secara utuh dan otaknya tidak diberi waktu yang mamadai untuk mengendapkan materi tersebut dalam ingatan jangka panjang (long term memory). Belum lagi materi pelajaran baru itu sempat tersimpan dalam pikiran bawah sadar, kegiatan interaksi sudah harus segera dilakukan oleh warga belajar. Di dalam kegiatan interaksi tersebut yang dominan terdengar adalah suara-suara dan pelafalan (pronunciation) kawan-kawan sekelas yang tentu saja belum dapat dipertanggunjawabkan kebenarannya: stress, rythm dan intonation-nya masih tidak karu-karuan. Walhasil, bisa ditebak, karena yang tersimpan dalam memorinya lebih banyak suara-suara dari kawan-kawan sekelasnya itu, maka sekalipun sudah bertahun-tahun belajar dan berlatih, pembelajar masih kesulitan menangkap dan memahami ucapan native speaker, masih tersendat-sendat ketika membaca nyaring dan masih setia dengan pelafalan yang belum acceptable sewaktu berbicara.

Oleh karena itu, jika ingin cepat bisa berbicara dalam bahasa asing serta memiliki fondasi yang kokoh dalam pengucapannya, teknik ’Listen and Repeat’ sebaiknya difahami sebagai ’Listen, listen, and listen, then repeat’ dalam penerapannya pada pembelajaran.

Sampai berapa kalikah ’listen’-nya?
Sampai ingatan dan pendengaran kita berhasil merekam dan kita mampu mengucapkan di dalam hati, persis seperti dalam materi listening itu – paling tidak mendekati modelnya. Ambil saja sebagai contoh menghafalkan sebuah lagu, mula-mula yang ditangkap adalah nada-nadanya (lagunya). Dengan itu saja orang sudah bisa bersenandung walau pun belum mengingat liriknya. Setelah pasti sampai ke tahap itu, barulah kita boleh berlatih sendiri membunyikan kata, frase, contoh kalimat atau model dialog. Hasilnya dijamin lebih mendekati kefasihan dan kebenaran alias bisa difahami dan diterima (acceptable) oleh penutur asli. Sebuah lirik lagu berirama dangdut yang dipopulerkan oleh Ike Nurjannah menyatakan ’Masih terngiang di telingaku bisik cintamu’. Ya, tepat sekali, sampai terngiang-ngiang di telinga; bagaimana bunyinya, tekanan dan ritmenya serta intonasinya.

Kiranya motto ’Listening before Speaking’ masih tetap relevan. Sepertinya aksioma mendiang L.G. Alexandar ’nothing should be spoken before it’s been heard’ masih berlaku’. Paling tidak pada tahap-tahap awal pembelajaran bahasa asing.

Barangkali untuk alasan seperti itu pula Rasulullah SAW dilarang tergesa-gesa mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya sebagaimana diabadikan dalam surat Al-Qiyamah ayat 16 – 17:

“Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (melantunkan) Al-Qur’an karena hendak tergesa-gesa (menguasai). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pengumpulannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”


Langkah-langkah Melatih Keterampilan Menyimak
  • Biarkan indra pendengaran terlebih dahulu berkenalan dengan pola umum bunyi, ritme dan intonasi dari bahasa asing yang ingin dipelajari. Caranya ialah dengan mendengarkan dialog atau siaran berita dalam bahasa tersebut atau bisa juga menyaksikan film. Tidak perlu memahami maknanya, yang penting pada tahap ini indra pendengaran diarahkan untuk ’menangkap’ pola umum bahasa lisan dari bahasa itu.
  • Upayakan memiliki materi listening yang banyak entah berupa kaset pelajaran, cd audio, film/video, iPod, lagu-lagu dan bahan audio lainnya.
  • Sering-seringlah melakukan kegiatan menyimak pasif sambil melakukan kegiatan lain. Umpamanya mendengarkan sambil memasak, menyetrika, menikmati hidangan, mengetik, atau sambil rebahan menjelang tidur. Tidak perlu selalu mencari waktu-waktu yang sunyi untuk mengkonsentrasikan diri pada kegiatan listening pasif atau berupaya menghalang-halangi suara-suara lain menyela kegiatan simak tersebut. Selama tidak benar-benar mengganggu atau menutupi suara yang sedang kita dengarkan, biarkan saja agar telinga terbiasa dan bahkan lebih tajam. Percayalah indra pendengaran dan otak kita cukup dan bahkan sangat cerdas untuk memilah dan memilih beragam suara yang didengarnya. Buktinya kita mampu mengidentifikasi ’itu suara mobil tetangga, itu suara langkah kaki teman kita, itu suara gelas pecah, itu suara sirine mobil pemadam kebakaran, itu suara tanda sms masuk, itu suara panggilan masuk ke handphone boss, dll.
  • Bila hendak mempelajari model pengucapan, berikan waktu yang cukup kepada indra pendengaran untuk merekamnya dan kegiatan ini sebaiknya dipadukan dengan upaya pemahaman.

Kamis, 22 Desember 2011

Teknik Mengajar Listening yang Menopang Kemampuan Speaking

Kemarin sudah kita diskusikan kelemahan teknik ‘Listen and Repeat’. Sekarang mari sedikit kita bahas mengenai teknik mengajar listening yang terbukti efektif serta dapat menjadi penopang kemampuan speaking yang mantap.

Anda mungkin pernah mendengar Ike Nurjannah menyanyikan lagu terlena. Ada baiknya saya tulis lirik bait pertama dari lagi itu:

Masih terngiang di telingaku bisik cintamu.
Betapa lembut dan mesranya aku terlena..

Lagu ini mengingatkan kita bahwa listening yang akan menghantarkan siswa ke speaking harus seperti lagu itu, yakni hingga materi listening terngiang-ngiang di teling:a: suaranya, tekanannya, ritmenya dan lagu kalimat atau intonasinya. Dengan kata lain indra pendengaran harus diberi waktu untuk merekam bunyi-bunyian tersebut dan tidak memaksa para siswa untuk tergesa-gesa menirikan pengucapannya.

Barangkali untuk alasa itu pulalah Rasulullah SAW dilarang keras tergesa-gesa menirukan wahyu yang disampaikan kepadanya secara lisan. Beliau haru melewati ‘silent period’ untuk menyimak secara keseluruhan dan hanya boleh mengikuti dalam hati. Setelah mantap terekam barulah diperkenankan melafalkannya. (Lihat surat Al-Qiyamah).

Jadi kelemahan teknik Listen and Repeat bisa diatasi dengan cara memahami ungkapan ini sebagai ‘listen, listen, listen…. then repeat. Sampai berapa kali listennya? Sampai indra pendengaran mampu merekamnya dengan baik.

Rabu, 21 Desember 2011

Bahaya Teknik ‘Listen and Repeat’

Teknik mengajar Listen and Repeat atau dengar dan tirukan biasanya digunakan oleh guru bahasa asing untuk melatih siswa dalam keterampilan berbicara. Guru umumnya mengucapkan kata, ungkapan atau kalimat satu kali lalu meminta siswa menirukannya. Teknik ini terbukti kontra-produktif dan malah mengganggu perkembangan keterampilan speaking siswa dikemudian hari. Alasannya sederhana saja yakni siswa dipaksa berbicara sebelum waktunya atau sebelum mereka siap. Akibat lebih jauh, siswa tidak akan mampu bercakapa-cakap dengan baik.

Dalam teknik listen and repeat, suara yang lebih dominan terdengar oleh siswa adalah suaranya sendiri dan suara kawan-kawanya yang masih rancu. Suara yang masih rancu ini kemudian terekam dalam memori jangka pendek dan jangka panjang serta tersimpan seumur hidupnya. Maka tidaklah mengherankan jika setelah sekian tahun belajar bahasa asing, siswa masih belum dapat memahami bahasa lisan native speaker.

Bahaya yang serupa terdapat pula dalam pelajaran conversation yang terlalu dini.

Senin, 19 Desember 2011

Kesan Diskriminasi dari ESOL

Telinga kita sudah akrab dengan istilah bahasa Inggris bagi penutur asing (English for speaker of other language. ESOL).. Ada kesan diskriminatif yang mau tidak mau muncul dari istilah ESOL ini. Seolah-olah bahasa Inggris dijadikan berkasta-kasta, yang satu exclusive bagi penutur asli (native speaker), yang satu lagi buat bangsa lain. ESOL selalu disajikan lebih dipermudah dibandingkan dengan pelajaran bagi native, terutama dari sisi pemilihan kosa-kata dan ungkapan. Sebahagian pakar berpendapat bahwa kesengajaan ini bertolak dari anggapan bahwa non-native tidak akan mampu memahami “kosa kata kelas atas itu”. Merendahkan bangsa lain rupanya.

Tujuan awalnya boleh jadi sangat baik yaitu, agar pembelajar non-native tidak menemui kesulitan berarti dalam ‘penguasaan’ bahasa itu. Sayangnya praktisi ESOL malah terus-menerus terjebak dalam mindset seperti itu dan tidak mampu keluar untuk menghantarkan pembelajar ke penguasaan bahasa seperti penutur aslinya sebagaimna dicantukan dalam tujuan pembelajaran. Dengan istilah lain mereka gatot, baik guru native terlatih, guru native karbitan dan gadungan maupun guru-guru non-native. Untuk menutupi rasa malu atas ketidakmampuan ini, digunakanlah istilah bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Entah apa maksudnya, padahal penutur bahasa Cina dan Spanyol jumlahnya melebihi penutur bahasa Inggris. Barangkali faktor tidak mau kalah, keserakahan dan haus kekuasaan yang menjadi pendorongnya.

Kalau mau jujur, penyebab kegagalan adalah mindset yang diskriminatif dan dikotomi itu. Kenapa tidak memperlakukan manusia sebagai manusia yang sama. Otak bangsa lain belum tentu kalah cerdas dibanding dengan otak native. Otak orang Asia jauh lebih cerdas tinimbang otak orang Eropa dan Amerika. Begitu penelitian menjelaskan. Toh faktanya banyak sekali bangsa lain yang mampu mengungguli atau paling tidak sejajar dalam hal kompetensi berbahasa dengan para native itu. Apalagi di era informasi sekarang ini.

Bangsa Indonesia juga tidak kalah pilon alias dungu. Sebahagian besar masyarakat hingga kini menganggap manusia berkulit bule sebagai native. Tidak jadi soal apakah mereka berasal dari Prancis, Jerman atau negara lain. Asalakan bule, pastilah memiliki kemampuan seperti native, dalam benak bangsa ini. Masa bodoh juga jika keterampilan berbahasa Inggris mereka jauh di bawah keterampilan berbahasa Inggris bangsa sendiri. Bahkan ada yang jauh lebih parah, orang Pilipina dan Thailand pun dianggap sebagai native. Sementara Desi Anwar yang berkulit langsat dan jelas-jelas memilki kompetensi berbahasa seperti native tidak pernah dinobatkan sebagai native speaker.

Adalah mendiang A.S. Hornby, pengarang kamus-kamus OXFORD yang terkenal itu, yang berani menentang arus. Ia menganggap orang yang memiliki kompetensi berbahasa seperti native adalah native speaker. Tidak perduli dia berasal dari negara mana dan kulitnya berwarna apa.

Jika ingin sukses mengajarkan bahasa, sajikanlah fakta bahasa seperti apa adanya. Bahasa native speaker tentu bersifat idiomatis. ESOL baik saja diajarkan demi keperluan pembelajaran dan kemudahan. Namun cepat-cepat keluar dari sana dan bawa para siswa kita ke bahasa seperti digunakan oleh penuturnya. Tidak perlu mengajarkan ‘I am touching my nose’ yang tidak akan pernah digunakan pembelajar seumur hidupnya, sekalipun itu penutur asli – demikian kata mendiang L.G. Alexander dalam ceramahnya.

Bahasa Inggris saya dan Anda memang belum sebagus bahasa guru-guru native. Tetapi kita tidak boleh kalah dalam hal metodologi dan teknik pengajaran dan pembelajaran. Kita sudah menjadi bukti kesuksesan pembelajaran. Buktinya kita mampu berbahasa asing dan akan terus meningkatkan kemampuan itu sampai mengalahakan native kalau mungkin.

Ciri khas siswa-siswa yang diajar oleh guru native terlatih atau oleh guru yang memiliki kompetensi seperti native adalah kemahiran mereka menggunakan ungkapan idiomatic seperti I’m all ears; take it easy, serve him right, never mind, shake you leg, dsb. Begitu kata A.S. Hornby.

Minggu, 02 Oktober 2011

TYSTOCOM

STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA ASING BERDASARKAN PESAN AYAT QUR’AN DAN HADITS



PENGANTAR

Orang dewasa, terutama para karyawan atau pegawai, seringkali kesulitan meluangkan waktu untuk mengikuti kelas bahasa asing yang jadwalnya ditetapkan dengan ketat. Tugas-tugas penting dari kantor adakalanya muncul secara dadakan bertepatan dengan jadwal belajar di kelas, sehingga pembelajaran terpaksa harus ditinggalkan, mengingat pekerjaan di depan mata jauh lebih penting. Akibatnya, pelajaran terlewatkan. Ketika masuk kelas lagi pembelajar dewasa kebingungan mengikuti pokok bahasan baru. Sekali dua kali mungkin tidak terlalu menjadi masalah, tetapi jika berulang kali tentulah akan mengakibatkan surutnya minat belajar dalam diri peserta didik. Lebih jauh lagi hal ini menyebabkan kerugian, baik bagi perusahaan yang telah membayar maupun bagi peserta didik sendiri.

Bagi pembelajar dewasa, pekerjaan merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar-tawar, namun di sisi lain penguasaan bahasa asing juga sangat penting untuk menopang pekerjaan dan karirnya. Untuk mempertemukan dua kepentingan di atas, TYSTOCOM (Teach YourSelf to Communicate) dirancang.

TYSTOCOM merupakan Metode dan Teknik Pembelajaran Bahasa Asing Berbasis Pesan Al-Qur’an dan Hadits.

Sesuai namanya, TYSTOCOM membina dan membimbing peserta didik menjadi pembelajar bahasa asing yang mandiri. Oleh karena itu, pelatihan yang ditawarkan tidak hanya meliputi penguasaan metode dan teknik belajar mandiri, tetapi ditambah dengan materi ajar yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai serta dukungan kegiatan language gym yang dirancang sebagai wahana bagi peserta didik untuk mempraktekkan, mengasah dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan bahasa asing yang sedang dipelajari.


LATAR BELAKANG

Banyak terdapat ayat AlQu’ran dan hadits yang menyinggung tema pembelajaran dan psikologi pendidikan. Ada ayat yang begitu jelas mengupas proses belajar mengajar, seperti contoh kisah pendidikan Adam a.s. untuk mengemban amanat khilafah di bumi. Ada juga hadits-hadits yang menekankan pentingnya menyesuaikan isi dan cara berkomunikasi dengan frame of reference lawan bicara. Selain itu terdapat pula ayat dan hadits yang membahas tentang memori, persepsi, teknik-teknik pembelajaran yang efektif dan sebagainya.

AlQur’an dan Hadits merupakan panduan hidup. Kaum muslimin meyakini sepenuh hati bahwa tidak ada yang lebih mengetahui hakikat manusia dan alam semesta melebihi Penciptanya, yaitu Allah SWT. Oleh sebab itu, AlQur’an dan Hadits dijadikan sebagai rujukan dan tolok ukur utama. Seperti dipraktekkan oleh para pendahulu. Hasilnya adalah sebuah peradaban yang mampu menyinari seluruh dunia selama berabad-abad.

Dari sisi pembelajaran bahasa, catatan sejarah mengabadikan fakta bahwa dengan kehadiran AlQur’an dan pengutusan Muhammad Rasulullah SAW, kompetensi berbahasa kaum muslimin, khususnya para sahabat, tabi’in serta para cendekiawan muslim, meningkat dengan amat sangat pesat dalam waktu yang terhitung singkat.


PAKET PELATIHAN

TYSTOCOM berupaya menerapkan ayat-ayat dan hadits-hadits sejenis itu dalam paket program pembelajaran bahasa asing di bawah ini:

ü           TYSTOCOM-Speaking
ü           TYSTOCOM-Public Speaking
ü           TYSTOCOM-Language Gym
ü           TYSTOCOM-Mastering English Tenses
ü           TYSTOCOM-Writing
ü           TYSTOCOM-Skills for Life
ü           TYSTOCOM-Teacher Training


 
PAKET PROGRAM LAIN

ü           LIVING ENGLISH MILIEU
Program ini dirancang khusus untuk menciptakan lingkungan dan suasana kerja / lembaga menjadi zona komunikasi bahasa asing dimana semua orang berkepentingan mampu dan hanya berkomunikasi dalam bahasa asing tersebut dalam kesehariannya.


ü           HYPNOCATIVE SERIES
Hypnocative merupakan pelatihan aplikasi teknologi hypnosis dan NLP untuk pembelajaran bahasa asing.

Seri pelatihan yang tersedia saat ini adalah:
1.           Hypnocative Speech: untuk penguasaan bahasa lisan
2.           Hypnocative Public Speaking: untuk keterampilan berpidato
3.           Hypnocative Presentation: untuk kecakapan melakukan presentasi
4.           Teaching Through Hypnocative Methods: untuk mengajar bahasa asing dengan methodology hypnocative